Sambut Ramadhan dengan Filosofi Ketan, Kolak, dan Apem
Ramadhan Adalah penghulunya segala bulan, karena kemuliaannya tersebut maka kita diperintahkan untuk bergembira menyambut Ramadhan.
Adalah sudah menjadi tradisi di masyarakat kita menjelang Ramadhan dilakukan sesuatu hal yang dikenal dengan istilah ruwahan yang isinya ziarah makam-makam orang tua, guru dan saudara-saudara kita, di sana kita mendoakan mereka dan menghadiahkan pahala untuk mereka dengan zikir-zikir yang kita baca, tentunya hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al Hasyr ayat 10.
وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Mendoakan saudara-saudara kita juga diperintah oleh Nabi Saw dalam sabdanya,
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim no. 2733).
Walau hadits ini disebutkan oleh Ummu Darda’ ketika ia meminta do’a pada Abu Az-Zubair saat ia mau pergi berhaji, namun kandungan makna dari hadits tersebut bisa diamalkan. Ummu Darda’ berkata pada Abu Zubair,
فَادْعُ اللَّهَ لَنَا بِخَيْرٍ فَإِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقُولُ
Berdo’alah pada Allah untuk kami agar memperoleh kebaikan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda … (disebutkan hadits di atas).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Do’a pada si mayit, melunasi utangnya, termasuk pula sedekah atas si mayit bermanfaat untuknya berdasarkan kesepakatan pada ulama.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 82).
Kemudian, melakukan silaturahmi ke tempat sanak saudara dan keluarga serta diadakan kenduri serta acara yang lazim kita sebut dengan ruwahan akbar. Yang menarik, di sebagian tempat di daerah Jawa, ketika kenduri tersebut terdapat tiga makanan khas yang disajikan, dan ketiganya memiliki nilai filosofis tersendiri, ketiga makanan tersebut adalah ketan, kolak, dan apem.
Filosofi dari makanan tradisional ini apabila dipahami maka akan didapati nasihat-nasihat yang baik.
Filosofi Ketan
Filosofi ketan diambil dari kata dalam bahasa Jawa yaitu kraketan yang bermakna ngraketke ikatan atau merekatkan ikatan. Ketan dimaknai sebagai simbol perekat tali persaudaraan antar sesama manusia. Selain itu, ketan juga diambil kata dalam bahasa Jawa yaitu kemutan yang bermakna teringat. Hal ini menjadikan ketan sebagai simbol renungan dan instropeksi diri atas kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan selama ini.
Filosofi Kolak
Filosofi kolak diambil dari kata dalam bahasa Arab yaitu Khalaqa yang artinya menciptakan dan juga dari kata Khaliq yang berarti Sang Pencipta. Kolak dimaknai sebagai simbol harapan agar selalu ingat kepada Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Filosofi Apem
Filosofi dari apem diambil dari kata dalam bahasa Arab yaitu 'afw yang bermakna memohon ampunan atau meminta maaf. Apem dimaknai sebagai simbol agar seseorang selalu bisa memberi maaf atau memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain. Selain itu, apem juga dimaknai sebagai pertobatan manusia yang memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ust. Mursyidi