Skip ke Konten

PANGERSA ABAH ANOM & SPIRIT MENGANGKAT HARKAT MARTABAT KAUM MARGINAL

(Konteks: Tunanetra)


Melanjutkan Semangat Guru: Dari Korban Narkoba hingga Tunanetra.


Oleh: A. Latif Hatam (Ketua LDTQN Pontren Suryalaya Korwil DKI Jakarta)

Suatu ketika, seseorang bertanya, “Apakah memperhatikan tunanetra, anak punk, atau anak-anak kolong jembatan bisa disebut melanjutkan perjuangan Pangersa Abah Anom? Bukankah dahulu Pangersa Abah lebih dikenal karena mengurusi korban narkoba?”

Pertanyaan itu menarik. Sebab ia menyentuh satu hal yang sangat mendasar: apakah melanjutkan perjuangan guru berarti mengulang persis apa yang dilakukan guru, ataukah melanjutkan ruh dan nilai yang beliau wariskan?


Jika kita melihat lebih dalam, sesungguhnya yang diwariskan para mursyid bukanlah sekadar program. Yang diwariskan adalah cara memandang manusia.


Melihat yang Tidak Dilihat Orang Lain


Ketika Pangersa Abah Anom membuka pintu bagi para korban narkoba, masyarakat pada waktu itu umumnya melihat mereka sebagai beban sosial. Mereka dianggap gagal, rusak, bahkan tidak memiliki masa depan. Namun Pangersa Abah Anom melihat sesuatu yang berbeda. Beliau tidak melihat pecandu. Beliau melihat manusia. Beliau tidak melihat kegagalan. Beliau melihat fitrah yang tertutup. Beliau tidak melihat masa lalu seseorang. Beliau melihat kemungkinan masa depannya. Karena itulah ribuan orang yang telah kehilangan arah hidup akhirnya menemukan kembali martabat dan harapan melalui sentuhan kasih sayang beliau. Di sinilah letak keistimewaan seorang guru ruhani. Beliau mampu melihat cahaya pada diri seseorang, bahkan ketika orang tersebut sudah tidak mampu melihat cahaya itu dalam dirinya sendiri.


Benang Merah yang Sama


Hari ini, sebagian murid-murid beliau memilih jalan pengabdian yang berbeda.

  • Ada yang mendampingi tunanetra.Hatam
  • Ada yang membina anak-anak punk di kolong jembatan. Halim Ambiya
  • Ada yang membina dan menampung anak2 yang tidak dirawat orang tuanya. Alif Annashr
  • Ada yg memberi makan kepada orang-orang dhuafa dan di bantaran Sungai. Ibubellajakarta Laznas Walayah Dpf
  • Ada yang mendampingi kelompok-kelompok rentan lainnya.

Secara lahiriah, mereka berbeda dengan korban narkoba. Namun jika dilihat dari sudut pandang rahmah, sesungguhnya mereka memiliki kesamaan yang sangat mendasar. Mereka adalah kelompok yang sering luput dari perhatian. Mereka adalah manusia yang tidak selalu mendapat kesempatan yang sama. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan lebih banyak kasih sayang, pendampingan, dan keberpihakan.

Mereka adalah manusia-manusia yang sering kali harus berjuang lebih keras hanya untuk menjalani kehidupan yang bagi sebagian orang dianggap biasa. Karena itu, ketika seseorang mendekati mereka dengan cinta dan kepedulian, sesungguhnya ia sedang berjalan di jalan yang sama dengan yang dahulu ditempuh oleh Sang Guru pembimbing umat.


Pelajaran dari Al-Qur’an


Menarik untuk mengingat peristiwa yang diabadikan dalam Surat ’Abasa. Ketika seorang tunanetra bernama Abdullah bin Umm Maktum datang kepada Rasulullah ﷺ, Allah menurunkan teguran yang sangat halus namun mendalam. Bukan karena Rasulullah membenci beliau. Tidak. Tetapi karena Allah ingin mengajarkan kepada umat manusia bahwa orang-orang yang sering dianggap kecil di mata dunia justru memiliki kedudukan yang besar di sisi-Nya.

Peristiwa ini mengandung pesan yang sangat kuat:

  • Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisiknya.
  • Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh status sosialnya.
  • Kemuliaan manusia ditentukan oleh kedudukannya di hadapan Allah.

Maka tidak mengherankan jika Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar kepada kelompok-kelompok yang lemah dan membutuhkan perlindungan.

Tunanetra dan Tantangan Kehidupan

Di antara kelompok yang memerlukan perhatian lebih besar saat ini adalah para tunanetra. Banyak di antara mereka memiliki kecerdasan, semangat, dan keteguhan yang luar biasa. Namun mereka harus menghadapi kenyataan bahwa kesempatan kerja yang tersedia bagi mereka masih sangat terbatas. Hampir tidak ada perusahaan yang siap menerima mereka. Tidak semua lingkungan menyediakan akses yang memadai. Tidak semua orang memahami bagaimana berinteraksi dan bekerja bersama mereka. Akibatnya, sebagian tunanetra harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan penghasilan yang layak dan kehidupan yang mandiri. Padahal mereka memiliki hak yang sama untuk hidup bermartabat. Mereka memiliki hak yang sama untuk berkembang. Mereka memiliki hak yang sama untuk berkarya. Dan mereka memiliki hak yang sama untuk merasakan bahwa masyarakat hadir untuk mereka.


Rahmah yang Menjadi Gerakan.


Jika dahulu Pangersa Abah Anom memperlihatkan bahwa korban narkoba bukan manusia yang harus dijauhi, maka hari ini kita perlu menunjukkan bahwa tunanetra bukan manusia yang harus dikasihani semata. Mereka perlu diberdayakan. Mereka perlu diberikan ruang. Mereka perlu diajak tumbuh bersama. Kasih sayang yang sejati bukan hanya memberi bantuan sesaat. Kasih sayang yang sejati adalah membantu seseorang menemukan kembali kemampuan dan martabatnya. Karena itu, memperhatikan tunanetra bukan sekadar aktivitas sosial. Ia adalah wujud nyata dari ajaran rahmah. Ia adalah salah satu praktik tasawuf dalam bentuk yang paling konkret. Ia adalah dzikir yang menjelma menjadi pelayanan. Ia Adalah Kebajikan yg timbul dari kesucian. Ia adalah cinta kepada Allah yang diwujudkan melalui cinta kepada hamba-hambaNya.


Saatnya Kita Terlibat


Hari ini mungkin kita tidak memiliki kemampuan untuk membangun lembaga besar. Mungkin kita tidak memiliki kekuatan untuk mengubah seluruh sistem. Namun kita selalu memiliki kemampuan untuk memulai dari langkah kecil.

  • Kita bisa mengenal mereka.
  • Kita bisa mendengar cerita mereka.
  • Kita bisa membeli produk yang mereka hasilkan.
  • Kita bisa membuka peluang kerja bagi mereka.
  • Kita bisa mendukung program Pendidikan.
  • Kita bisa melakukan pemberdayaan ekonomi mereka.
  • Kita bisa menjadi sahabat bagi mereka.

Karena sering kali yang paling dibutuhkan seseorang bukanlah belas kasihan, melainkan kesempatan.

Mari Bergerak Bersama

Jika kita benar-benar ingin melanjutkan semangat para guru yang mengajarkan rahmah, maka marilah kita hadir untuk mereka yang tidak melihat orang dan tidak dilihat orang. Mari kita jadikan kepedulian kepada tunanetra bukan sekadar kegiatan sesaat, tetapi gerakan bersama. Mari bantu mereka memperoleh pendidikan yang lebih baik. Mari bantu mereka mendapatkan keterampilan yang lebih luas. Mari bantu mereka memiliki profesi dan ekonomi yang lebih layak. Mari bantu mereka membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukanlah keterbatasan masa depan.

Sebab bisa jadi, ketika kita menggenggam tangan seorang tunanetra dan membantunya berjalan, sesungguhnya Allah sedang menuntun kita menuju jalan yang lebih dekat kepada-Nya.


Melayani mereka yang lemah bukan sekadar pekerjaan sosial.

Ia adalah jalan menuju kemuliaan hati.

Dan mungkin, di situlah semangat pangersa Abah Anom tetap hidup hingga hari ini.

di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar