Skip ke Konten

Membaca Ulang Sains Modern dalam Cahaya Tasawuf

Membaca Ulang Sains Modern dalam Cahaya Tasawuf

Pada tahun 2019, dunia sains kembali diguncang oleh temuan besar: keberadaan supermassive black hole yang berhasil dipotret dan dianalisis secara ilmiah. Penemuan ini bukan sekadar capaian teknologi, tetapi juga menjadi penguat bagi teori relativitas umum yang dikemukakan oleh Albert Einstein bersama rekannya Nathan Rosen, khususnya tentang kemungkinan adanya Einstein–Rosen Bridge, yang dalam bahasa populer dikenal sebagai wormhole atau jembatan ruang-waktu.


Dalam perspektif fisika teoretis, wormhole adalah “jalan pintas kosmik” yang memungkinkan perpindahan dari satu titik ruang-waktu ke titik lain tanpa harus menempuh jarak linear yang sangat panjang. Sebuah konsep yang, jika direnungkan dengan jujur, terasa sangat dekat dengan ungkapan Al-Qur’an:

“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.” (QS. Adz-Dzariyat: 7)

Ayat ini sejak berabad-abad lalu dibaca sebagai isyarat metafisis. Namun hari ini, sains modern justru membuka kemungkinan pemaknaan yang lebih luas: bahwa alam semesta memang memiliki “jalan-jalan”, lintasan-lintasan non-linear yang melampaui logika jarak dan waktu sebagaimana kita pahami secara sehari-hari.



Isra Mi’raj: Peristiwa yang Menantang Logika Ruang dan Waktu

Peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ adalah salah satu episode paling agung sekaligus paling “mengganggu” bagi logika rasional murni. Dalam QS. Al-Isra ayat 1 ditegaskan:

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…

Dalam satu malam, bahkan disebutkan hanya sebagian malam, Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan lintas dimensi: dari Makkah ke Baitul Maqdis (Isra), lalu menembus lapisan langit dari langit pertama hingga langit ketujuh, sampai Sidratul Muntaha (Mi’raj). Di sana, beliau menerima hadiah terbesar bagi umat manusia: shalat lima waktu.


Masalahnya sederhana namun menghantam keras nalar fisika klasik: bagaimana mungkin perjalanan sejauh itu ditempuh hanya dalam semalam?



Kecepatan Cahaya dan Kebuntuan Logika Linear

Buraq digambarkan sebagai makhluk dari cahaya. Dalam fisika, kecepatan cahaya adalah sekitar 300.000 km per detik. Jika kita kalikan dengan satu jam, maka cahaya menempuh sekitar 1,08 miliar kilometer per jam. Angka yang luar biasa cepat.


Namun saat kita gunakan akal kita untuk berpikir, mari kita cermati, bintang terdekat dari tata surya kita, Proxima Centauri, berjarak sekitar 47 triliun kilometer. Dengan kecepatan cahaya sekalipun, jarak ini baru bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 4–5 tahun cahaya, atau sekitar 47.000 jam.


Artinya apa? Jika Isra Mi’raj hanya mengandalkan kecepatan cahaya secara linear, maka perjalanan Rasulullah ﷺ mustahil selesai dalam semalam. Bahkan untuk mencapai bintang terdekat saja tidak cukup.


Di sinilah banyak orang berhenti. Bingung. Lalu memilih jalan pintas: “Ini mukjizat, jangan dipikirkan.” Padahal, Al-Qur’an berkali-kali justru memerintahkan kita untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran.



Black Hole, Wormhole, dan Jalan Pintas Kosmik

Sains modern menawarkan satu kemungkinan yang menarik: perjalanan non-linear melalui struktur ruang-waktu ekstrem, seperti black hole dan wormhole. Dalam teori Einstein–Rosen, wormhole memungkinkan dua titik yang sangat jauh di alam semesta terhubung oleh sebuah “jembatan”.


Jika demikian, maka Isra Mi’raj bukan perjalanan jauh, melainkan perjalanan singkat melalui jalur khusus.


Bukan menempuh jarak, tetapi menembus dimensi. Bukan memutar, tetapi melalui jalan tercepat. Dan di sinilah rahasia besar itu mulai terbuka: jalan tercepat tidak bisa ditempuh sendirian.



Jibril: Pembimbing dalam Perjalanan Dimensi

Rasulullah ﷺ tidak melakukan Mi’raj sendirian. Beliau dibimbing oleh Malaikat Jibril. Ini bukan detail kecil. Ini kunci.


Dalam tradisi tasawuf, perjalanan menuju Allah disebut suluk. Dan suluk yang sejati selalu membutuhkan pembimbing, seseorang yang sudah pernah “sampai”.


Orang bodoh berjalan sendirian. Orang cerdas mencari peta. Orang bijak mengikuti penunjuk jalan.


Malaikat Jibril dalam peristiwa Mi’raj adalah mursyid kosmik, pembimbing lintas dimensi yang mengetahui jalur, bahaya, dan batas-batas perjalanan. Bahkan Jibril sendiri berhenti di Sidratul Muntaha. Artinya, ada wilayah yang hanya bisa dimasuki oleh Rasulullah ﷺ karena kapasitas ruhani beliau.



Thariqah: Wormhole dalam Bahasa Tasawuf

Dalam tasawuf, thariqah berarti jalan. Bukan sembarang jalan, tetapi jalan tercepat dan teraman menuju Allah.


Jika black hole atau wormhole adalah jalan pintas kosmik dalam fisika, maka thariqah adalah jalan pintas ruhani dalam tasawuf.


Keduanya punya kesamaan mencolok:

1. Tidak bisa ditempuh sembarangan

2. Berbahaya tanpa pembimbing

3. Hanya bisa dilalui oleh yang memenuhi syarat


Maka tidak mengherankan jika Rasulullah ﷺ sendiri mencontohkan pentingnya bimbingan. Bahkan dalam urusan dzikir, Sayyidina Ali r.a. meminta secara langsung kepada Nabi ﷺ agar diajarkan jalan tercepat menuju Allah.


Hadis tentang talqin dzikir antara Nabi ﷺ dan Ali r.a. menunjukkan satu hal tegas: dzikir pun ada sanadnya, ada transfer ruhani, ada adab dan bimbingan.



Dari Rasulullah ke Para Sahabat, hingga Para Mursyid

Rasulullah ﷺ membimbing para sahabat. Para sahabat yang terpilih kemudian membimbing generasi berikutnya. Demikian seterusnya, melalui rantai ruhani yang disebut silsilah.


Dalam Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), silsilah ini sampai kepada Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Pangersa Abah Anom) sebagai mursyid kamil yang membimbing umat di zamannya menuju Allah melalui jalur tercepat.


Namun tidak semua orang layak menjadi pembimbing. Syaratnya sangat berat:


“Dengan syarat diambil dari hati yang bertakwa, bersih, dan kosong dari selain Allah.”


Ini bukan klaim kosong. Ini standar kosmik. Sama seperti tidak semua lubang di angkasa adalah wormhole, tidak semua orang berilmu adalah mursyid.



Kewajiban Mencari Wasilah

Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan kita untuk berjalan sendirian:


“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah untuk mendekat kepada-Nya…” (QS. Al-Ma’idah: 35)


Wasilah bukan pengganti Allah. Wasilah adalah jembatan. Sama seperti wormhole bukan tujuan, tetapi jalan.


Merasa bisa sampai tanpa pembimbing adalah kesombongan spiritual. Sehebat apa pun amalan seseorang, tanpa mursyid, ia rawan tersesat atau lebih buruk lagi, merasa sudah sampai padahal belum berangkat.



Kunci-Kunci Dzikir

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya di antara manusia ada kunci-kunci pembuka dzikir kepada Allah. Jika mereka dipandang, teringatlah kepada Allah.” (HR. Thabrani)


Mursyid adalah kunci. Bukan tujuan. Tapi tanpa kunci, pintu tidak akan terbuka.


Maka jika seseorang ingin meneladani Rasulullah ﷺ secara paripurna, jangan pilih-pilih sunnah sesuka hati. Rasulullah ﷺ melakukan Mi’raj dengan pembimbing. Kita pun tidak akan sampai tanpa pembimbing.


Kita tidak bisa langsung ke Jibril. Kita tidak hidup di zaman Rasulullah ﷺ. Maka carilah pembimbing yang hidup di zaman kita. Sebagaimana dikatakan para ‘arif:


“Bersamalah dengan Allah. Jika engkau belum mampu bersama Allah, maka bersamalah dengan orang yang bersama Allah. Ia akan menyampaikanmu kepada Allah.”


Di sinilah Isra Mi’raj menemukan relevansinya hari ini: bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi peta jalan ruhani. Jalan tercepat memang ada. Tapi hanya bagi mereka yang mau merendahkan hati, mencari wasilah, dan berjalan bersama pembimbing.

Selain itu? Hanya putaran panjang yang melelahkan, tanpa pernah benar-benar sampai.


Penulis : Rohdian Al Ahad

di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar