Skip ke Konten

Ulah Nyalahkeun Kana Pangajaran Batur


Ulah Nyalahkeun Kana Pangajaran Batur


Jangan menyalahkan kepada pengajaran orang lain. Rangkaian mutiara kedua ini memberi pelajaran agar kita memelihara ukhuwah atau persaudaraan di antara sesama. Perilaku mudah menyalahkan pengajaran orang lain bisa memicu konflik bahkan merusak hubungan sosial.


Di era media sosial saat ini, perilaku saling menyalahkan marak terjadi. Saat upaya saling menyalahkan itu jadi konsumsi publik, energi umat akan tersedot untuk hal yang sia sia bahkan termasuk tabdzir. Tabdzir atau pemborosan bukan hanya terkait penggunaan harta namun juga penggunaan waktu dan energi pada tempat yang tidak seharusnya.


إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورٗا


Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.[Surat Al-Isra': 27]


Jika perilaku saling menyalahkan ini terpelihara, maka anak-anak muda akan skeptis terhadap ajaran agama yang disampaikan guru/ustadz karena mereka saling menyalahkan. Dakwah yang esensinya mengajak umat untuk mendekatkan diri pada Allah serta menjalankan syariat-Nya akan kehilangan orientasinya.


Ruang dakwah, ta'lim dan tarbiyah jadi ajang perdebatan yang tidak sehat bahkan cenderung merendahkan orang lain. Hal tersebut akan membuat murid bingung, bahkan antar murid dan antar guru jadi saling bermusuhan. Padahal yang demikian itu adalah bagian dari upaya setan.


إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةَ وَٱلۡبَغۡضَآءَ


Setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu. [Surat Al-Ma'idah: 91]


Ada perbedaan mendasar antara menyalahkan dan meluruskan, menyalahkan konotasinya bisa negatif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyalahkan artinya ada dua, pertama, menyatakan (memandang, menganggap) salah, contohnya: jangan menyalahkan dia sebelum terbukti kesalahannya. Kedua, melemparkan kesalahan kepada; mempersalahkan, menyesali, misalnya: "kalau usahamu tidak berhasil, jangan menyalahkan orang lain."


Menyalahkan fokus pada kesalahan orang lain, dengan menunjuk, menuding, dan menghakimi kesalahan orang lain, serta membuat orang jadi bersalah bahkan malu. Sedangkan meluruskan, artinya membuat supaya lurus, menjadikan lurus, fokusnya untuk memperbaiki.


Kendati demikian, pesan untuk tidak menyalahkan bukan berarti melakukan pembiaran terhadap kesalahan dan kemungkaran. Karena meluruskan bagian dari amar ma'ruf nahyi munkar dan termasuk dakwah yang mesti dilakukan dengan hikmah, mauidzah hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan.


ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ


Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmahdan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. [Surat An-Nahl: 125]


Caina herang, lauknya beunang (airnya jernih, ikannya dapat), begitu kata peribahasa sunda. Bagaimana meluruskan kesalahan dan atau kealpaan tanpa membuat orang lain tersinggung bahkan lari, bagaimana memperbaiki tanpa membuat keruh hubungan dan tetap harmonis. Karena pada dasarnya sesama saudara itu seyogyanya saling menghormati dan menyayangi, di antaranya dengan menginginkan kebaikan untuk saudara kita, sebagaimana tuntunan Rasulullah Saw.


لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ


Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.


Jangan menyalahkan ajaran orang lain, juga berarti jangan buru buru menilai atau menghakimi sesuatu yang belum dipahami.


وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولٗا


Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. [Surat Al-Isra': 36]


Kenyataan adanya perbedaan pendapat terkait ketentuan hukum misalnya, tidak boleh dinafikan apalagi diingkari. Pengingkaran terhadap kebenaran yang diperoleh melalui proses istinbath al ahkam atau pada masalah yang tidak termasuk masalah yang telah ditentukan hukumnya dalam dalil yang qath'iy ad dilalah dan qath'iy ats tsubut (majalul ijtihad) termasuk sikap yang menyalahi ketentuan agama. Sebagaimana diungkap Dalilah Razi dalam al ijtihad al intiqa'i fi al Fiqh al Islami,


لا إنكار في المسائل الخلافية الإجتهادية


Tidak boleh mengingkari adanya perbedaan pendapat terkait ketentuan hukum yang didapat melalui ijtihad.


Pembaca pesan secara tersirat diajak untuk terus belajar dan mengenal lebih baik ajaran agama, serta bersikap tasamuh / toleran terhadap aneka perbedaan. Tentu sikap ini bukan berarti menoleransi pandangan, pendapat atau ajaran yang jelas menyalahi ketentuan syariat.


Dalam Islam diperkenalkan dua nilai ajaran. Pertama ajaran yang langgeng dan tidak berubah (Ats Tsawabit). Ajaran ini mendasar dan bersifat universal, serta abadi, berlaku kapan dan di mana saja. Sedangkan yang kedua, ajaran yang tidak langgeng alias temporal dan lentur (Al Mutagayyirat), ia bersifat praksis dan lokal. Ada juga konsep yang dirumuskan ulama, yakni ta'abbudi dan ta'aqquli. Ta'abudi adalah ajaran yang harus diterima apa adanya tanpa dipikirkan hikmah tasyri' nya. Sedangkan ta'aqquli merupakan ajaran yang bisa dirasionalkan dan bisa diubah sesuai perkembangan.


Larangan menyalahkan orang lain juga merupakan langkah preventif untuk memelihara kebeningan qalbu. Mudah menyalahkan ajaran orang lain, bisa jadi tanda kesombongan batin, arogansi intelektual, merasa paling suci/benar atau menganggap kelompoknya paling unggul. Padahal kesombongan bisa menghalangi seseorang masuk surga.


لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ". قَالَ رَجُلٌ : إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : " إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ


Tidak masuk surga orang yang di dalam qalbunya terdapat kesombongan seberat biji zarrah (seberat atom). Seorang lelaki berkata: “Sesungguhnya seseorang suka bila pakaiannya bagus dan sandalnya bagus. Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Adapun kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia". (HR. Muslim)


Hadis ini memberi pelajaran bahwa kesombongan ialah batharul haq (menolak kebenaran karena kesombongan dan keangkuhan) dan ghamth an nas (meremehkan manusia dan mencari-cari aib mereka).


Dengan demikian, melalui mutiara ini, Mursyid TQN Pontren Suryalaya punya peranan yang besar dalam memelihara kerukunan, perdamaian, serta keharmonisan umat beragama. Bahkan pesan ini bersifat universal, karena ajaran yang dimaksud bukan hanya mencakup ajaran agama tetapi juga ajaran umum dan bagaimana proses pengajaran itu berlangsung.


Untaian mutiara ini juga mengajak kita agar lebih melihat kekurangan dan kesalahan diri sendiri, bukan sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Orang yang tidak tahu dan kenal akan aib dirinya sangat sulit berubah dan memperbaiki diri, bahkan ia menutup mata dari melihat kebaikan dan kelebihan orang lain. Dalam kitab Raudhatul 'Uqala wa Nuzhatul Fudhala' diterangkan bahwa,


والعاقل لا يخفى عليه عيب نفسه لأن من خفي عليه عيب نفسه خفيت عليه محاسن غيره، وإن من أشد العقوبة للمرء أن يخفى عليه عيبه، لأنه ليس بمقلع عن عيبه من لم يعرفه، وليس بنائل محاسن الناس من لم يعرفها


Orang yang berakal dapat melihat aib dirinya sendiri. Karena, siapa yang tidak bisa melihat aib dirinya, maka akan tersembunyi (tidak dapat melihat) pula kebaikan orang lain darinya. Sesungguhnya di antara hukuman paling berat bagi seseorang adalah ketika aibnya tersembunyi darinya sendiri. Karena, tidak mungkin seseorang meninggalkan aibnya jika ia tidak mengetahuinya, dan tidak mungkin pula ia memperoleh kebaikan orang lain jika ia tidak mengenalnya.


Penulis : Saepuloh (Kabid Kajian dan Literasi Tasawuf LDTQN Jakarta)

di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar