Pentingnya Ihsan: Tinjauan Sejarah Penyembahan Berhala
Arkanuddin atau rukun-rukun ajaran Islam
terdiri atas tiga rukun, yaitu: rukun Islam, rukun iman dan rukun ihsan. Tanpa adanya ihsan, seorang Muslim dalam
ibadahnya, seperti shalat, bisa tergelincir kepada penyembahan terhadap selain
Allah karena pikirannya selama shalat tidak diarahkan kepada Allah atau tidak
menyakini bahwa Allah Swt. melihatnya.
Orang-orang Arab, terutama yang berada di kota
Makkah, pada awalnya adalah penyembah Allah Swt. atau bertauhid karena mereka
adalah masih keturunan dari Nabi Ismail as. dan Nabi Ibrahim as. yang hanif,
bertauhid kepada Allah Swt. Dan Ka`bah yang terletak di kota Makkah adalah
bangunan tauhid yang mereka ketahui sebagai arah untuk menyembah Yang Maha Esa,
Allah Swt. Beratus-ratus tahun mereka menyembah Allah Swt. tanpa kemusyrikan,
sampai tiba masa di mana keyakinan tauhid mereka goyah karena pengaruh dari keinginan
mereka untuk mewujudkan sesembahan dalam materi di mana Allah Swt. perlu
dibuatkan perantara bentuk fisiknya, yaitu berhala. Inilah keadaan alam pikiran
orang-orang Arab di kota Makkah yang telah menghilangkan Ihsan dalam ibadahnya
sehingga memunculkan kesyikiran, penyekutuan Allah Swt. dalam ibadah mereka.
Orang pertama yang membawa berhala ke Makkah
adalah Amr bin Luhay, seorang pemimpin suku Khuza'ah. Menurut Ibnu
Hisyam, dia dibesarkan sebagai orang yang suka berbuat bijak, mengeluarkan
sedekah dan hormat terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang
mencintainya dan mereka menganggapnya sebagai salah seorang ulama besar dan
wali yang disegani.
Seperti
kebiasaan orang Quraisy lainnya yang merupakan pedagang, Amr bin
Luhay mengadakan perjalanan dagang ke Syam. Di sana dia melihat penduduk
Syam yang menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang
baik serta benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat lahirnya para nabi,
rasul, turunnya kitab-kitab suci. Ia tertarik dengan praktik tersebut
dan beranggapan bahwa berhala dapat menjadi perantara untuk mendekatkan diri
kepada Tuhan. Ia kemudian meminta satu berhala kepada suku Amaliqah di Syam
untuk dibawa pulang.
Maka Amr bin Luhay pulang sambil
membawa berhala Hubal dan meletakannya di dalam Ka’bah. Setelah itu
dia mengajak penduduk Mekkah untuk menyembah Hubal tersebut. Orang-orang Hijaz pun
banyak yang mengikuti penduduk tanah suci.
Ibnu Hisyam berkata:
“Salah seorang dari orang berilmu
berkata kepadaku bahwa: 'Amr bin Luhay pergi dari Makkah ke Syam untuk satu keperluan. Ketika
tiba di Ma'arib, daerah di Balqa'. Ketika itu, Ma'arib
didiami Al Amaliq - anak keturunan Imlaq (ada yang mengatakan Amliq)
bin Lawudz Sam bin Nuh. Di sana, Amr bin Luhai melihat mereka menyembah
berhala. la berkata kepada mereka, "Berhala-berhala apa yang kalian sembah
seperti yang aku lihat ini?" Mereka berkata kepada Amr bin Luhay,
"Kami menyembah berhala-berhala ini guna meminta hujan kepadanya, kemudian
ia memberi kami hujan. Kami meminta pertolongan kepadanya kemudian ia
memberikan pertolongan kepada kami." Amr bin Luhai berkata kepada mereka,
"Apakah kalian mau memberiku satu berhala untuk aku bawa ke jazirah Arab kemudian mereka menyembahnya?"
Mereka memberi Amr bin Luhai satu berhala yang bernama Hubal. Amr bin Luhay tiba di Makkah dengan membawa berhala
Hubal. Ia memasangnya, kemudian memerintahkan manusia menyembahnya dan
mendewa-dewakannya.”
Penyembahan kepada berhala Hubal ini menjadi awal mula penyimpangan
ajaran tauhid yang dianut oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dan agama lurus
(hanif) mulai tergerus di Jazirah Arab, khususnya di kota Makkah.
Jika Hubal adalah berhala yang merupakan patung pria terbuat
dari batu akik merah yang tangan kanannya berupa emas karena pernah patah
sehingga diganti dengan tangan yang terbuat dari emas, maka ada tiga berhala
yang menyusul kemudian yang merupakan
perempuan dan menjadi sesembahan orang Arab, yaitu Manat, Latta dan Uzza.
Berhala Manat, ditempatkan di Musyallal di tepi Laut
Merah di dekat Qudaid Kemudian mereka membuat Latta di Thaif, dan Uzza di
Wadi Nakhlah. Ketiga berhala itulah yang paling besar. Setelah itu kemusyrikan
semakin merebak dan berhala-berhala yang lebih kecil bertebaran di setiap
tempat di Hijaz.
Tentang
penyembahan tiga berhala perempuan ini, Allah Swt. berfirman di surah al-Najm
ayat 19-21:
(21) أَفَرَأَيْتُمُ اللَاّتَ وَالْعُزَّى (19) وَ مَناةَ
الثَّالِثَةَ الْأُخْرى (20) أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثى
“Apakah
menurut kalian al-Lata dan al-Uzza. Pun manat tiga yang lain. Apakah bagi
kalian lelaki dan baginya Perempuan.”
Namun, jika
mereka orang-orang Quraisy ditanyakan apakah mereka masih menyembah Allah Swt.?
Mereka pasti mengatakan tetap menyembah Allah Swt. sedangkan berhala yang
mereka sembah hanya perantara saja, inilah yang disebut dengan kesyirikan.
Allah Swt. berfirman di surah Az-Zukhruf ayat 9:
وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ
وَالْاَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيْزُ الْعَلِيْمُۙ ٩
“Jika kamu menanyakan kepada mereka, “Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi,” pastilah mereka akan menjawab, “Yang
menciptakannya adalah Zat Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.”
Orang-orang
Quraisy Jahiliyah yang tadinya bertauhid kemudian menjadi penyembah berhala
karena berhala-berhala mereka berbeda dengan berhala di zaman Nabi Nuh as.
sampai zaman Nabi Ibrahim as. yang hanya diam, tidak bisa bersuara apalagi
berbicara; berbeda juga dengan berhala di saman Nabi Musa as., yaitu anak sapi
emas yang dibuat oleh Samiri yang hanya bisa mengeluarkan suara anak sapi saja.
Berhala-berhala orang Quraisy ini, bahkan di saat Rasulullah saw. mendakwahkan
Islam bisa bicara dengan bahasa Arab yang fasih karena kemasukkan jin kafir,
seperti Hubal dan Uzza. Inilah yang membut orang-orang Quraisy kagum bukan
kepalang dan menyembah berhala-berhala ini. Apalagi berhala-berhala ini bisa
memberikan saran dan nasehat kepada mereka.
Penulis : Rakhmad Zailani Kiki