Frequently asked questions
Here are some common questions LDTQN.
“Tashawuf adalah sucinya hati untuk tidak tunduk
kepada makhluk, meninggalkan akhlak tercela dan padamnya tabiat manusia yang
tercela, menjauhi godaan nafsu, meraih sifat-sifat ruhani, bergantung kepada
ilmu hakekat serta mengikuti syariat Rasulullah SAW”.
Secara bahasa thariqah adalah kayfiyah yaitu cara/metode atau jalan melakukan sesuatu. Contoh Thariqah Ta’allum berarti cara belajar dan Thariqah Dzikir berarti cara dalam berdzikir
Secara istilah thariqah adalah jalan khusus bagi salik (orang yang berjalan) menuju Allah dengan memutus sifat-sifat yang hina, dan berusaha untuk maqm sifat yang lebih tinggi. (Al Ta’rifat:160)
Apa Kreterianya?
Sebuah tarekat sekurang-kurangnya memiliki enam komponen: mursyid, murîd, wirid, adab, silsilah, dan tempat.
Pertama, mursyid adalah guru pembimbing ruhani yang berhak memberikan talqin zikir kepada calon murid. Seorang mursyid adalah dokter ruhani yang mengetahui berbagai penyakit hati (amrâdl al-qulûb), dan dengan seizin Allah dapat menyembuhkan dan menyempurnakannya. Kedua, murîd memiliki dua pengertian. Pertama, secara bahasa perkataan murîd melalui pola tasrîf berasal dari kata kerja arâda, yurîdu, irâdah, sehingga terbentuklah perkataan murîd yang berarti orang yang menginginkan atau menghendaki sesuatu. Murîd dalam tarekat adalah orang yang menginginkan atau menghendaki kesembuhan ruhaninya dari berbagai penyakit hati serta meraih rido Allah melalui bimbingan seorang mursyid.
Kedua, murîd sudah menjadi kosa kata Bahasa Indonesia yang berarti peserta didik.
Ketiga, wirid. Secara bahasa perkataan wirid berasal dari kata kerja warada, yaridu, wurûd yang berarti datang atau dilakukan secara berualang-ulang. Perkataan wirid memiliki konotasi negatif maupun positif. Jadi wirid zikir berarti zikir yang dilakukan secara berulang-ulang, sedangkan wirid rumpi berarti merumpi yang dilakukan secara berulang-ulang. Di dalam dunia tarekat, yang dimaksud dengan wirid adalah zikir yang harus dilakukan oleh seorang murid secara berulang-ulang berupa wirid harian, mingguan, atau bulanan; baik secara perorangan maupun secara berjama‘ah di bawah bimbingan seorang mursyid atau yang mewakilinya.
Keempat, adab. Adapun yang dimaksud dengan adab adalah etika, etiket, atau tata tertib yang mengatur hubungan antara guru dengan murid pada satu sisi, serta hubungan antara murid dengan murid pada sisi yang lain. Konsep ikhwân dalam dunia tarekat erat hubungannya dengan konsep murîd. Dalam sebuah tarekat istilah ikhwân berarti persaudaraan ruhani di antara para murid tarekat. Mereka adalah orang orang yang menginginkan atau menghendaki kesembuhan ruhani dari berbagai penyakit hati serta meraih rido Allah melalui bimbingan seorang mursyid. Maka, harus ada adab yang menjadi acuan standar perilaku di antara para murid tarekat, serta di antara para murid tarekat dengan mursyid (guru pembimbing). Adab ikhwan dengan ikhwan atau murid dengan murid mempunyai tiga tujuan. Pertama, persaudaraan ruhani di antara mereka terjalin dengan baik. Kedua, tujuan utama para murid tarekat, yakni kesembuhan ruhani dari berbagai penyakit hati tercapai dengan baik. Ketiga, harapan untuk meraih rido Allah tercapai dengan baik.
Kelima, silsilah. Secara bahasa perkataan silsilah berarti rantai atau mata rantai penghubung. Adapun yang dimaksud dengan silsilah dalam dunia tarekat adalah mata rantai yang menghubungkan antara seorang mursyid dengan mursyid sebelumnya, secara sambung menyambung hingga sampai kepada Rasulullah saw. Silsilah di dalam tarekat sama dengan sanad di dalam hadits. Di dalam hadits kesinambungan sanad menjadi syarat kesahihan hadits. Di dalam tarekat kesinambungan silsilah menjadi syarat bahwa tarekat itu mu‘tabarah (memiliki keabsahan). Di dalam hadits ada hadits sahih ada hadits dha‘îf (lemah). Di dunia tarekat, ada tarekat mu‘tabarah dan ada tarekat yang tidak mu‘tabarah atau ghayr mu‘tabarah.
Keenam, tempat. Adapun yang dimaksud dengan tempat sebagai salah satu komponen tarekat adalah tempat para ikhwan bertemu dengan mursyid untuk bersama-sama melakukan ritual tarekat, seperti zikir harian, wirid khataman (mingguan), atau manakiban (bulanan). (Dr. Asep Usman Ismail, Tasawuf. Sedang dicari bukunya)
Syeikh Mursyid berpendapat, bahwa memang ada beberapa manusia pilihan yang dapat wushul (sampai) menuju Allah tanpa melalui proses bimbingan guru, tetapi yang seperti ini sangatlah jarang seperti Ibrahim as, Muhammad saw dan Uways al Qorni.
Syeikh Mursyid berpendapat bahwa jalan menuju Allah adalah dengan cara dzahir dan bathin. Kebanyakan manusia lebih mengenal hal-hal yang bersifat dzahir ketimbang bathin yang tantangannya adalah lupa, hawa nafsu, setan dan lainnya. Nah kalau memang demikian dapat dibayangkan betapa sulitnya jika jalan tashawuf dilakukan tanpa thariqah dan bimbingan mursyid yang kamil. Dan telah kita ketahui, bahwa banyaknya penyelewengan hal-hal yang bersifat bathin disebabkan karena mereka belajar tanpa bimbingan Mursyid, pewaris Rasul yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Syeikh mursyid berpendapat bahwa:
“Siapa yang ingin menempuh jalan sufi tanpa imam yang ‘arif billah, maka ia akan tersesat di langkah awal. Cukuplah merujuk kemuliaan contoh bagi kaum sufi bahwa Nabi Musa AS meskipun ia seorang Rasul Ulul ‘Azmi, tetapi ia tetap belajar kepada Khidir AS.
“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepada rusyd (ilmu yang benar) diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”. [Al Kahfi 18:66]
Langkah pendahuluan untuk memasuki gerbang thariqah, adalah mengikuti proses talqin. Talqin secara bahasa adalah “pembelajaran” maksudnya adalah tuntunan dan pembelajaran untuk membaca Laa ilaaha illallah yang berfungsi untuk menjauhi lalai dan menghalau godaan setan. Dalam talqin juga diajarkan tata cara pelaksanaan melakukan dzikir jahr dan khofi. Talqin ini dilakukan oleh guru mursyid atau oleh beberapa muridnya yang telah diberikan wewenang untuk mewakilinya yang disebut dengan wakil talqin.
Sebelum proses talqin, harus dipastikan bahwa orang tersebut muslim, baligh dan suci dari hadats (berwudhu). Tentang apakah talqin memiliki dasar hukum dalam as Sunnah telah dijelaskan pada bab talqin.
Talqin merupakan sesuatu yang wajib untuk dilakukan sebagai pendahuluan, karena itu kami menyarankan sesudah talqin atau sebelumnya seseorang perlu mendapatkan informasi yang memadai dan benar baik secara langsung kepada para muballigh TQN, maupun melalui alat-alat bantu seperti cd taushiyah para muballigh, kajian kitab Miftahus Shudur, kursus-kursus tashawuf TQN yang sering dilaksanakan oleh Korwil TQN Jakarta atau juga … dengan membaca buku ini. Kemudian setelah mendapatkan talqin, amalkan… ikuti pertemuan seperti khataman dan manakiban, maka anda akan mendapat keyakinan yang lebih..
Dengan mengikuti thariqah dan halaqah dzikir tentunya kita lebih termotivasi dalam meningkatkan kebaikan. Ibadah berjamaah lebih baik daripada sendiri. Seperti halnya dzikrullah secara berjamaah akan menambah pahala dibanding jika dilakukan dengan sendirian.
Dalam Miftahus Shudur dan Jami’ Ushul fi al-Awliya disebutkan bahwa manfaat berthariqat dengan mendapatkan talqin dari Mursyid yang kamil adalah sebagai berikut:
1. Tabarruk (mengambil keberkahan)
2. Mahsubiyah (ingin diakui sebagai murid)
3. Mengusir sifat lalainya hati dengan dzikrullah
4. Meleburkan dosa dengan taubat
5. Selamat dari petaka dan musibah
6. Hati lebih bersih dan tentram
7. Hati khusyu dalam ibadah
8. Mengisi hidup dengan nilai ukhrowi
9. Murid diharapkan secara bertahap menuju maqam taubat dan seterusnya. (Jami’ Ushul fi al Awliya:264).
Siapa saja asalkan muslim dan baligh dapat mengamalkan thariqah ini. TQN dapat diikuti oleh semua lapisan dan kalangan masyarakat tanpa melihat batasan usia 40 tahun, ilmu syariat tertentu atau menjalankan ritual tertentu. Syeikh berkata,”Bahwa talqin dzikir untuk sebagian masyarakat yang memiliki jabatan, kehormatan dan profesi merupakan ketetapan di kalangan salaf dan para mujtahid thariqah secara tabarruk (mengambil keberkahan) dan mengharap pengakuan sebagai murid oleh Mursyid, bukan untuk tujuan suluk atau pendidikan khusus, karena jangan sampai mereka meninggalkan godaan dunia, jabatan dan bermegah dalam pakaian dan tempat tidur dengan hati terpaksa
Kegiatan pokok dalam pengamalan tashawuf dan thariqah terfokus pada tiga kegiatan:
Bagian Pertama Tazkiyatu al-Nafs : Membersihkan diri kita dari dosa besar maupun dosa kecil, serta membersihkan diri kita dari berbagai penyakit hati dan sifat-sifat tercela
Dalam melakukan program Tazkiyah mencakup beberapa hal yaitu:
Al-Ibadat Yakni melakukan ibadah secara istiqamah-mudawamah (konsisten dan berkesinambungan baik yang wajib maupun yang Sunnah
Al-Mujahadah perjuangan untuk melawan berbagai dorongan nafsu dan bisikan syetan
Al-riyadhoh yaitu latihan-latihan keruhaniaan
Mengorientasikan diri bahwa hidup ini semata-mata untuk Allah.
Bagian Kedua Taqarub Ila Allah (Memberikan perhatian serius kepada usaha-usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah)
Bagian
Ketiga Hudlur al-qlb ma’a Allah Yaitu
memfokuskan diri pada usaha-usaha untuk merasakan kehadiran Allah dan
melihat-Nya dengan mata hati; bahkan merasakan persatuan dengan Allah
Kalau yang dimaksud anda dengan tasawuf adalah
kelompok dzikir dengan nama thariqat tertentu seperti pada zaman ini, memang
belum ada, tetapi inti dari tasawuf yaitu akhlak justru menjadi tujuan utama
Rasul diutus. Jadi tashawuf secara esensi telah ada, bahkan sejak nabi Adam as
diciptakan, akhlak karimah telah ada. Jadi masalah ini hanyalah sebatas pada
kapan munculnya istilah tashawuf. Dalam disiplin ilmu keislaman, masih banyak
istilah–istilah yang tidak muncul di zaman Rasulullah saw tetapi dimunculkan oleh
ulama setelahnya seperti istilah ilmu ushul fiqih, ilmu hadits, hadits shahih,
dloif dan lain-lain