Skip ke Konten

Sabar Dan Syukur Sebagai Kunci Kebahagian

Sabar dan Syukur Sebagai Kunci Kebahagiaan

Kebahagiaan di akhirat punya korelasi yang kuat dengan kebahagiaan di dunia. Maka dari itu orientasi hidup di dunia jangan semata untuk bahagia di akhirat nanti, tapi juga bahagia di dunia. Karena dunia dan akhirat tidak terpisahkan, keduanya satu kesatuan.


Rasulullah Saw bersabda:


ليس بخيركم من ترك دنياه لآخرته ولا آخرته لدنياه حتى يصيب منهما جميعا فإن الدنيا بلاغ إلى الآخرة ولا تكونوا كلا على الناس


Yang terbaik di antara kamu bukanlah yang meninggalkan dunianya untuk akhiratnya, bukan pula meninggalkan akhiratnya untuk dunianya, sehingga meraih keduanya. Karena sesungguhnya dunia jalan menuju akhirat, dan janganlah kalian menjadi beban untuk orang lain (HR. Ibnu Asakir)


Hal ini juga selaras dengan firman Allah Swt yang menyatakan


وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ 


Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia [Surah Al-Qaṣaṣ: 77]


Lantas bagaimana cara memperoleh kebahagiaan?


Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin seorang Sufi asal Pasundan berkata, kita tidak akan bahagia di akhirat, jika di dunianya tidak bahagia. Bahagia itu dicapai dengan menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. Dengan dzikir yang mantap akan membentengi kita dari hal yang akan mencelakakan kita, dan selanjutnya akan membukakan pintu bahagia kita.


Kebahagiaan itu muncul dari dzikir yang mantap, dari qalbu yang selalu mengarah kepada Allah, dari qalbu yang selalu ingat pada-Nya, dan sadar bahwa Allah menyertai dalam setiap langkah kita. Inilah yang disebut dengan tawajjuh, menghadap dengan sepenuh jiwa dan perhatian kepada Allah dalam niat, ucapan, perbuatan, dan setiap keputusan yang diambil.


Syekh Nawawi Al Bantani dalam Nashaihul 'Ibad juga menyatakan bahwa kebahagiaan ialah saat selalu bersama dengan Allah Ta'ala.


أسعد الناس من له قلب بأن الله تعالى معه في أي موضع كان


Orang yang paling bahagia ialah orang yang qalbunya merasakan bahwa Allah ta'ala selalu bersamanya di mana pun ia berada.


Inilah puncak kebahagiaan. Qalbu yang terhubung dengan Allah, hidup yang terikat dengan syariat-Nya, dan langkah yang selalu berharap ridha-Nya.


Paradigma kebahagiaan ini pun diulang-ulang sehari-hari saat kita mendirikan shalat ketika membaca doa iftitah.


إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ


Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. [Surah Al-Anʿām: 79]


إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ


Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, [Surah Al-Anʿām: 162]


Keniscayaan Ujian


Hidup manusia tidak pernah lepas dari ujian. Allah Ta‘ala telah menetapkan bahwa kehidupan di dunia ini adalah medan ujian, baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan.


وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ


Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. [Surat Al-Anbiya': 35]


Ujian tidak hanya datang dalam bentuk kesulitan, musibah, atau hal-hal yang merugikan dan tidak menyenangkan. Justru sering kali, nikmat dan kesenangan yang kita terima adalah bentuk ujian yang lebih berat. Ketika manusia berada dalam kesulitan, ia lebih mudah terdorong untuk mengingat Allah, karena dalam keadaan lemah ia menyadari kebutuhannya kepada Allah Swt. Namun, ketika berada dalam kelapangan dan kesenangan, sering kali manusia lupa daratan dan lalai dari mengingat-Nya.


Bila dalam kesulitan atau yang kita nilai negatif Allah menguji siapa di antara kita yang mampu bersabar, maka dalam kebaikan dan kenikmatan Allah menguji siapa yang mampu bersyukur. Inilah ujian dan cobaan yang sesungguhnya. yang pertama menuntut sabar, yang kedua menuntut syukur.


Qalbu yang senantiasa bertawajjuh kepada Allah, yakni qalbu yang selalu menghadap dan terhubung dengan-Nya, akan melahirkan reaksi yang tepat dalam setiap keadaan hidup. Apabila qalbu yang bertawajjuh itu bertemu dengan kenikmatan dan kebaikan, maka ia akan memancarkan syukur. Sebaliknya, ketika qalbu tersebut bertemu dengan musibah atau sesuatu yang tampak buruk, maka ia akan memancarkan sabar.


Syukur dan sabar yang lahir dari shidqu at tawajjuh ila Allah atau ketulusan dan kejujuran qalbu dalam menghadap kepada Allah. Itulah yang menjadi kunci kebahagiaan dan jalan keluar dari segala ujian kehidupan. Dengan syukur, kita tidak lupa diri dalam kelapangan. Dengan sabar, kita tidak hancur dalam kesempitan.


Terkait hal ini, Syekh Abdul Qadir Al Jilani qs dalam Sirrul Asrar menyatakan bahwa kebahagiaan seseorang itu tergantung kebaikannya.


فإذا غلبت الحسنات يكون سعيدا، وإذا غلبت السيئات يكون شقيا، فمن تاب وآمن وعمل صالحا يبدل الله شقاوته إلى السعادة


Jika amal baik seseorang lebih banyak (dari amal buruknya), maka ia bahagia, dan jika amal buruknya lebih banyak (dari amal baiknya) maka ia menderita. Maka siapa yang bertobat, beriman, dan beramal shalih, berarti  Allah (ia sedang) mengganti penderitaannya menjadi kebahagiaan.


Syukur dan sabar bukan hanya reaksi emosional, tetapi sikap spiritual yang diajarkan Rasulullah Saw agar kita senantiasa berada dalam kebaikan, karena kebaikan itu jalan menuju kebahagiaan. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw bersabda, 


عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ


Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin itu. Apa saja yang terjadi itulah yang baik untuknya. Dan semua itu hanya ada pada seorang mukmin. Jika mendapat kegembiraan ia bersyukur dan itu yang terbaik untuknya. Dan jika mendapat kesedihan ia bersabar dan itu juga yang terbaik untuknya. (HR. Muslim)


Semakin baik kualitas syukur dan sabar kita, semakin tenang qalbu kita, semakin ringan hidup kita, dan semakin bahagialah kita. Ketika seseorang pandai bersyukur, ia tidak mudah merasa kurang atau iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Dan ketika seseorang pandai bersabar, ia tidak mudah putus asa, marah, atau kecewa berlebihan saat menghadapi masalah.


Karena kebahagiaan bukan berasal dari keadaan, melainkan dari bagaimana qalbu kita menyikapi keadaan tersebut. Lihatlah, ada orang yang hidupnya sederhana, makan cukup, pakaian biasa, rumah pun kecil. Tapi ia bersyukur kepada Allah setiap hari. Ia tidak mengeluh, tidak iri, dan tidak merasa kurang. Hatinya tenang, wajahnya cerah, hidupnya lapang.


Sebaliknya, ada pula yang hartanya melimpah, pekerjaannya bergengsi, rumahnya megah. Namun ia tidak pernah puas, selalu merasa kurang, dan qalbunya penuh keluhan. Walhasil, hartanya banyak, tapi hatinya sempit.


Dzikir dan Syukur


Allah Swt memerintahkan kita untuk senantiasa berdzikir dan bersyukur kepada-Nya.


فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ


Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu! Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku! [Surah Al-Baqarah: 152]


Allah Swt memerintahkan kita berdzikir terlebih dahulu baru bersyukur. Karena saat kita berdzikir kita sibuk ingat pada-Nya sebagai pemberi nikmat, sedangkan bersyukur kita sibuk ingat atas nikmat-Nya. Pelajarannya ialah ingat kepada pemberi nikmat mesti didahulukan ketimbang ingat kepada nikmat itu sendiri.


Caranya bagaimana bersyukur? Pertama, merasa cukup dengan pemberian Allah. Kedua, mengakui bahwa segala kenikmatan itu berasal dari Allah Swt. Ketiga, mempergunakan kenikmatan itu untuk ketaatan, baik taat kepada Allah saat sendiri maupun terang-terangan. Keempat, jika nikmat itu berlebih maka berilah kepada yang membutuhkan.


Lalu, kita dilarang untuk kufur terhadap-Nya, yakni mengingkari nikmat dan tidak menerimanya dan memanfaatkannya dengan kesyukuran. Ada suatu perumpamaan di suatu negeri yang penduduknya kufur.


وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا قَرۡيَةٗ كَانَتۡ ءَامِنَةٗ مُّطۡمَئِنَّةٗ يَأۡتِيهَا رِزۡقُهَا رَغَدٗا مِّن كُلِّ مَكَانٖ فَكَفَرَتۡ بِأَنۡعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلۡجُوعِ وَٱلۡخَوۡفِ بِمَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ


Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat. [Surah An-Naḥl: 112]


Jikalau penduduk suatu negeri mengingkari nikmat-nikmat Allah, yakni tidak menggunakannya sesuai tuntunan Allah. Maka Allah akan menjadikannya merasakan pakaian kelaparan dan pakaian ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.


Pengertian Syukur


Syukur itu kesinambungan qalbu untuk mencintai Sang Pemberi Nikmat, kesinambungan anggota tubuh untuk menaati-Nya, dan kesinambungan lisan untuk mengingat dan memuji-Nya.


Syukur dengan qalbu yakni kesadaran qalbu bahwa segala kenikmatan berasal dari Allah Swt. Syukur dengan lisan, selalu ingat dan memuji-Nya. Syukur melalui aplikasi perbuatan yakni mempergunakan kenikmatan sesuai tujuan penciptaannya atau sesuai tuntunan Allah Swt.


Rasulullah adalah teladan kita dalam bersyukur. Beliau tidak pernah mengeluh dan mencela keadaan yang beliau hadapi. Beliau justru senantiasa memuji Allah Swt.


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ : " الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ". وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ : " الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ


Rasulullah Saw tatkala melihat hal yang beliau sukai, beliau berucap segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya sempurna aneka kebaikan, dan ketika melihat hal yang tidak disukainya beliau mengatakan segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan. (HR. Ibnu Majah)


Melalui hadis ini kita diajarkan untuk melihat dan fokus pada hal hal positif yang ada, melihat dan mengingat-ingat kenikmatan Allah yang luput dari ingatan kita. Dan yang paling utama ialah kita melihat Allah SWT ada di balik setiap kejadian. Bersyukur sejatinya bukan lagi melihat nikmat, karena kalau hanya melihat nikmat, saat nikmat itu tiada maka, syukur tiada. Tetapi lihatlah bahwa syukur itu perintah Allah, dan kebaikan syukur akan kembali pada kita.


وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٞ 

[Surat Luqman: 12]


Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”


Dalam hadis qudsi Allah mengatakan,


اذا ذكرتني شكرتني واذا نسيتني كفرتني


Saat kamu ingat padaku kamu bersyukur pada-Ku, saat kamu lalai, kamu kufur pada-Ku.


فَقَالَ دَاوُدُ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أَشْكُرُكَ، وَالشُّكْرُ نِعْمَةٌ مِنْكَ؟ قَالَ: "الْآنَ شَكَرْتَنِي حِينَ عَلِمْتَ  أَنَّ النِّعْمَةَ مِنِّي".


Nabi Dawud berucap, Bagaimana aku bersyukur pada-Mu, sedangkan syukur itu nikmat dari-Mu, Allah menjawab: Sekarang kamu bersyukur pada-Ku, saat kamu menyadari bahwa segala kenikmatan berasal dari-Ku.


Ada doa yang diajarkan Rasulullah Saw agar kita selalu menjadi pribadi yang pandai bersyukur. "Aku wasiatkan kepadamu Mu'adz agar sekali kali tidak meninggalkan doa ini,"


اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك


Ya Allah tolonglah aku supaya tetap berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu (HR. Abu Dawud, Nasai, Hakim)


Sikap Syukur


Al Quran menyatakan bahwa sedikit sekali hamba-Ku yang bersyukur


وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ

[Surat Saba': 13]


Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.


Agar menjadi orang yang pandai bersyukur, kita bisa mengikuti tuntutan Rasulullah saw.


1. Bersyukur pada Manusia


مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ


Siapa orang yang tidak bersyukur pada manusia, dia tidak bersyukur kepada Allah (HR. Tirmidzi)


Orang yang tidak pandai bersyukur pada manusia, tidak pandai pula bersyukur kepada Allah. Siapa yang tabiat dan kebiasaannya mengingkari (kufur) terhadap nikmat yang datang dari orang lain dan tidak mensyukuri kebaikannya maka demikian pula terhadap nikmat Allah, dia tidak pandai bersyukur kepada-Nya.


إِنَّ أَشْكَرَ النَّاسِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَشْكَرُهُمْ لِلنَّاسِ


Sesungguhnya manusia yang paling bersyukur kepada Allah 'azza wa jalla ialah dia yang paling pandai bersyukur kepada manusia. (HR. Ahmad)


2. Bersyukur terhadap hal kecil


Bersyukur dibuktikan bukan pada hal-hal besar dan banyak, justru bersyukur itu dilihat dari hal yang kecil. Nabi Saw bersabda:


مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ،


Siapa yang tidak mensyukuri hal yang kecil, dia tidak pandai mensyukuri hal yang banyak. (HR. Ahmad)


3. Mempergunakan anugerah Allah dengan sebaik-baiknya


Dalam Tafsir Al Misbah disebutkan bahwa Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat antara lain menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya juga menyebut-nyebut pemberinya dengan baik. Ini berarti setiap nikmat yang dianugerahkan Allah menuntut perenungan untuk apa ia dianugerahkan-Nya, lalu menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Ambillah sebagai contoh laut. Allah

menciptakan laut dan menundukkannya

untuk digunakan manusia


{ وَهُوَ ٱلَّذِي سَخَّرَ ٱلۡبَحۡرَ لِتَأۡكُلُواْ مِنۡهُ لَحۡمٗا طَرِيّٗا وَتَسۡتَخۡرِجُواْ مِنۡهُ حِلۡيَةٗ تَلۡبَسُونَهَاۖ وَتَرَى ٱلۡفُلۡكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ }

[Surat An-Nahl: 14]


Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.


Bekerja dengan sebaik baiknya juga merupakan bentuk syukur atas potensi yang Allah berikan kepada kita sebagaimana firman Allah Swt.


ٱعۡمَلُوٓاْ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكۡرٗاۚ


Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah. (Saba: 13)


Siapakah Orang Yang Bersabar?


Hakikat kehidupan dunia ialah keniscayaan aneka cobaan yang beraneka ragam. Allah Swt berfirman,


وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ


Dan Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. [Surah Al-Baqarah: 155]


Dalam ayat tersebut dipaparkan aneka ujian atau bala' yang akan menimpa manusia dalam kehidupan ini. Mulai dari ketakutan, kelaparan, krisis finansial, krisis pangan, hingga kehilangan jiwa. Lalu apa hikmahnya? mengapa Allah Swt memperkenalkan atau menginformasikan aneka ujian tersebut sebelum terjadinya.


Imam Ar Razi menjawab, bahwa di antara hikmahnya ialah selain ini adalah mukjizat dari Allah Swt, juga agar setiap diri kita bisa lebih sabar dalam menghadapinya nanti. Serta menjauhkan diri kecemasan dan keresahan serta memudahkan untuk menghadapi ujian tersebut tatkala sudah terjadi. Setelah sebelumnya hamba-Nya dituntut untuk memohon pertolongan melalui sabar dan shalat. Dengan demikian kita dari sejak awal sudah mempersiapkan diri dan punya kesiapan mental untuk menghadapi ujian dan cobaan.


Senada dengan hal tersebut, dalam Tafsir Al Misbah, disebutkan bahwa ujian yang diberikan Allah sedikit. Kadarnya sedikit bila dibandingkan dengan potensi yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia. Ia hanya sedikit sehingga setiap yang diuji akan mampu memikulnya jika ia menggunakan potensi-potensi yang dianugerahkan Allah itu. Ini tidak ubahnya dengan ujian pada lembaga pendidikan. Soal-soal ujian disesuaikan dengan tingkat pendidikan masing-masing. Semakin tinggi jenjang pendidikan semakin berat soal ujian. Setiap yang diuji akan lulus jika ia mempersiapkan diri dengan baik serta mengikuti tuntunan yang diajarkan.


Lantas siapakah mereka yang disebut sebagai orang yang sabar?


اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ


“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innâ lillâhi wa innâ ilayhi râji‘ûn’ (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya). Mereka itulah yang mendapat banyak keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan (Pendidik dan Pemelihara) mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”


Kalimat ini tidak diajarkan Allah kecuali kepada Nabi Muhammad saw. dan umatnya.


انا لله وانا اليه راجعون 


Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya


Kalimat ini tidak hanya diucapkan dengan lisan saja, tetapi diiringi dengan ridha terhadap ketentuan dan taqdir dari Allah Swt. Kabar gembira ini ditujukan bagi mereka yang tertimpa musibah dalam keadaan tenang dan menerima ketentuan dari Allah sejak pertama kalinya. Tetapi bukan berarti juga menafikan kesedihan, seperti yang dilakukan Rasulullah Saw, tatkala ditinggal wafat anaknya Ibrahim. Matanya boleh meneteskan airmata, hatinya boleh bersedih, tetapi ia tidak berucap kecuali apa yang Allah ridhai, dan tidak melakukan apa yang dilarang oleh Allah ketika tertimpa musibah.


Mereka yang bersabar itu akan mendapatkan ragam keberkahan, rahmat Allah yang banyak, dan petunjuk, petunjuk untuk mengatasi kesulitan dan kesedihannya, serta petunjuk memperoleh jalan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.

di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar