
Ibadah Qurban: Pengorbanan yang Menghidupkan Jiwa dan Menyatukan Umat
Segala puji hanya milik Allah yang telah mensyariatkan ibadah qurban sebagai bentuk ketakwaan dan cinta hamba kepada-Nya. Shalawat dan salam kita sampaikan, teruntuk Nabi sang pembawa Amanah, penyampai Risalah, yang menyampaikan dakwah dengan penuh Rahmah ,menembus hati sampai bashirah, sang peniti hati penuntun jiwa ke arah jalan keselamatan bukan saja di dunia bahkan sampai akhirah. Nabi Akhir Zaman, Rasulullah Muhammad Saw. Kepada Beliau kita gantungkan Impian dan harapan, semoga kiranya kita semua mendapat legalitas pengakuan sebagai umatnya sekaligus memperoleh rekomendasi Syafaat-Nya, Aamiin.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102)
Perintah, Hakikat dan Hikmah Qurban
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
"Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (Al Kautsar: 2)
Qurban adalah Bukti Ketakwaan
Allah Swt berfirman:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ialah ketakwaanmu (Al Hajj: 37)
“Dan unta-unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Ḥajj ayat 36)
Makna qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tapi menyembelih ego, cinta dunia, dan kekikiran. Ibadah qurban adalah latihan spiritual untuk menjadikan Allah sebagai pusat cinta dan tujuan utama.
Meneladani Pengorbanan Ibrahim & Ismail
Kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, menjadi simbol totalitas cinta kepada Allah:
"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."(QS. Ash-Shaffat: 102)
Pelajaran besar: Ketika cinta kepada Allah lebih utama dari segalanya, maka pengorbanan pun menjadi ringan, dan pertolongan Allah pun akan datang.
Manfaat Sosial, Ekonomi, dan Titik Balik Spiritual
1. Manfaat Sosial: Menguatkan Solidaritas Umat
Rasulullah Saw bersabda: "Makanlah darinya (daging qurban), dan berilah makan orang lain, serta simpanlah sebagian darinya." (HR. Muslim no. 1971)
Qurban menjadi momentum berbagi kebahagiaan, terutama kepada fakir miskin yang mungkin hanya menikmati daging setahun sekali. Inilah Islam yang membumi dan menebar kasih sayang.
2. Manfaat Ekonomi: Menggerakkan Rantai Rezeki
Dari peternak, penjual pakan, jagal, hingga pengecer plastik – semua merasakan efek ekonomi qurban. Ini menunjukkan bahwa ibadah dalam Islam bukan hanya vertikal kepada Allah, tapi juga horizontal: mensejahterakan masyarakat.
Rasulullah Saw bersabda "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
3. Titik Balik Bagi Mudhahi: Melatih Keikhlasan dan Ketaatan
Rasulullah Saw bersabda:
“Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam [manusia] pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya”. (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Perintah qurban ditujukan kepada siapa? Dalam riwayat Ahmad dan Ibnu Majah disebutkan: “Dari Abu Hurairah, “Rasulullah SAW telah bersabda, barangsiapa yang mempunyai kemampuan, tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat salat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Qurban bukan hanya memberi, tapi melucuti kesombongan dan melatih diri untuk ikhlas dalam berkorban. Ini bisa menjadi titik balik spiritual, terutama bagi yang selama ini lalai dalam ibadah.
Kisah Inspiratif: Qurban Penjual Gorengan
Di sebuah desa, ada seorang penjual gorengan yang menyimpan uang sedikit demi sedikit selama setahun. Ia bukan orang kaya. Tapi tiap Idul Adha, ia tak pernah absen berqurban – bahkan harus berhemat besar agar bisa membeli seekor kambing. Ketika ditanya, ia menjawab, “saya tidak punya banyak amal, tapi saya ingin ketika saya mati, saya datang membawa qurban sebagai bukti cinta saya pada Allah.”
Subhanallah, kadang yang paling sederhana justru paling luar biasa di sisi Allah. Kembali ke hadits Abu Hurairah ra. Beliau bertutur, Barangsiapa yang memiliki kelonggaran (rezeki) dan tidak berkurban, maka janganlah mendekati masjidku.
Idul Adha bukan hanya tentang memotong hewan, daging dan pesta. Akan tetapi ada yang lebih urgen dari itu. Yakni memotong, menyingkirkan, men-delete sifat rendah kebinatangan yang ada pada diri kita. Sombong, ujub, menepuk dada dan riya. Hidup bukan sekedar makan tidur dan mati. Melainkan mulai belajar menata hati nurani dan memperbaiki diri, belajar meluaskan dada untuk memaafkan siapa saja yang pernah mendholimi diri. Ia adalah momen menghidupkan ruh pengorbanan, membangun solidaritas, dan mengajak diri kembali jujur pada iman. Momen untuk menjauhi sifat kikir, meninggalkan ego, bahkan menyingkirkan cinta dunia. Momen untuk meluruskan niat, memusatkan arah ibadah, semata-mata hanya ke Hadirat Allah SWT.
Jadikan qurban tahun ini bukan sekadar rutinitas, tapi titik tolak menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah dan lebih peduli terhadap sesama. Lebih pandai merasa, bukan merasa pandai. Akhinya, harapan dan do’a kita haturkan ke hadirat Allah Swt semoga kiranya semua kebaikan yang selama ini kita lakukan, meski jauh dari kata sempuna, berkenan diterima dan mendapat balasan pahala yang berlipat ganda. Aamiin.
Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang Engkau terima ibadah Qurbannya, yang engkau ampuni dosa-dosanya, yang telah Engkau hidupkan qalbu-qalbunya, yang menyambung tali kebajikan di antara mereka. Aamiin yaa rabbal’aalamiin.
Oleh : Syihabuddin Absy