Skip ke Konten

Memahami Esensi Maksud, Tujuan, dan Niat Menuju Ilahi

Memahami Esensi Maksud, Tujuan, dan Niat Menuju Ilahi


Dalam perjalanan spiritualitas dan kehidupan, kita sering kali dihadapkan pada konsep “maksud” dan “tujuan” yang kerap dianggap serupa. Namun, pemahaman yang mendalam terhadap keduanya, serta peran “niat” dan pentingnya “makrifat”, adalah kunci untuk mengarungi hidup yang bermakna dan mencapai kedekatan sejati dengan Allah.


Maksud dan Tujuan: Apa Bedanya?


Maksud adalah sesuatu yang dituju, sedangkan tujuan adalah sesuatu yang dicari. Contohnya, maksud kita sekolah adalah sekolah itu sendiri, namun tujuannya bisa beragam: mencari ilmu, meraih ijazah, mencari teman, mencari jodoh, atau mengubah nasib.


Sama halnya dengan maksud ke kantor pos, bisa jadi tujuannya berbeda-beda: mengirim surat, mengambil paket, atau membayar tagihan. Bahkan ketika maksudnya sama-sama ke masjid, tujuan setiap orang bisa berbeda: ada yang ingin i‘tikaf, mendengarkan kajian, atau sekadar menikmati makanan setelah acara.


Penting untuk diingat bahwa maksud yang baik adalah awal kebaikan, tetapi tujuanlah yang harus dipastikan yang terbaik. Banyak yang maksudnya baik, namun tujuannya keliru, sehingga hasilnya di mata Allah menjadi berbeda, meskipun usaha dan lelahnya sama.


Niat: Penentu Nilai Amalan


إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ


Sesungguhnya amal itu diukur dari niatnya. (HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa segala urusan tergantung pada apa yang diniatkan. Ini adalah dalil utama mengapa tujuan menjadi sangat krusial.


Kisah tiga sahabat Rasulullah yang berhijrah dari Mekah ke Madinah menjadi ilustrasi nyata. Sahabat pertama berhijrah karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sahabat kedua berhijrah karena peluang bisnis di Yasrib yang subur. Sahabat ketiga berhijrah karena ingin menikahi Ummu Sulaim, seorang wanita yang ia kagumi.


Meskipun jarak, panas, capek, haus, lapar, dan lelah yang mereka tempuh sama, di mata Allah nilainya berbeda karena tujuan dan niat mereka yang membedakan.

Banyak amal yang terlihat seperti amal dunia, namun bisa menjadi amal akhirat karena niat yang bagus. Sebaliknya, amal yang terlihat akhirat bisa menjadi amal dunia jika niatnya buruk. Contohnya, mencari nafkah dengan niat karena Allah dapat menjadi amal akhirat. Sebaliknya, membaca Al-Waqi‘ah rutin selama bertahun-tahun jika tujuannya hanya untuk kelancaran rezeki di dunia, maka hanya akan tercatat sebagai amalan dunia.


Tujuan Hakiki: Ilahi Anta Maqsudi wa Ridhaka Mathlubi


Inti dari ajaran yang ditekankan adalah Ilahi anta maqshudi wa ridhaka mathlubi

(Ya Allah, Engkaulah yang kutuju dan ridha-Mu yang kucari)


Inilah maksud dan tujuan sejati. Sering kali, kita memang menuju Allah, namun tujuannya masih bercampur dengan keinginan duniawi, seperti kekayaan, jabatan, atau surga semata.


Konsep mahabbah (kecintaan kepada Allah) juga dijelaskan secara mendalam. Kita diminta untuk melimpahkan cinta kepada Allah, bukan meminta cinta dari Allah kepada kita. Sebab, cinta kepada makhluk belum tentu berbalas, sedangkan cinta kepada Allah sudah pasti berbalas, bahkan Allah akan lebih mencintai kita.


Makrifat: Mengenal Allah secara Mendalam


Makrifat adalah mengenal Allah pada tingkatan zat-Nya, bukan hanya nama-Nya, sifat-Nya, atau perbuatan-Nya.


Orang yang makrifat akan melihat segala sesuatu sebagai cerminan perbuatan Allah. Ia senantiasa muhasabah (introspeksi) dan mengubah pertanyaan “kenapa sih” (mengeluh) menjadi “kenapa ya” (mencari hikmah dan pesan Allah), bahkan dalam musibah sekalipun. Mereka tidak menyalahkan dan selalu merasa nikmat dalam batinnya.


Rabiatul Adawiyah dan Keikhlasan Sejati


Kisah Rabiatul Adawiyah menjadi teladan tentang tujuan murni. Ia membawa obor untuk membakar surga dan air untuk memadamkan neraka, karena ia mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka atau mengharap surga, melainkan karena cintanya yang tulus kepada-Nya.


Munajatnya yang terkenal, “Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku beribadah kepada-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu.”


Menuju Allah Tidak Bisa Sendirian: Pentingnya Wasilah dan Guru Mursyid


Perjalanan menuju Allah (wushul ilallah) tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan bimbingan dari orang yang sudah sampai kepada Allah, sesuai nasihat:


كن مع الله فإن لم تكن مع الله فكن مع من كان مع الله فإنه يوصلك إلى الله


Bersamalah dengan Allah, jika tidak mampu, bersamalah dengan orang yang sudah bersama Allah, niscaya ia akan mengantarkanmu kepada Allah


Tarekat adalah jalur khusus menuju Allah. Dalam tarekat, kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada tujuan selain Allah, seperti ingin lepas dari beban dunia, mencari dunia, mengejar karamah, atau mengejar makam spiritual. Tujuan tarekat sejati adalah menghilangkan keakuan.


Keakuan: Penghalang Utama


Keakuan (ego/kesombongan) adalah penghalang utama dalam mendekati Allah. Iblis (Azazil) adalah contoh makhluk yang terjebak keakuan, meskipun ia telah beribadah ribuan tahun. Indikator keakuan dalam diri manusia antara lain: merasa lebih benar, anti-kritik, dan tidak mau menerima nasihat, meremehkan orang lain, meskipun bisa jadi mereka adalah wali mastur, mudah tersinggung, sulit memaafkan, senang dipuji, iri hati, ingin jadi pusat perhatian, sering mengungkit kebaikan diri sendiri, sehingga amal besar menjadi kecil di sisi Allah.


Untuk menghilangkan keakuan, kita harus menjadi “nol” serendah-rendahnya di hadapan Allah. Seperti dalam matematika, angka yang dibagi dengan nol akan menghasilkan nilai tak terhingga. Jika kita menjadi “nol” di hadapan Allah, maka Allah akan melesatkan kita setinggi-tingginya, bahkan menjadikan kita sebagai ahlullah (keluarga Allah).


Beberapa praktiknya, memperbanyak meminta maaf dan mengakui kesalahan, bahkan jika tidak salah, menyapa dan tersenyum lebih dahulu, beramal secara sembunyi-sembunyi, menahan reaksi ego, mengucapkan bahwa pujian berasal dari Allah, beristighfar ketika dilupakan atau dikritik, memperbanyak meminta nasihat, dan memurnikan niat melalui dzikir Lā ilāha illallāh.


Pada akhirnya, di titik nol, nama kita padam, wujud kita lenyap, dan bayangan pun sirna. Hanya ada lautan cahaya tanpa tepi, di mana “aku” tak lagi ada, dan yang ada hanyalah Dia, selalu Dia.


Penulis : Rohdian Al Ahad

di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar