Skip ke Konten

Merenungi Wasiat Syekh Abdul Qadir Al-Jilani

Merenungi Wasiat Syekh Abdul Qadir Al-Jilani

Kita akan bersama-sama merenungi wasiat seorang wali Allah yang sangat masyhur, Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Beliau bukan hanya seorang ulama, tetapi juga guru besar dalam bidang tasawuf yang ilmunya masih kita warisi hingga sekarang. Wasiat beliau ini sangat indah, sederhana, tetapi penuh makna untuk memperbaiki akhlak kita.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani mengatakan bahwa tasawuf dibangun di atas delapan hal penting:

1.    Dermawan – meneladani Nabi Ibrahim. Beliau tidak pernah makan sendiri, selalu mencari orang untuk diajak makan bersama. Dalil: Q.S Ali Imran ayat 92

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ

 “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92).

2. Ridha – meneladani Nabi Ishaq. Ridha berarti menerima segala ketentuan Allah dengan hati lapang. Contoh: ketika sakit, ketika rezeki sempit, kita tetap berkata, “Alhamdulillah, ini ketentuan Allah.”

3. Sabar – meneladani Nabi Ayyub. Beliau diuji sakit bertahun-tahun, kehilangan anak-anak, harta, tetapi tetap sabar. Dalil:

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

 “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).

4. Isyarah (petunjuk batin) – meneladani Nabi Zakaria. Beliau diberi tanda isyarah oleh Allah untuk tetap beribadah meski dalam keterbatasan. Meneladani Nabi Zakaria berarti meneladani kesabaran dalam berdoa, keyakinan pada kekuasaan Allah, dan kemampuan beribadah melalui isyarat saat tidak dapat berbicara, seperti yang dialaminya ketika mendapat kabar kelahiran putranya, Nabi Yahya. Kisahnya menunjukkan bahwa Allah mengabulkan doa hamba-Nya yang sabar dan tekun, serta mengajarkan pentingnya mensyukuri nikmat-Nya dalam segala keadaan. Dalil: Q.S Ali Imran ayat 38-41

 “Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa. Lalu, Malaikat (Jibril) memanggilnya ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya yang membenarkan kalimat dari Allah, (menjadi) anutan, menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.” Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak, sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?” (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.” Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku suatu tanda (kehamilan istriku).” Allah berfirman, “Tandanya bagimu adalah engkau tidak (dapat) berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah pada waktu petang dan pagi hari.”

5. Mengembara – meneladani Nabi Yusuf. Perjalanan hidupnya penuh perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi selalu membawa hikmah. Hikmah: jangan terlalu cinta dunia, hidup kita hakikatnya adalah perjalanan menuju akhirat.

6. Berpakaian sederhana (wol/bulu) – meneladani Nabi Yahya. Pakaian bukan untuk pamer, tapi untuk menutup aurat. Relevansi sekarang: jangan berlomba-lomba dalam kemewahan, tetapi berlomba dalam ketakwaan.

7. Mencintai alam – meneladani Nabi Isa. Beliau banyak menyendiri, merenungi ciptaan Allah. Dalil: Q.S. Ali Imran ayat 190

 اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang berakal.” (QS. Ali Imran: 190).

8. Faqir (merasa butuh Allah) – meneladani Nabi Muhammad SAW. Walau pemimpin umat, beliau hidup sederhana, tidur di atas tikar kasar, sering lapar, tetapi hatinya selalu kaya.

Syekh Abdul Qadir berpesan: Bila bertemu orang kaya perlihatkan kerendahan hati, jangan minder tapi juga jangan sombong. Bila bersama orang miskin tunjukkan kegagahan, jangan meremehkan mereka. Layani fakir miskin dengan tiga hal: tawadhu’ (rendah hati), budi pekerti baik, dan kebeningan hati.

Nabi bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim).

Saat kita melihat orang miskin, jangan merasa jijik atau meremehkan. Bisa jadi di sisi Allah, kedudukan mereka lebih tinggi dari kita. Sedangkan kalau bertemu orang kaya, jangan iri. Ingat, rezeki mereka ada hisabnya yang lebih berat.

Syekh Abdul Qadir mengingatkan, yang paling dekat kepada Allah adalah orang yang paling baik budi pekertinya, bukan karena harta, bukan karena jabatan. Tetapi karena hati yang ikhlas dan akhlak yang mulia. Dalil: Q.S Al Hujurat ayat 13

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Beliau berkata: cukup bagi kita dunia dengan dua hal, yaitu, bergaul dengan orang miskin dan menghormati para wali Allah. Mengapa orang miskin? Mereka lebih dekat dengan sabar, lebih jarang lalai karena dunia, dan lebih ringan hisabnya di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku berdiri di pintu surga, maka kebanyakan yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dari wasiat Syekh Abdul Qadir al-Jilani ini kita belajar bahwa jalan tasawuf adalah jalan penyucian hati. Kita harus dermawan, sabar, ikhlas, tawadhu’, dan selalu merasa butuh kepada Allah. Jangan menggantungkan diri kepada manusia, tapi hanya bergantung kepada Allah Swt. Semoga kita mampu mengamalkan nasihat ini dalam kehidupan sehari-hari, menjadi hamba yang rendah hati di hadapan Allah, penuh kasih sayang kepada sesama, dan istiqamah dalam beribadah.

Penulis : Bagus Prasetya, S.Pd.

di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar