Skip ke Konten

Kiat Menjadi Murid yang Meraih Sukses Bahagia dalam Meraih Manisnya Tarekat

Kiat Menjadi Murid yang Meraih Sukses Bahagia dalam Meraih Manisnya Tarekat


1. Dalam kitab Anwarul Qudsiyyah, Syekh Abdul Wahhab Sya'roni menerangkan bahwa seorang murid harus mengurangi tidur di waktu Ashar dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tarekat supaya mendapatkan manisnya ibadah.


Syekh Ibrahim Dasuki, seorang ulama sufi, berkata: Bagaimana seorang murid mengaku cinta kepada tarekat, cinta kepada guru mursyidnya, padahal ia masih senang tidur di waktu sahur? Padahal amaliah seorang syekh mursyid adalah menghidupkan sepertiga malam, karena sepertiga malam adalah waktu pembagian kekayaan, dilimpahkan rahmat, barokah, dibukakan rahasia pintu-pintu langit yang tersembunyi, disebarkan berbagai ilmu, dan dikeluarkan segala yang tersembunyi di waktu sahur.


Apakah tidak malu mengaku cinta kepada Allah jika kemauanmu lemah untuk ibadah di sepertiga malam atau waktu-waktu selanjutnya? Syekh Ibrahim Dasuki berkata: Seorang murid yang baik hendaknya meneguhkan kemauan untuk benar-benar menjalankan tarekatnya dengan sungguh-sungguh agar halus budi pekertimu, melahirkan pancaran cahaya dalam hati sehingga timbul hikmah dalam ucapan dan tingkah lakumu, serta mampu membuat orang merasa senang melihatmu.


Syekh Ibrahim Dasuki juga berkata: Seandainya engkau ingin tarekatmu berbuah dan mendapatkan hasil, maka jauhilah dan jangan bergaul dengan orang yang berdebat tanpa didasari ilmu. Jangan engkau bersahabat dengan kaum ulama yang tidak mengamalkan ilmunya. Bersahabatlah dengan orang alim yang mengamalkan ilmunya dan ia tidak merasa bahwa dirinya seorang ulama, sebab orang semacam ini dapat memberikan hikmahnya.


2. Kiat mencapai kebahagiaan dalam menuju ridha Allah dan manisnya tarekat adalah seorang murid hendaknya mampu menanggung segala kesulitan dan rajin ibadah di malam hari maupun di siang hari tanpa kendur sedikit pun sampai hatinya mencintai Allah. Jika perasaan itu sudah bersemayam di hatinya, maka ia tidak akan menoleh kepada selain Allah, walaupun diuji dalam keadaan sulit maupun senang, dan tidak akan tertipu dengan bujukan rayuan nafsunya.


Selanjutnya, muridku, jika engkau benar-benar dalam kemauanmu, suci amalmu, dan suci hatimu, maka jangan engkau merasa sudah mencium baunya tarekat, merasa alim, banyak ibadah, atau paling pandai. Sebaiknya engkau merasa banyak kekurangan. Sebab, berapa banyak murid yang gagal dan terperosok dalam tarekatnya karena ia merasa ghurur alias membanggakan dirinya.


Syekh Ibrahim juga berkata: Wahai muridku, jika engkau benar-benar ingin menjadi murid sejati, murid yang mampu dibanggakan syekh mursyidnya, senantiasalah beribadah di malam hari, bermujahadah, jangan engkau bosan dan berpaling, dan jangan sekali-kali engkau meninggalkan ajaran tarekat yang sudah engkau dapatkan dari syekh mursyidmu agar engkau tidak terperosok dalam kehinaan. Beruntunglah engkau yang sudah Allah takdirkan dipertemukan dengan syekh mursyid. Banyak orang yang ingin mendapatkan syekh mursyid agar hatinya terbimbing untuk ibadah kepada Allah, tetapi Allah tidak menakdirkannya.


Syekh Ibrahim Dasuki berkata: Seorang murid yang hatinya tidak bersih dari penyakit hati, maka hatinya tidak akan bersinar sedikit pun. Maka wajib seorang murid terus istiqamah dalam mengamalkan ajaran tarekatnya yang sudah diberikan syekh mursyidnya — zikirnya, riyadhah, dan amaliah lainnya — agar hatinya memiliki pancaran nur dan kebersihan hati. Syekh Ibrahim Dasuki juga berkata: Hendaknya seorang murid menjaga adab dan tata krama kepada syekh mursyidnya dan ajarannya agar tetap harum. Seorang murid yang baik, murid sejati, adalah murid yang mampu menjadikan syekh mursyid bangga, bukan murid yang selalu membanggakan syekh mursyidnya.


Landasan pokok bagi seorang murid tarekat adalah menahan lapar, karena dengan hal tersebut tempat-tempat iblis dalam badan dan hati manusia dapat dibersihkan. Siapa pun yang ingin mendapatkan kebahagiaan dalam tarekat maka wajib menahan lapar menurut syariat, dan hendaklah ia makan sesuai kebutuhan, tidak berlebih-lebihan.


Seorang murid yang mampu menjalankannya, maka pondasi ajaran tarekat sudah terpenuhi. Menahan lapar adalah salah satu dari empat pondasi amalan para wali Allah: menahan lapar, tidak banyak tidur di malam hari, diam (tidak banyak bicara), dan mengasingkan diri (uzlah). Seorang murid yang mampu menahan lapar, maka tiga pondasi lainnya akan mengikutinya.


3. Rindu dengan amaliah tarekatnya dan selalu sayang kepada ikhwan.

Abdul Wahhab as-Sya’roni berkata: Seorang murid hendaknya selalu rindu dengan tarekatnya, ajarannya, dan amaliahnya. Tidak bosan dan tidak padam sedikit pun kerinduan itu, terus dijalankannya sampai lahir dalam dirinya manisnya istiqamah dalam ajaran syekh mursyidnya. Syekh Ali Ibnu al-Wafa berkata: Seorang murid tarekat yang baik hendaknya hatinya selalu berkobar untuk terus mengingat Allah agar cepat meraih anugerah Allah.


4. Tidak memberikan kesempatan kepada dirinya untuk menyibukkan diri kepada selain Allah.

Seorang murid hendaknya tidak memberikan kesempatan kepada dirinya untuk mencintai kebendaan secara berlebih-lebihan, melainkan sewajarnya. Sebagaimana Allah jelaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Munafiqun ayat 9:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu, anak-anakmu, istri-istrimu, dan jabatanmu melalaikanmu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.


Mohammad Muslih, S.Ag., M.Pd.I

di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar