Skip ke Konten

Milad 120 Tahun Pondok Pesantren Suryalaya

Milad, Maulid, dan Haul dalam Satu Harmoni Spiritual
Milad 120 Tahun Pondok Pesantren Suryalaya

Milad, Maulid, dan Haul dalam Satu Harmoni Spiritual


Suryalaya, Tasikmalaya – Sejarah mencatat hari Sabtu, 23 Agustus hingga Jum’at, 5 September 2025, sebagai momentum yang amat langka di Pondok Pesantren Suryalaya. Untuk pertama kalinya, tiga perayaan agung. Milad ke-120 pesantren, Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Haul Hadratus Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tadjul ‘Arifin, qs, dilaksanakan dalam satu rangkaian penuh syukur. Ribuan jamaah dari berbagai daerah tumpah ruah di bumi Suryalaya, menjadikan peristiwa ini tak hanya sebagai agenda rutin, melainkan catatan emas perjalanan pesantren.


Acara puncak dimuli di Gedung Serba Guna Sukriyah Bakti Latifah Mubarokiyah. Bupati Tasikmalaya, H. Cecep Nurul Yakin, S.Pd., M.A.P., didampingi Pimpinan Pondok Pesantren KH. Akhmad Masykur Firdaus Arifin, memukul kentongan sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian acara. Hadir pula keluarga besar Abah Sepuh Syekh Abdulloh Mubarok, keluarga Abah Anom Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin, pejabat daerah, serta para ikhwan TQN Suryalaya yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.


Milad Suryalaya 120 Tahun: “Bangkit, Bersatu, Maju” dan mengangkat tema “120 Tahun Pondok Pesantren Suryalaya untuk Agama dan Negara”, KH. Akhmad Masykur menegaskan bahwa Milad ini bukan sekadar seremoni. Bagi agama, Suryalaya adalah pusat bimbingan ibadah, pendidikan ruhani, dan pengembangan tarekat. Bagi negara, Suryalaya berperan menjaga keutuhan NKRI, membina masyarakat, dan menanamkan nasionalisme.


Tiga nilai utama yang diusung, Bangkit, Bersatu, Maju, menjadi peneguhan kembali warisan perjuangan yang telah ditanamkan para pendiri.


Manakib: Ruh Spiritual yang Dirindukan


Manakib menjadi magnet utama bagi jamaah TQN. Kerinduan untuk “manakiban di Suryalaya” kembali terjawab dalam momentum bersejarah ini. Tak hanya menjadi ritual, manakib meneguhkan rasa kebersamaan, ikatan ruhani dengan guru mursyid, serta atmosfer religius yang khas dari Suryalaya.


Salah satu sesi yang mendapat perhatian khusus adalah Kuliah Subuh, yang dibawakan oleh KH. Abdul Latif Hatam, MA dengan penuh keteduhan. Ribuan jamaah memenuhi setiap sudut pesantren, bahkan kelas-kelas disulap menjadi penginapan untuk menampung lebih dari 25.000 orang yang hadir.


Suasana hening berubah menjadi penuh haru ketika KH. Abdul Latif Hatam, MA menyampaikan pesan inti: kesinambungan tarekat dan pentingnya khidmah.


Dalam tausiyahnya, beliau menegaskan bahwa wafatnya pengersa Abah tidak membuat Suryalaya sepi. Justru semakin ramai, menjadi bukti kuat bahwa tarekat ini mu’tabarah dan tetap muttasil.


“Mursyid itu tugasnya ada dua: talqin dan tarbiah. Apakah talqin terputus? Tidak. Masih banyak wakil talqin yang mulia. Apakah tarbiah terputus? Tidak. Karena tarbiah bisa dilakukan secara barzakhi, secara ruhani. Intinya tetap dilaksanakan oleh Hadratus Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin. Jadi tidak ada yang terputus, baik dari sisi talqin maupun tarbiah.”


Pesan ini langsung disambut dengan gema “amin” dari ribuan jamaah yang hadir.


Kuliah Subuh juga menyoroti pentingnya khidmah sebagai inti perjalanan spiritual. Analogi sederhana tapi mendalam disampaikan:


“Bapak, Ibu ngasih 2 juta ke saya, saya kembalikan 100 juta. Mau? Mau. Itulah khidmah. Kita ini cuma 2%, selebihnya doa guru yang 98%. Kita bagaikan pion dalam catur. Pion bisa mengalahkan raja, tapi yang hebat bukan pionnya, melainkan pemain caturnya. Begitu juga kita: hanya pulpen, bukan penulisnya. Maka jangan sombong, karena Laa wushula illa bil khidmah, kita tidak akan wushul kepada Allah kecuali dengan khidmah.”


Analogi pulpen yang hanya menjadi alat, namun bisa menghasilkan karya besar jika digerakkan penulis, menjadi renungan mendalam. Pesan ini mengingatkan bahwa setiap keberhasilan dakwah dan organisasi hanyalah buah dari doa guru mursyid, sementara peran murid hanyalah secuil, satu atau dua persen saja.


Kuliah Subuh di Milad 120 ini menjadi penanda kuat bahwa ruh perjuangan Suryalaya tidak pernah padam. Di saat Milad, Maulid, dan Haul disatukan, pesan khidmah dan kesinambungan tarekat terasa begitu relevan: menjaga warisan Abah Sepuh dan Abah Anom, sekaligus meneguhkan bahwa perjalanan ini akan terus berlanjut lintas zaman.


Milad ke-120 Pondok Pesantren Suryalaya bukan hanya perayaan usia, tetapi peneguhan arah spiritual. Lewat Kuliah Subuh yang penuh hikmah, jamaah diajak untuk terus meningkatkan khidmah dengan apa pun yang dimiliki, harta, ilmu, tenaga, maupun jabatan. Karena pada akhirnya, sebagaimana dipesankan dalam momen langka ini:


“La wusula illa bil khidmah – tidak ada jalan wushul menuju Allah kecuali dengan khidmah.”


di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar