Ziarah Wali Songo ke-5
Wisata Memorable Yang Mendamaikan Batin
Menembus Langit Suryalaya (MLS) kembali menyelenggarakan Ziarah Sufi Wali Songo untuk kelima kalinya, yang berlangsung sejak 15 Januari hingga 20 Januari 2026. Perjalanan diawali dari TQN Center Jakarta, pada Kamis malam (15/01), 88 peserta ikhwan dan akhwat dibagi menjadi dua bus.
Ziarah ini dimulai dari Sunan Gunung Jati Cirebon, Syekh Tholhah Kalisapu Cirebon, Masjid Agung Demak dan makam Sultan Demak, Sunan Kalijaga (Demak), Sunan Kudus, Sunan Muria (Kudus), Sunan Bonang (Tuban), Sunan Drajat (Lamongan), Sunan Gresik, Sunan Ampel (Surabaya), Syekh Kholil Bangkalan (Madura), Yogyakarta, hingga berakhir di Pesantren Suryalaya, ziarah ke maqam Syekh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad dan Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (Tasikmalaya).
Ziarah Wali Songo bukan sekadar mengunjungi dan menapaktilasi para wali penyebar dakwah Islam di Pulau Jawa. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian dari proses pendampingan dan penguatan ruhani bagi ikhwan dan akhwat TQN Pontren Suryalaya, sekaligus menjadi sarana pembelajaran dzikir bagi mereka yang belum menerima talqin dzikir.
Sebagaimana yang dialami Ustadz Mushadi Sumaryanto, pemilik sekaligus pengajar TPA Tahfizh di Bekasi Utara. Beliau sebelumnya merupakan kader Ikhwanul Muslimin, bahkan termasuk sosok yang tidak menyukai ziarah kubur. Pengalaman ziarah baginya hanya pernah dilakukan sekali, itu pun saat masih kecil.
“Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah ﷻ telah diberi kesempatan mengikuti Ziarah Sufi Wali Songo yang diselenggarakan oleh MLS (Menembus Langit Suryalaya) ke-5, di bawah naungan LDTQN, dengan pimpinan dan bimbingan KH. Abdul Lathif, KH. Andika Darmawan, dan KH. Fery Junaidi.”
Terus terang, ini adalah pengalaman spiritual paling dalam dan paling damai yang pernah saya rasakan sepanjang hidup. Perjalanan ini bukan sekadar ziarah dari satu maqam ke maqam lainnya, tetapi benar-benar sebuah perjalanan ruhani—perjalanan hati, jiwa, dan kesadaran menuju Allah ﷻ.
Di setiap langkah ziarah, saya seperti diajak menyelami lautan makna kalimat “Laa ilaaha illallah”. Bukan hanya di lisan, tetapi benar-benar meresap ke dalam dada.
Ada saat-saat di mana air mata mengalir tanpa bisa dibendung. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa nikmat, haru, dan cinta kepada Allah yang begitu kuat. Rasanya… MasyaaAllaah… MasyaaAllaah… sungguh sulit digambarkan dengan kata-kata.
Hati terasa sangat tenang. Pikiran yang biasanya penuh hiruk-pikuk mendadak hening. Ini adalah ketenangan yang seumur hidup baru kali ini saya rasakan sedalam ini.
Namun, pengalaman sedalam itu jujur saya tidak rasakan sejak awal perjalanan.
Sebelum mengikuti ziarah ini, batin dan pikiran saya dipenuhi perdebatan dan keraguan. Ada pertanyaan-pertanyaan yang cukup mengganggu dalam diri saya, seperti:
“Sebenarnya thariqah ini shahih atau tidak?”
“Mengapa dalil-dalilnya tidak semuanya saya temukan secara eksplisit dalam nash hadis-hadis shahih, termasuk kisah Tuan Syekh Abdul Qadir yang dibacakan dalam manaqib?”
Pergulatan itu nyata, bahkan sempat membuat hati maju-mundur. Namun akhirnya saya memilih satu sikap sederhana:
“Ikuti saja dulu sampai akhir… bismillah.”
Bukan dengan menutup akal, tetapi dengan membuka hati dan menjaga adab.
Sejak awal perjalanan—di makam Sunan Gunung Jati, Syekh Tholhah, hingga Raden Fatah di Demak—saya belum mendapatkan “rasa” itu. Baru ketika berada di makam Sunan Kalijaga, setelah teringat kembali materi dan nasihat dari Ustadz Andika dan Ustadz Abdul Lathif selama perjalanan di Bus 2, saya akhirnya memilih untuk menolkan diri, menundukkan hati, dan menerima nasihat para guru.
Saat masuk ke makam Sunan Kalijaga, saya mengucapkan salam:
“Assalaamu‘alaikum ya Waliyallah Sunan Kalijaga, ini saya muridnya Abah Anom.”
MasyaaAllaah… tiba-tiba nyesss—air mata langsung mengalir tanpa bisa dibendung, padahal saya belum membaca tawassul atau Al-Fatihah. Allahu Akbar…
Di situlah saya sadar, ketika hati sudah menerima dan tunduk, Allah menjawab semua keraguan saya bukan dengan debat, melainkan dengan rasa. Bukan dengan argumen panjang, tetapi dengan pengalaman ruhani yang nyata.
Sepanjang perjalanan, satu demi satu jawaban Allah hadir dengan sendirinya.
Dan puncaknya adalah ketika ziarah ke makam Pangersa Abah Sepuh dan Pangersa Abah Anom di Puncak Suryalaya. Allahu Akbar.
Rasanya berlipat-lipat dari sebelumnya. Ada getaran yang sulit dijelaskan: rasa tunduk, rasa kecil, rasa rindu, dan keinginan untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah ﷻ. Hati ini seakan dibersihkan, dilapangkan, dan dipeluk dengan kasih sayang Ilahi.
Saya bersyukur perjalanan ini membuka “mata” saya. Allah memperlihatkan dan mengajarkan tentang adab, akhlak, dzikir, ketundukan, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ, serta kesungguhan membersihkan hati—melalui para guru, seluruh panitia Ziarah Wali Songo (ZWS), dan para ikhwan TQN yang baru saya kenal dalam perjalanan ini.
Inilah titik di mana saya mulai memahami bahwa tidak semua kebenaran ruhani bisa dipaksa masuk ke kepala sebelum ia menyentuh hati. Yang saya rasakan bukan penyimpangan, melainkan pendalaman. Thariqah ini bukan menjauh dari syariat, tetapi justru menjaga ruh syariat itu sendiri. Ini bukan sekadar ritual, melainkan tazkiyatun nafs yang hidup dan terasa.
Hari ini saya bisa berkata dengan penuh syukur:
Saya bersyukur Allah menuntun saya mengenal thariqah ini—diawali dari Kursus Tasawuf Angkatan 99, kemudian menjadi peserta ZWS–MLS ke-5, hingga akhirnya tersambung dengan Pangersa Abah yang membawa saya pada keyakinan yang mendamaikan.
Saya bersyukur Allah mengizinkan saya turut serta dalam perjalanan ini, sehingga saya bisa merasakan sendiri, bukan sekadar menilai dari kejauhan.
Alhamdulillah. Jika ini bukan jalan yang Allah ridhai, mustahil hati diberi ketenangan sedalam ini. MasyaaAllaah…
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pangersa Abah, para ustadz pembimbing, serta seluruh panitia ZWS–MLS–LDTQN. Bukan hanya rapi secara teknis perjalanan, tetapi benar-benar sepenuh hati dalam membimbing dan mengurusi kami, para jamaah ZWS ke-5.
Bagi saya, ini adalah wisata religi paling memorable, karena benar-benar menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah—bukan sekadar wisata religi biasa.
Mohon doa dari para guru dan seluruh ikhwan, semoga perjalanan ini tidak berhenti di jalan pulang, tetapi berlanjut dalam istiqamah dzikir, akhlak, dan amal shalih dalam kehidupan sehari-hari.
MasyaaAllaah…
Allahu Akbar…
Alhamdulillaah ‘alaa ni‘matil iimaan.