Karakteristik Mu'min Sejati
Penulis: Handri Ramadian
Ketua LDTQN Pontren Suryalaya Korwil DKI Jakarta 2019-2024, Penasehat LDTQN Pontren Suryalaya Korwil DKI Jakarta 2024 – 2029.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam mendapatkan misi dari Allah SWT untuk meninggikan kalimat Allah, kalimat tauhid. Beliau diutus oleh Allah SWT menjadi rahmat untuk seluruh dunia. Kehadiran beliau menjadi pencerah kepada seluruh umat manusia Begitu juga para pewarisnya, yakni para ulama.
Sebagaimana hadist Rasulullah Muhammad SAW:
عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:
من سلك طريقا يطلب فيه علما سلك الله به طريقا من طرق الجنة
والملائكة تضع أجنحتها رضا لطالب العلم
وإن العالم يستغفر له من في السماوات ومن في الأرض والحيتان في الماء
وفضل العالم على العابد كفضل القمر ليلة البدر على سائر الكواكب
إن العلماء ورثة الأنبياء
إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما وأورثوا العلم فمن أخذه أخذ بحظ وافر
((رواه أبو داود والترمذي))"
Diriwayatkan dari Abu Darda (semoga Allah meridlainya): Aku mendengar Rasulullah (shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya) bersabda: "Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Para malaikat membentangkan sayap mereka karena ridha terhadap penuntut ilmu, dan segala sesuatu yang ada di langit maupun di bumi—bahkan ikan di dalam air—memohonkan ampunan bagi orang yang berilmu. Keutamaan orang yang berilmu dibandingkan ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan purnama dibandingkan bintang-bintang lainnya."
Sesungguhnya, para ulama adalah pewaris para nabi.
Para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham; melainkan mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang memperolehnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat berlimpah.
(HR. Abu Darda dan Imam Turmudzi, Riyad as-Salihin 1388, Bab.241 Ilmu Pengetahuan)
Titik penekanan pada hadits di atas adalah tentang keutamaan ilmu dan para pencarinya. Orang yang telah menguasai ilmu disebut seorang Alim, bentuk jamaknya adalah Ulama. Dan para ulama adalah pewaris para nabi.
Rasulullah SAW tidak mewariskan dinar atau dirham (harta kekayaan) tetapi Rasulullah mewariskan ilmu. Beliau beserta para sahabat, para pewaris-pewarisnya, para ulama, para warasatul anbiya ini mempunyai misi yang sangat mulia menjadikan umat manusia ini cinta kepada Allah SWT, beriman kepada Allah SWT.
Allah SWT menjelaskan karakteristik orang yang beriman dalan Al-Qur’an Surah Al-Anfal ayat 2 hingga 4.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
(QS Al-Anfal [8], ayat 2)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati nurani mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal. (QS Al-Anfal [8], ayat 2)
Pertanyaannya kepada kita saat ini, ketika nama Allah sedang didzikirkan kepada kita, apakah hati nurani (kalbu) kita bergetar?
Mari kita evaluasi, hingga detik ini apakah kalbu kita bergetar saat nama (Ismu) Allah didzikirkan? Baik melalui proses menyimak bacaan Qori dalam momen majlis ilmu atau kegiatan-kegiatan peringatan hari besar islam dan lain-lain. Baik ismu Allah tersebut didzikirkan secara mandiri atau lengkap bersama ayat-ayat lain yang menyertainya.
Beberapa orang, dalam kasus-kasus tertentu, ada yang sudah mencapai tahapan seperti ini. Saking kuatnya getaran dalam kalbu mereka --ketika Ismu Allah didzikirkan--, berdampak pada tubuhnya. Tubuh mereka terlihat bergetar, dan tanpa terasa meningkatkan emosi kecintaan kepada Allah swt, sehingga tanpa direkayasa, bulir-bulir air mata menetes dari sudut-sudut mata mereka.
Getaran kalbu yang mereka rasakan tidak melulu tercipta ketika Ismu Allah atau ayat-ayat Allah yang ada di Al-Qur’an, yang terlihat huruf dan terdengar bunyinya. Dalam fase tertentu getaran kalbu itu tercipta saat menyaksikan fenomena-fenomena alam, yang juga merupakan ayat-ayat Allah. Bagi orang awan, fenomena alam yang mereka hadapi adalah kejadian biasa saja, namun bagi orang-orang yang sudah mencapai tahapan ini, fenomena-fenomena alam yang mereka hadapi memiliki makna khusus, bahkan bisa menjadi penunjuk arah atas berbagai aktifitas yang akan mereka lakukan. Itu semua adalah anugerah dari Allah Yang Maha Kuasa. Mereka, dengan kepekaan kalbunya mampu menangkap pesan-pesan Allah SWT melalui tanda-tanda alam tersebut.
Capaian tersebut seringkali diperoleh melalui latihan-latihan pembersihan ruhaniah. Melalui rangkaian dzikir yang mereka lantukan secara istiqomah dan berjumlah banyak, sambil terus menerus menjalankan syari’at Allah SWT dan menjauhi larangan-laranganya.
(Bersambung....)