Pesan Evaluasi Diri dalam Doa Nabi Yunus
لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّی كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ
Barangkali sebagian dari kita tidak asing mendengar lafazh doa tersebut. Doa ini merupakan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Yunus sewaktu beliau berada di dalam perut ikan huut ketika mendapatkan teguran dari Allah Swt ketika beliau meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah kepada mereka tanpa izin dari Tuhannya. Doa tersebut diabadikan Allah Swt di dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya ayat 87.
Walaupun sering dilafalkan dan bahkan sering dibaca dalam doa sehari-hari, sangat sedikit sekali umat Islam yang benar-benar menghayati makna dari doa tersebut dalam kehidupannya.
Lantas, apa sebenarnya makna dari doa Nabi Yunus tersebut, serta apa hikmah yang bisa diambil bagi kehidupan kita ke depan?
Untuk bisa memahami hikmah dari doa tersebut, terlebih dahulu kita perlu memahami konteks yang terjadi agar pemahaman kita lebih mendalam terhadap situasi dan tujuan dari doa tersebut. Nabi Yunus diutus ke daerah yang bernama Ninawa yang penduduknya menyembah berhala dan tidak mau beriman kepada Allah Swt.
Nabi Yunus menyeru mereka untuk melihat dan merenungkan bahwa di balik kebesaran alam yang indah ini ada Tuhan Yang Maha Besar, Tuhan Yang Maha Esa dan tempat bergantung segala urusan. Dialah yang lebih berhak disembah dan disucikan.
Namun, ajakan Nabi Yunus tidak dihiraukan oleh mereka, sebab menyembah berhala sudah menjadi tradisi turun menurun. Ditambah lagi, Nabi Yunus merupakan orang biasa, bukan dari golongan bangsawan dan tidak mempunyai kekayaan dan kekuasaan. Mereka menolak dan mencaci maki Nabi Yunus serta berupaya menghalangi-halangi dakwahnya dengan segala cara. Bahkan, ketika Nabi Yunus memperingatkan akan datangnya siksaan, bencana dan kehancuran, mereka tidak merasa takut.
Kesabaran Nabi Yunus pun mencapai puncaknya. Beliau kemudian pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah. Ketika Nabi Yunus pergi meninggalkan umatnya, ia pun tidak berpikir bahwa ia telah meninggalkan tanggung jawab dakwah yang telah dititipkan Allah padanya, bahkan menganggap Allah Swt tidak akan memberikan teguran kepadanya (QS.21:88).
Padahal justru sebaliknya, Nabi Yunus ditelan oleh ikan paus dan di sana barulah beliau menyesali perbuatannya dan bertobat kepada Allah karena ketidaksabarannya mendakwahi umatnya. Beliaupun memanjatkan doa dengan penuh penyesalan, menangis, dan berharap Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya. Perasaan sedih dan malu semua menjadi satu karena ternyata Allah memberikan teguran yang cukup keras atas perilakunya tersebut. Allah Swt akhirnya menerima tobat Nabi Yunus dan menyelamatkannya dari perut ikan (QS 31:146).
Doanya ketika di dalam perut ikan yang sangat terkenal sering kali dilafalkan umat Islam hari ini. Lalu, apa makna dan hikmah dari doa yang diucapkan Nabi Yunus a.s. ketika berada di dalam perut ikan?
Hikmah Doa Nabi Yunus a.s.
Ketika melakukan kesalahan yang menimbulkan ancaman atau kecemasan, seorang filosof dalam teorinya mengatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan “Ego Defense Mechanism” atau mekanisme pertahanan ego seperti melakukan rasionalisasi, menyalahkan orang lain atas kesalahannya, bersikap kekanak-kanakan dan sebagainya. Namun, apa yang bisa kita lihat dari kisah Nabi Yunus a.s., daripada sibuk mencari-cari alasan, menyalahkan orang lain dan sebagainya, beliau justru mengatakan “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim (QS 21:87)”.
Ada dua penekanan dalam doa Nabi Yunus a.s. Mari kita pahami satu persatu maknanya.
Pertama, Bersyahadat dan Menyucikan Allah.
Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Yunus a.s. setelah melakukan kesalahan adalah berdoa bahwa, tiada Tuhan yang patut disembah dan dipatuhi selain Allah Swt. Nabi Yunus a.s. menyadari ketika dia meninggalkan tugas yang diberikan oleh Allah tanpa izin-Nya, maka dia tidak melakukan amalan terbaik sesuai syahadatnya.
Ketika kita telah melakukan kesalahan atau dosa besar, maka kita telah melanggar ikrar atau syahadat kita kepada Allah. Maka, perlu bagi kita untuk membangun komitmen dan meneguhkan ulang ikrar kita bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dengan konsekuensi menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan sekuat tenaga. Nabi Yunus a.s. mengajarkan bahwa ketika kita melakukan kesalahan, Allah tempat kita meminta maaf dan bertobat.
Kedua, Mengakui Kesalahan.
Ketika Nabi Yunus a.s. melakukan dakwah dan mayoritas umatnya tidak menjawab panggilan dakwahnya, hal ini merupakan kesalahan dari umatnya yang tidak mau menerima kebenaran, bukan kesalahan Nabi Yunus. Namun, terlepas dari semua kesalahan umatnya ketika di dalam perut ikan, Nabi Yunus a.s. tidak mengungkit kesalahan umatnya, melainkan fokus pada kesalahan yang telah dilakukannya.
Kita perlu memahami bahwa kerusakan dan masalah yang kita timbulkan tidak jarang karena memang ulah tangan kita sendiri sebagaimana firman Allah yang berbunyi “…Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu) (QS 42:30)”. Sehingga evaluasilah diri kita ketika terjadi kesalahan.
Tidak ada gunanya memperjuangkan harga diri yang membuat kita tidak mau evaluasi dan mengakui kesalahan dan kekurangan diri, kelak orang yang demikian hanya akan menemukan kehancuran dalam hidupnya.
Kesimpulan
Dari hikmah doa Nabi Yunus a.s. di atas, kita dapat memahami bahwa doa tersebut berkaitan dengan konteks seorang hamba yang menyadari kesalahan dan kembali kepada Allah. Apa yang dialami oleh Nabi Yunus a.s. juga dapat menjadi pelajaran bagi kita di era kini. Oleh karena itu, doa Nabi Yunus a.s. bisa dijadikan sebagai pengingat agar kita senantiasa menjaga komitmen syahadat dengan konsisten menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Selain itu, kita perlu mengakui kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan agar tumbuh sikap evaluatif dalam diri dan terbuka pintu perbaikan.
Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk senantiasa mengevaluasi diri dalam setiap persoalan yang kita hadapi, sehingga setiap pengalaman dapat mendewasakan kita dan menjadi pelajaran yang berharga.
Semoga kita diberikan kemudahan hati untuk mengevaluasi diri dalam setiap masalah yang dihadapi, sehingga setiap pengalaman dapat mendewasakan dan kita petik pelajaran. Aamiin ya Rabbal’aalamiin. Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq.