Spirit Pangersa
Abah Anom: Terdepan dalam Teknologi & Dakwah
Abd Latif Hatam
Ket LDTQN Pontren
Suryalaya Korwil DKI Jakarta
Dalam perjalanan sejarah Pondok Pesantren Suryalaya, banyak kisah sederhana namun penuh makna yang sering luput dari perhatian. Salah satunya adalah ketika teknologi wartel (warung telepon) mulai hadir di Indonesia. Pada masa itu, di Kabupaten Tasikmalaya hanya ada dua wartel: satu di Rajapolah, dan satu lagi di Suryalaya.
Di saat wartel belum dikenal luas, justru di Suryalaya sudah hadir fasilitas komunikasi modern itu. Dan yang pertama kali menggunakan wartel tersebut bukan orang sembarangan, melainkan Pangersa Abah Anom sendiri. Telepon pertama yang beliau lakukan adalah kepada H. Ucu Suparta, ketua YSB PP Suryalaya Koordinator Wilayah DKI Jakarta.
Kisah ini mungkin terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan spirit besar: Pangersa Abah selalu berada di garis depan dalam memanfaatkan teknologi untuk dakwah dan komunikasi.
_____________________________________________________________________
Pangersa Abah dan Pandangan
Visioner
Pangersa Abah tidak hanya seorang mursyid yang mengajarkan dzikir tarekat. Beliau juga seorang visioner. Beliau menyadari bahwa teknologi adalah sarana, dan jika sarana itu dipakai dengan benar, ia akan menjadi kendaraan dakwah yang melintasi ruang dan waktu.
Wartel bagi pangersa Abah bukan sekadar alat bicara dari jauh, tetapi jembatan komunikasi untuk mempercepat koordinasi, mengikat ukhuwah, dan menyebarkan pesan-pesan dakwah.
_____________________________________________________________________
Teladan Bagi Murid-Muridnya
Jika Abah di zamannya sudah berani menjadi yang pertama memanfaatkan teknologi, maka murid-murid beliau di zaman sekarang pun tidak boleh tertinggal.
Hari ini, teknologi bukan lagi wartel, melainkan internet, media sosial, aplikasi komunikasi, dan platform digital. Maka menjadi kewajiban moral bagi murid-murid Pangersa Abah untuk:
- Terdepan dalam teknologi dakwah digital, menggunakan TikTok, YouTube, Instagram, dan media lain untuk menyampaikan nilai tarekat.
- Terdepan dalam teknologi komunikasi, membangun jaringan ukhuwah yang kokoh, sebagaimana Abah dulu menelpon H. Ucu Suparta untuk mempererat silaturahmi.
- Terdepan dalam teknologi manajemen, mengelola organisasi tarekat dengan sistem yang rapi, cepat, dan profesional.
_____________________________________________________________________
Spirit Abah: Mengakar
dan Melintasi Zaman
Kisah wartel ini hanyalah satu mozaik kecil dari kebesaran pandangan Abah. Beliau selalu mengajarkan bahwa tasawuf bukan pelarian dari dunia, melainkan sumber energi untuk menghadapi zaman.
Dengan spirit Abah, murid-murid TQN Suryalaya harus tampil sebagai generasi sufi modern:
- Hatinya basah dengan dzikir.
- Tangannya lincah dengan teknologi.
- Langkahnya sigap membawa dakwah ke tengah masyarakat global.
_____________________________________________________________________
Wartel mungkin kini tinggal kenangan. Tetapi spirit visioner Pangersa Abah tidak boleh pudar. Dari wartel hingga media sosial, dari telepon kabel hingga komunikasi nirkabel, dari Suryalaya hingga dunia global — murid-murid Abah dituntut untuk selalu terdepan dalam teknologi, sebagaimana Abah dahulu menjadi yang pertama.
Karena di setiap langkah zaman, dzikir dan teknologi harus berjalan beriringan.
Dan murid-murid Abah harus siap menjadi pelopor, bukan pengikut yang tertinggal.