Skip ke Konten

Shalat Sebagai Mikro Kosmos Perjalanan Ruhani Menuju Allah

Shalat Sebagai Mikro Kosmos Perjalanan Ruhani Menuju Allah


​بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الصَّلَاةَ مِعْرَاجَ الْمُؤْمِنِينَ وَسِرَّ الْعَارِفِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ


​"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang menjadikan shalat sebagai tangga naik (mi'raj) orang-orang beriman dan rahasia para arif. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya seluruhnya."


​Para jamaah yang dimuliakan Allah, 

​Ilmu tasawuf mengajarkan bahwa setiap ibadah lahiriah memiliki rahasia batiniah. Di antara semua ibadah, shalat adalah yang paling sempurna karena mengandung seluruh petunjuk jalan ruhani (thariqoh) menuju Allah.

​Didalam kitab Kasyful Mahjub, hlm. 332, Syaikh 'Ali Al-Hujwiri, menguraikan rahasia-rahasia bathinah dalam shalat bagi para salik, beliau berkata:


​الصَّلَاةُ هِيَ عِبَادَةٌ يَجِدُ فِيهَا الْمُرِيدُونَ كُلَّ مَعَالِمِ الطَّرِيقِ الَّتِي يَحْتَاجُ إِلَيْهَا الطَّالِبُونَ إِلَى اللهِ تَعَالَى مِنَ الْبَدَايَةِ إِلَى النَّهَايَةِ وَالَّتِي تَنْكَشِفُ لَهُمْ بِهَا الْمَقَامَاتُ


​"Shalat adalah ibadah di mana para murid (salik) menemukan seluruh petunjuk jalan yang dibutuhkan oleh para pencari Allah Ta'ala dari awal hingga akhir, dan dengan shalat itu tersingkap bagi mereka maqam-maqam (stasiun-stasiun ruhani)."


​Dalil Al-Qur'an:


​إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ


​"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sungguh, dzikir kepada Allah lebih besar (keutamaannya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-'Ankabut [29]: 45)


​Para sufi menafsirkan "dzikir yang lebih besar" sebagai kondisi hudur (hadir hati) bersama Allah, yang puncaknya terjadi dalam shalat.


​Dalil Hadis:


​عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ


​Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Dijadikanlah penyejuk mataku dalam shalat." (HR. Ahmad, An-Nasa'i, dan Al Hakim - shahih)


​Dalam Shalat, setidaknya ada 8 Maqam Ruhani Menuju Allah  yang diuraikan oleh Syaikh Al-Hujwiri didalam kitabnya, diantaranya: 


1. Thaharah (Bersuci) - Maqam Taubat


Beliau berkata:

فَالطَّهَارَةُ Lِلسَّالِكِينَ مَحَلُّ التَّوْبَةِ


"Maka bersuci bagi para salik adalah tempatnya taubat."


​Bersuci lahiriah (wudhu) melambangkan taubat batiniah. Sebagaimana air menghilangkan kotoran fisik, taubat menghilangkan noda maksiat dan penyakit hati.


​Dalil Al-Qur'an:


إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ


​"Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang taubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al-Baqarah [2]: 222)


​Hadis tentang wudhu:


عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : مَنْ تَوَضَّاً فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ 


​Dari Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Barangsiapa berwudhu lalu membaguskan wudhunya, maka keluarlah dosa-dosanya dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya." (HR. Muslim)


2. Menghadap Kiblat & Mengikuti Imam - Maqam Ittiba' kepada Mursyid


​وَاتَّبَاعُ الْمُرْشِدِ عَمَلٌ يَحِلُّ مَحَلَّ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ


​"Dan mengikuti guru pembimbing (mursyid) adalah amalan yang menempati posisi menghadap kiblat."


​Dalam tasawuf, kiblat hati adalah guru mursyid yang menunjukkan arah menuju Allah. Mengikuti imam dalam shalat mengajarkan kepatuhan, keteguhan, dan penyerahan diri dalam bimbingan.


​Dalil Al-Qur'an tentang kepatuhan kepada pembimbing:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ


​"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur)." (QS. At-Taubah [9]: 119)


​Hadis tentang mengikuti imam:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ 


​Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti, maka janganlah kalian berselisih dengannya." (HR. Bukhari & Muslim)


3. Qiyam (Berdiri) - Maqam Mujahadah (Melawan Hawa Nafsu)


​وَالْقِيَامُ فِي الصَّلَاةِ يَحِلُّ مَحَلَّ مُجَاهَدَةِ النَّفْسِ


​"Dan berdiri dalam shalat itu menempati posisi mujahadah (melawan) hawa nafsu."


​Berdiri di hadapan Allah melawan kantuk, kelalaian, dan bisikan nafsu adalah jihad terbesar: jihadun nafs.


​Dalil Al-Qur'an:


وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ، وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ


​"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut [29]: 69)


​Hadis tentang jihad melawan nafsu:


عَنْ فُضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ 


​Dari Fudhalah bin 'Ubaid radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi bersabda: "Orang yang berjihad adalah orang yang melawan dirinya (nafsu) dalam ketaatan kepada Allah." (HR. Tirmidzi - hasan)


4. Qira'ah (Membaca Al-Qur'an) - Maqam Dawam Dzikir


​وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ يَحِلُّ مَحَلَّ دَوَامِ الذِّكْرِ


​"Dan membaca Al-Qur'an itu menempati posisi dzikir yang terus-menerus (dawam)." 


​Lidah membaca ayat, hati meresapi maknanya. Inilah dzikir berkelanjutan yang menjadi penyejuk hati.


​Dalil Al-Qur'an:


الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ


​"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28)   


​Hadis Qudsi:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: مَنْ شَغَلَهُ ذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ 


​Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Allah Ta'ala berfirman: 'Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan dzikir kepada-Ku hingga tidak sempat meminta kepada-Ku, maka Aku beri dia lebih baik dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta." (HR. Tirmidzi - shahih)


5. Rukuk - Maqam Khudhu' (Ketundukan Total)


​وَالرُّكُوعُ يَحِلُّ مَحَلَّ الْخُضُوع


​"Dan rukuk itu menempati posisi ketundukan (khudhu')."


​Rukuk adalah simbol lepasnya kesombongan. Salik merendahkan pundak dan hatinya, mengakui kebesaran Allah.


​Doa rukuk yang diajarkan Nabi:


سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ


​"Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan memuji-Nya." (HR. Muslim)


​Dalil Al-Qur'an tentang ketundukan:


وَاخْشَعُوا لَهُ 


​"Dan tunduklah kamu kepada-Nya." (QS. Al-A'raf [7]: 206)


6. Sujud - Maqam Ma'rifatun Nafs (Mengenal Diri)


​وَالسُّجُودُ يَحِلُّ مَحَلَّ مَعْرِفَةِ النَّفْسِ


​"Dan sujud itu menempati posisi pengenalan diri (ma'rifatun nafs)."


​Sujud adalah puncak kerendahan. Anggota tubuh yang paling mulia (dahi) menyentuh tanah. Dalam sujud, salik menyadari kehinaan dirinya: penuh dosa, penyakit hati, dan selalu menuruti hawa nafsu, lalu berharap ampunan dan rahmat Allah. 


​Dalil Al-Qur'an tentang ma'rifatun nafs:


سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ


​"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru alam dan pada diri mereka sendiri, hingga jelaslah bagi mereka bahwa Dia (Allah) adalah Yang Hak." (QS. Fussilat [41]: 53)


​Hadis tentang kedekatan dalam sujud:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَالَ: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ 


​Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda: "Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa." (HR. Muslim)


7. Tasyahud - Maqam Al-Uns (Keakraban dengan Allah)


​وَالشَّهَادَةُ يَحِلُّ مَحَلَّ الْأَنْسِ


​"Dan tasyahud (bacaan syahadat) itu menempati posisi keakraban (al-uns)."


​Saat duduk tasyahud, hati merasakan kedamaian karena bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Ini adalah uns (keintiman ruhani). 


​Bacaan tasyahud:


التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَاد اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ


​"Segala penghormatan, keberkahan, rahmat, dan kebaikan bagi Allah. Salam sejahtera atasmu wahai Nabi, juga rahmat Allah dan berkah-Nya. Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."


8. Salam - Maqam At-Tajrid 'an ad-Dunya (Pelepasan dari Belenggu Dunia)


​وَالسَّلَامُ يَحِلُّ مَحَلَّ التَّجْرِيدِ عَنِ الدُّنْيَا وَالْفَرَارِ مِنْ رَبِّقَةِ الْمَقَامَاتِ


​"Dan salam itu menempati posisi melepaskan diri dari dunia dan lari dari belenggu maqam-maqam (stasiun ruhani)."


​Setelah sujud dan tasyahud, salam diucapkan ke kanan dan kiri. Ini simbol kembalinya salik ke dunia dengan jiwa yang telah dibersihkan. Bukan terjerat lagi, melainkan menjadi insan kamil yang beramal di dunia tanpa cinta dunia.


​Sebda Nabi kepada Bilal ketika beliau telah lepas dari segala kesibukan dengan rasa kagum (hayrah):


وَلِهَذَا فَإِذَا تَخَلَّى مِنْ جَمِيعِ الْمَشَارِبِ مَعَ كَمَالِ حَيْرَتِهِ، كَانَ يَقُولُ دَائِمًا: أَرْحِنَا بِهَا يَا بِلَالُ - أَيْ بِالصَّلَاةِ


​Beliau selalu berkata: "Wahai Bilal, jadikanlah kami tenang dengan shalat.


​Hadis lengkap:


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ لِبِلَالٍ: أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ


​Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi berkata kepada Bilal: "Wahai Bilal, jadikanlah kami tenang dengan shalat." (HR. Abu Dawud & Ahmad - dishahihkan Al-Albani)


​Penjelasan: Hayrah (keheranan spiritual) adalah rasa takjub akan kebesaran Allah. Shalat menjadi rest area jiwa.


​Kesimpulan Ringkasan 8 Maqam dalam Shalat:

Thaharah = Taubat 

Menghadap kiblat / mengikuti imam = Ittiba' kepada mursyid 

Qiyam (berdiri) = Mujahadah an-nafs 

Qira'ah = Dawam dzikir 

Rukuk = Khudhu' (ketundukan) 

Sujud = Ma'rifatun nafs 

Tasyahud = Al-Uns (keakraban) 

Salam = Tajrid 'an ad-dunya


​Nasihat Terakhir:


​فَمَنْ أَرَادَ السُّلُوكَ إِلَى اللَّهِ ، فَلْيُقِمِ الصَّلَاةَ عَلَى حَدِ الْإِحْسَانِ، كَأَنَّهُ يَرَى اللَّهَ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ يَرَاهُ فَإِنَّ اللَّهَ يَرَاهُ


​"Maka barangsiapa menghendaki perjalanan ruhani menuju Allah, hendaklah ia mendirikan shalat dalam batas ihsan, seakan-akan ia melihat Allah. Jika ia tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatnya." (Hadis Jibril - HR. Bukhari & Muslim)


Doa Penutup:


​اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيَسْلُكُونَ إِلَيْكَ أَحْسَنَ السُّلُوكِ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا . اللَّهُمَّ أَرِحْ قُلُوبَنَا بِالصَّلَاةِ كَمَا أَرَحْتَ قَلْبَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ . آمِينَ 


​"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendirikan shalat dan menempuh perjalanan menuju-Mu dengan sebaik-baik perjalanan. Wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Ya Allah, tenangkanlah hati kami dengan shalat sebagaimana Engkau tenangkan hati Nabi kami Muhammad. Amin."


Sumber Utama Pembahasan:

​Kasyful Mahjub (كشف المحجوب) – Syaikh Abul Husain 'Ali bin 'Utsman Al-Hujwiri Al-Ghaznawi (w. 465 H), halaman 332. 

​Al-Qur'an 

​Hadist Shahih: Bukhari, Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Musnad Ahmad, Sunan Nasa'i, Sunan Al-Hakim.


​Wallahu a'lam bis-shawab. Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Penulis : Apih Aden Jamaludin
di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar