Skip ke Konten

TQN Suryalaya: Jalan sunyi yang menggerakan perubahan sosial

TQN Suryalaya: Jalan sunyi yang menggerakan perubahan sosial

Jakarta, 21 April 2025 — Di tengah dunia yang kian riuh dan kompleks, Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah Suryalaya (TQN Suryalaya) hadir sebagai jalan spiritual yang memberi ketenangan batin, sekaligus solusi nyata bagi persoalan sosial modern. Dalam rangka mata kuliah Islamologi, 4 orang mahasiswa Program Studi Arab yang terdiri dari Aslam Arya, Razky Febriansyah, Icksan Muntashir dan Fatih Fauzan melakukan wawancara eksklusif dengan Ketua LDTQN Suryalaya Jakarta, Ustadz Abdul Latif.


Berbasis pusat di Suryalaya, Tasikmalaya, TQN Suryalaya menggabungkan dua silsilah utama dzikir—jahri (dengan suara) dan khafi (dalam hati)—yang diturunkan langsung dari Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali dan Sayyidina Abu Bakar. Melalui proses talqin dan ijazah dzikir, para murid dibimbing untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tak hanya menjadi laku spiritual, TQN Suryalaya juga hadir sebagai agen transformasi sosial. Program Inabah, misalnya, telah berhasil merehabilitasi banyak korban narkoba dengan pendekatan spiritual: dzikir, salat sunnah, dan mandi malam. Banyak di antara mereka yang kini hidup sehat, bahkan menjadi pengusaha sukses dan pemimpin komunitas.


TQN Suryalaya juga menunjukkan bahwa tasawuf bukanlah gerakan eksklusif atau antisosial. Ratusan majelis dzikir tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri, untuk wilayah Jakarta saja terdapat lebih dari 100 majelis aktif. Kursus tasawuf yang diadakan 2 bulan sekali menjadi jembatan untuk menjawab kebutuhan masyarakat modern akan ketenangan jiwa.


Seiring terbukanya kembali ruang kebebasan spiritual pasca era kolonial, TQN Suryalaya menjadi simbol kebangkitan kembali nilai-nilai tasawuf yang pernah ditindas. “Dulu, kata tarekat seperti kata yang tabu. Sekarang kami ingin menunjukkan bahwa ini jalan hidup yang nyata dan penuh keberkahan,” ujar Abdul Latif, Ketua LDTQN Jakarta.


Dengan semangat “merasakan” kehadiran Ilahi, bukan sekadar “mengetahui”-Nya, TQN Suryalaya menegaskan bahwa spiritualitas bukan sekadar pelarian, melainkan kekuatan untuk membangun peradaban yang lebih arif, sehat, dan manusiawi.

di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar