Mengapa Santri Rela
Bersedekah kepada Kiai, Meskipun Sambil Ngesot
A. Latif Hatam
Mudir Idarah Aliyah (Ket DPP) JATMAN
NU
Ket LDTQN Pontren Suryalaya KORWIL DKI
Jakarta
Di dunia pesantren, sering kali kita menyaksikan pemandangan yang membuat dada bergetar: seorang santri atau wali santri datang kepada kiainya dengan membawa sedikit harta, kadang sekadar amplop lusuh berisi uang seadanya, lalu menyalaminya dengan takzim. Ada yang berjalan pelan, ada pula yang datang sambil ngesot. Tapi semua datang dengan hati penuh cinta dan wajah penuh cahaya.
Bagi sebagian orang luar, pemandangan ini tampak aneh. “Mengapa mereka mau bersedekah kepada kiai, bahkan sampai harus ngesot?” Padahal, mungkin si kiai hidupnya sederhana, tak menampakkan kekayaan duniawi. Namun bagi para santri dan keluarganya, apa yang mereka berikan — sebesar apa pun nilainya — tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang mereka terima.
Sebab di pesantren, mereka tidak sekadar menerima ilmu,
tetapi mendapat kehidupan baru. Mereka memperoleh tujuh hal
agung yang tidak bisa dibeli dengan uang, tidak diajarkan di universitas mana
pun, dan tidak diberikan oleh dunia modern yang sibuk mengejar citra dan angka.
Pertama: Ilmu yang mendalam dan otentik.
Pesantren adalah rumah bagi ilmu yang hidup, bukan ilmu yang mati di buku teks. Ilmu di pesantren bersanad, bersumber dari hati ke hati, dari generasi ke generasi, hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ. Imam Malik pernah berkata:
إِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَلَيْسَ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ
“Ilmu itu cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati, bukan karena banyaknya riwayat.”(Bayhaqi, Syu‘ab al-Iman)
Ilmu yang demikian bukan hanya mengajarkan cara berpikir, tapi
menumbuhkan cara hidup. Santri tidak hanya tahu apa itu halal dan haram, tapi
memahami mengapa ia harus hidup dalam takwa. Maka, ketika mereka bersedekah
kepada kiai, itu bukan “membayar guru”, melainkan menghaturkan syukur
kepada penjaga cahaya Ilahi.
Kedua: Ibadah dan riyadhah (latihan spiritual).
Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tapi madrasah ruhaniyah. Di sana, shalat malam, dzikir berjamaah, dan puasa sunah menjadi kebiasaan. Santri terbiasa bangun sebelum fajar untuk tahajud, sementara di rumah, jangankan tahajud — shalat subuh pun sering berat dibangunkan.
Allah berfirman:
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا
“Lambung mereka jauh dari tempat tidur, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan penuh harap dan takut.”(QS. As-Sajdah: 16)
Latihan ibadah ini disebut riyādhah ruhāniyah — latihan jiwa. Para ulama sufi menyebutnya jalan penyucian:
مَنْ لَمْ يُرَاضِ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا، نُودِبَ بِهَا فِي الْآخِرَةِ
“Siapa yang tidak melatih dirinya di dunia, ia akan disiksa oleh dirinya sendiri di akhirat.”(Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din)
Riyadhah seperti inilah yang menumbuhkan kekuatan moral
santri. Maka, sedekah mereka kepada kiai bukan tanda ketundukan buta, tapi
tanda cinta kepada sosok yang telah menuntun mereka menapaki jalan mujahadah.
Ketiga: Perlindungan dari pengaruh negatif zaman.
Dunia di luar pesantren hari ini begitu bising. Pergaulan bebas, narkoba, kekerasan verbal, konten destruktif di media sosial, dan candu handphone membuat banyak generasi kehilangan arah. Pesantren hadir sebagai benteng moral terakhir.
Santri hidup tanpa gawai, tanpa gemerlap dunia digital, namun justru mendapatkan ketenangan yang hilang di luar sana. Mereka tidak sekadar dibatasi, tetapi dilatih untuk menguasai diri sendiri.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah menulis:
مَنْ لَمْ يَمْلِكْ نَفْسَهُ، مَلَكَهُ الشَّيْطَانُ
“Siapa yang tidak mampu mengendalikan dirinya, akan dikendalikan oleh setan.”(Madarij as-Salikin)
Pesantren adalah sekolah kebebasan sejati — bukan kebebasan
melakukan apa saja, tetapi kebebasan dari perbudakan hawa nafsu dan teknologi.
Keempat: Penguasaan bahasa dan kemampuan komunikasi.
Santri bukan hanya diajarkan bahasa Arab dan kitab kuning, tapi juga bahasa Inggris, Arab dan Indonesia yang baik, bahkan dilatih berbicara di depan umum. Ini bukan hanya soal keterampilan, tapi simbol kesiapan dakwah.
Karena Nabi ﷺ diutus bukan hanya untuk satu kaum, tetapi untuk seluruh umat manusia.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada seluruh manusia.”(QS. Saba’: 28)
Bahasa adalah jembatan. Dengan menguasainya, santri menjadi
manusia internasional tanpa kehilangan akar spiritual. Banyak alumni pesantren
yang menjadi duta, jurnalis, akademisi, dan pemimpin global — karena di
pesantren, mereka belajar berbicara dengan hikmah.
Kelima: Pendidikan karakter dan kesederhanaan.
Di pesantren, tidak ada pembantu pribadi, tidak ada fasilitas mewah. Santri kadang mencuci pakaiannya sendiri, membersihkan asrama, dan makan bersama dengan menu sederhana. Dari sinilah tumbuh jiwa mandiri.
Dalam TANBIH TQN Suryalaya, Abah Anom berpesan: “Hendaklah kita bersikap Budiman, tertib dan damai; gotong royong; saling harga menghargai.” Nilai-nilai inilah yang membentuk karakter santri: kuat, ikhlas, dan tidak manja.
Penelitian Center for Islamic Studies UIN Malang
(2021) menemukan bahwa pesantren tradisional adalah sistem pendidikan
karakter paling efektif di Indonesia, karena menanamkan tanggung jawab sosial
dan spiritual. Disiplin di pesantren bukan paksaan, tetapi kesadaran.
Keenam: Pelatihan kepemimpinan (leadership).
Pesantren adalah laboratorium kepemimpinan paling alami. Para santri dilatih menjadi imam shalat, ketua kamar, penanggung jawab kegiatan, hingga pengurus madrasah. Mereka belajar memimpin dan dipimpin.
Tak heran, alumni pesantren banyak yang mendirikan lembaga pendidikan, yayasan sosial, bahkan ormas besar. Mereka terbiasa bekerja dalam struktur, tapi tetap rendah hati.
Inilah yang dimaksud Abah Anom dalam TANBIH: “Jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan.” Karena kepemimpinan santri dibangun di atas harmoni, bukan dominasi.
Hasil riset Hikam Institute (2022) menunjukkan
bahwa 68% alumni pesantren yang aktif di masyarakat memegang posisi
kepemimpinan — dari tingkat desa hingga nasional — dan dikenal dengan
integritas tinggi. Ini membuktikan bahwa pesantren bukan hanya melahirkan ahli
ibadah, tetapi juga arsitek peradaban.
Ketujuh: Adab.
Inilah mahkota dari semua pelajaran di pesantren.
Ketika di luar pesanten kehilangan adab murid terhadap guru — bahkan orang tua murid menuntut guru — di pesantren adab justru menjadi napas kehidupan. Santri tunduk di hadapan gurunya bukan karena takut, tapi karena tahu: tanpa adab, ilmu hanyalah kesombongan.
Imam Malik berkata:
تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”
Maka, ketika seorang santri atau wali santri datang bersedekah kepada kiai, bahkan sambil ngesot, sesungguhnya mereka tidak sedang “memberi,” tetapi mengembalikan — mengembalikan cinta kepada sumbernya, mengembalikan rasa syukur kepada tempatnya. Mereka tahu bahwa sedekah mereka tidak sebanding dengan ilmu, adab, perlindungan, dan doa yang mereka dapatkan.
Mereka sadar, di luar pesantren ada banyak ancaman, tapi di bawah bimbingan kiai mereka menemukan keselamatan. Di luar sana banyak guru yang pintar, tapi sedikit yang mendoakan muridnya setiap malam. Dan mereka tahu, di setiap rezeki yang mereka peroleh di masa depan, ada doa sang kiai yang menuntun jalannya.
Allah berfirman:
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
“Tidak ada balasan bagi kebaikan kecuali kebaikan (pula).”(QS. Ar-Rahman: 60)
Maka, santri memberi dengan cinta. Dan cinta, dalam dunia sufi, adalah bentuk tertinggi dari ilmu. Seperti kata Rumi:
العشقُ هو العلمُ الحقيقي، والباقي مجرّد تقليد
“Cinta adalah ilmu sejati; selebihnya hanyalah tiruan.”