Skip ke Konten

Pandai Merasa, Bukan Merasa Pandai

Pandai Merasa, Bukan Merasa Pandai


Istilah “Jadilah orang yang pandai merasa, jangan jadi orang yang merasa pandai” adalah ungkapan bijak yang mengandung pesan moral dan refleksi diri yang cukup dalam. Mari kita uraikan maknanya:


Pandai merasa itu artinya memiliki kepekaan, empati, dan kesadaran emosional terhadap orang lain maupun situasi di sekitar. Orang yang pandai merasa biasanya: mampu membaca suasana hati orang lain, tidak memaksakan kehendak, tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, peka terhadap kebutuhan dan luka orang lain, rendah hati dan tidak egois.


Sedangkan merasa pandai itu artinya seseorang yang sombong dengan pengetahuannya, merasa lebih unggul padahal belum tentu benar-benar paham. Orang yang merasa pandai biasanya: suka menggurui, kurang mendengarkan, meremehkan pendapat orang lain, tidak terbuka untuk belajar hal baru, dan cenderung arogan.


Kalimat pandai merasa ini mengajak kita untuk lebih mengasah kepekaan daripada membusungkan dada karena merasa pintar. Ilmu dan kepandaian itu penting, tetapi tanpa kerendahan hati dan empati, semua itu bisa sia-sia.


Contohnya dalam kehidupan, seorang pemimpin yang pandai merasa akan mendengarkan timnya dan menghargai pendapat mereka. Tetapi kalau dia hanya merasa pandai, dia akan mengabaikan masukan dan merasa selalu benar. Dalam hubungan, orang yang pandai merasa akan tahu batas bercanda, tahu kapan pasangan sedang lelah. Tapi orang yang merasa pandai mungkin terus merasa dirinya paling benar dan sulit introspeksi.


Kalimat pandai merasa ini sederhana, tetapi mengandung pelajaran hidup yang besar. Mau pintar?  Boleh. Tapi lebih penting lagi bijaklah dalam menggunakan rasa.


“Ilmu tanpa rasa hanya akan melahirkan kesombongan. Tapi rasa tanpa ilmu akan menumbuhkan kebijaksanaan.”


Agama adalah sumber kebahagiaan, karenanya bahagia itu bukanlah tentang bergelimangnya harta, melainkan mengerti ajaran agama dan menyadari bahwa seberat apa pun garis hidup yang dijalani, ada Tuhan yang senantiasa mengasihi.


Jangan menampilkan kesan agama sebagai sesuatu yang kaku bahkan cenderung wagu (wagu berarti aneh, janggal, atau tidak pada tempatnya). Sebagian orang menampilkan Tuhan sebagai sosok yang kejam dan penuh ancaman, padahal Tuhan adalah Maha Penyayang dan Maha Pengasih.


Urgensi Pentingnya Belajar dan Mengaji


Mencari ilmu adalah salah satu ibadah yang tanpa batas waktu. Di mana pun dan kapan pun kita tidak bisa lepas dari tuntutan kewajiban mencari ilmu yang hukumnya sangat wajib bagi seorang muslim. Mengajarkan ilmu kepada orang lain juga merupakan hal yang wajib, sebagaimana perintah Rasulullah Saw:


بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً


Sampaikan dariku walau satu ayat (HR. Bukhari)


Jangan sampai kita memanfaatkan waktu dan umur tanpa ilmu, isi hari-hari kita dengan ilmu.


فإن تعليمه العلم من أهم أمور الدين، وأعلى درجات المؤمنين


“Mengajarkan ilmu agama merupakan salah satu urusan agama yang paling utama dan derajat tertinggi bagi orang-orang beriman.”


Sayyidina Ali karramallāhu wajhah pernah memberikan arahan bahwa dalam menyampaikan ilmu agama kepada manusia harus melihat kadar kemampuan akal mereka agar agama dapat dipahami dengan baik dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Jika ilmu agama disalahpahami, maka akibatnya fatal, yaitu pendustaan terhadap agama.


حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُه


“Ajarkan hadis kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Apakah kalian senang jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR. Bukhari)


إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ


“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka berhati-hatilah dari siapa kamu mengambil agamamu.” (HR. Muslim)


Urgensinya sanad/isnad adalah bagian dari agama. Jika bukan karena sanad, seseorang tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan.


إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ


Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit agama, melainkan agama akan mengalahkannya (HR. Bukhari dan Muslim)


Tumbuhkan self confidence (percaya diri) yang positif, yang mampu menumbuhkan sifat optimisme dalam diri kita untuk melakukan hal-hal yang menakjubkan.


“When you have confidence, you can have a lot of fun. And when you have fun, you can do amazing things.” (Ketika kamu memiliki keyakinan diri, kamu dapat memiliki banyak kesenangan. Dan ketika kamu bersenang-senang, maka kamu akan melakukan hal-hal yang menakjubkan).


Inti utama beragama ternyata adalah kegembiraan. Beragama harus membuat orang gembira. Orang tidak boleh beragama terlalu kaku hingga menjadi wagu (aneh), apalagi sampai sok membela Tuhan dengan cara yang kasar.


Agama adalah sumber kebahagiaan. Itu berarti orang yang beragama seharusnya dipenuhi dengan kegembiraan. Kalau yakin punya Tuhan, ya harus bahagia. Masa mengaku punya Tuhan malah susah?


Apalagi jika ditakdirkan menjadi muslim, orang harus sangat bahagia. Tidak boleh mengaku Islam tetapi hidupnya tidak dipenuhi dengan kebahagiaan.


Penulis : H. Agus Syarif Hidayat

di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar