Skip ke Konten

I'TIṢĀM: JALAN MENUJU PERSATUAN, MUFĀRAQAH: JALAN MENUJU KEHANCURAN

(Menghayati Wasiat Pangersa Abah ”wa’tashimu bihablillah”)

I'TIṢĀM: JALAN MENUJU PERSATUAN, MUFĀRAQAH: JALAN MENUJU KEHANCURAN

(Menghayati Wasiat Pangersa Abah ”wa’tashimu bihablillah”)


Abd Latif Hatam

Ketua LDTQN Pontren Suryalaya Korwil DKI Jakarta


Salah satu wasiat terakhir Pangersa Abah Anom yang senantiasa terpatri dalam ingatan para ikhwan adalah firman Allah Swt.:


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ


"Dan berpegang teguhlah kepada tali Allah."


Beliau tidak memberikan penjelasan yang panjang mengenai ayat tersebut. Sebagaimana lazimnya para ahli tasawuf, khususnya seorang mursyid, Pangersa Abah lebih banyak mendidik melalui isyarat daripada uraian yang bertele-tele. Kalimat yang singkat sering kali mengandung makna yang sangat luas, sehingga menuntut murid untuk terus bertafakkur, mentadabburi, dan menggali hikmah yang terkandung di dalamnya. Boleh jadi, justru di situlah letak pendidikan ruhani yang beliau wariskan: membimbing para ikhwan agar

senantiasa kembali kepada Al-Qur'an dan menjadikannya sebagai sumber renungan yang tidak pernah habis.

Atas dasar itulah, dalam tulisan ini saya sengaja tidak membatasi pembahasan hanya pada penggalan ayat وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ  , melainkan mengkajinya dalam konteks yang lebih utuh, yaitu dengan memperhatikan ayat sebelumnya (QS. Ali 'Imran: 102) dan lanjutan ayat sesudahnya. Sebab, setiap ayat Al-Qur'an memiliki keterkaitan makna (munāsabah) yang saling menguatkan. Melalui rangkaian ayat tersebut tampak bahwa perintah berpegang teguh kepada tali Allah bukanlah pesan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari satu bangunan utuh yang dimulai dari ketakwaan, dilanjutkan dengan istiqamah hingga akhir hayat, kemudian diwujudkan dalam i'tiṣām (berpegang teguh kepada tali Allah), dan berbuah pada persatuan serta larangan dari segala bentuk tafarruq (perpecahan). Dengan cara pandang inilah saya mencoba menangkap sebagian makna yang tersirat di balik

wasiat Pangersa Abah Anom.


Allah Swt. berfirman:

......يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ۝ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...." (QS. Ali'Imran [3]: 102–103)

Sepintas, ayat ini hanya tampak sebagai perintah untuk bersatu. Namun jika ditelusuri lebih dalam melalui bahasa Arab, tafsir para ulama, dan pendekatan tasawuf, akan terlihat bahwa Allah sedang menjelaskan proses lahirnya sebuah persatuan, bukan sekadar memerintahkannya. Persatuan tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari hati yang bertakwa, kemudian berpegang teguh kepada Allah, lalu berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

1. Persatuan Selalu Berawal dari Ketakwaan

Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah tidak langsung memerintahkan persatuan. Sebelum berfirman:


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ


Allah terlebih dahulu berfirman:

اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

Kemudian:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Susunan ini menunjukkan bahwa persatuan adalah buah dari ketakwaan, bukan sekadar hasil kesepakatan organisasi.

Orang-orang yang sama-sama bertakwa akan mudah dipersatukan. Sebaliknya, orang yang dikuasai ego, ambisi, dan hawa nafsu akan mudah berpecah sekalipun berada dalam organisasi yang sama.

Karena itu, Al-Qur'an mengajarkan bahwa membangun jamaah harus dimulai dengan membangun hati.

2. Mengapa Allah Memilih Kata اعتصموا?

Kata اعتصموا berasal dari akar kata . ع ص م

Menurut Ibn Faris:

العين والصاد والميم أصلٌ صحيحٌ يدل على إمساكٍ ومنعٍ وحفظٍ

"Huruf 'ain, shad, dan mim menunjukkan satu makna dasar, yaitu menahan, menjaga, dan melindungi."

(Ibn Faris, Maqāyīs al-Lughah, jil. 4, entri ع ص م).

Ar-Raghib al-Ashfahani menambahkan:

اعلصمة الإمس اك والمنع

"‘Iṣmah berarti menjaga, menahan, dan melindungi."


(Ar-Raghib al-Ashfahani, Mufradāt Alfāẓ al-Qur'ān, entri ع ص م).


Dari sini dapat dipahami bahwa i'tiṣām bukan sekadar memegang, tetapi berpegang erat kepada sesuatu yang diyakini sebagai satu-satunya pelindung dan penyelamat.


Orang yang melakukan i'tiṣām sadar bahwa jika pegangan itu dilepas, maka ia akan jatuh ke dalam kebinasaan.


3. Makna Ini Diperkuat oleh Al-Qur'an

Ketika banjir besar melanda, putra Nabi Nuh berkata:

سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ

"Aku akan berlindung ke sebuah gunung yang dapat melindungiku dari air." (QS. Hud: 43)

Namun Nabi Nuh menjawab:


لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللهِ


"Pada hari ini tidak ada satu pun yang dapat melindungi dari ketetapan Allah."

Begitu pula Allah berfirman kepada Rasulullah SAW:


وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

"Allah akan melindungimu dari manusia." (QS. Al-Ma'idah: 67)

Semua penggunaan kata عصم selalu bermuara pada satu makna: perlindungan dan keselamatan.


Karena itu, ketika Allah memerintahkan:

وَاعْتَصِمُوا

maknanya bukan sekadar "berpeganglah", tetapi:

"Jadikan sesuatu itu sebagai benteng keselamatanmu."


4. Mengapa Menggunakan Bentuk اعتصم?

Dalam ilmu sharaf, اعتصم berada pada pola اتفعل , yang umumnya menunjukkan usaha aktif dari pelaku.


Seperti:

• اجتهد : bersungguh-sungguh.

• اجتمع : berkumpul.

• اعتصم : dengan sadar mencari perlindungan dan menggenggam erat.


Artinya, i'tiṣām bukan keadaan pasif, melainkan keputusan sadar untuk menjadikan Allah sebagai tempat bergantung.


5. Apa yang Dimaksud dengan Ḥablullāh?

Setelah memerintahkan اعتصموا , Allah menjelaskan objeknya:


بِحَبْلِ اللهِ


Para ulama memberikan penafsiran yang beragam, tetapi saling melengkapi.


Abdullah bin Mas'ud berkata:


حب ل لله هو القرآن


"Tali Allah adalah Al-Qur'an."


Mujahid berkata:


دي ن لله


"Agama Allah."


Qatadah berkata:


عهد لله


"Perjanjian Allah."


(Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān, tafsir QS. Ali 'Imran: 103).


Sementara Imam al-Baghawi menghimpun seluruh pendapat tersebut, bahkan

menambahkan riwayat:


حب ل لله هو الجم اعة


"Tali Allah adalah jamaah."


(Al-Baghawi, Ma'ālim at-Tanzīl, tafsir QS. Ali 'Imran: 103).


Seluruh penafsiran ini tidak bertentangan.


Al-Qur'an, Islam, janji Allah, dan jamaah merupakan satu kesatuan yang menghubungkan manusia kepada Allah.


Dengan kata lain, ḥablullāh adalah seluruh sarana yang mengikat manusia kepada

Allah.


6. Mengapa Allah Menambahkan Kata جميعًا?

Allah sebenarnya cukup berfirman:


واع تصموا بح بل لله


Namun Allah menambahkan:


جميعًا


Ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif.


Kita diperintahkan bukan hanya berpegang kepada tali Allah, tetapi berpegang bersamasama.


Persatuan bukan tambahan dari agama, melainkan bagian dari agama itu sendiri.


Syekh Abdul Qadri al_Jailani berkata bahwa kata جميعًا tidak hanya berarti berkumpul secara fisik, tetapi juga:


bersatu dalam tujuan, niat, dan orientasi menuju Allah.


Banyak orang berada dalam satu majelis, tetapi hati mereka saling berjauhan.


Sebaliknya, ada orang yang berjauhan tempat tinggalnya, tetapi hati mereka bersatu karena sama-sama menuju Allah.


Persatuan hakiki adalah persatuan hati dalam tauhid dan mahabbah kepada Allah


7. Mengapa Setelah Itu Allah Berkata ولا تفرقوا ?

Setelah memerintahkan semua orang memegang satu tali, Allah langsung berfirman:


وَلَا تَفَرَّقُوا


Ini menunjukkan hubungan sebab-akibat yang sangat logis.


Jika semua memegang satu tali, mereka akan bergerak menuju satu arah.


Sebaliknya, ketika setiap orang mulai memegang "talinya" sendiri—ego, hawa \ nafsu, fanatisme kelompok, atau kepentingan pribadi—maka perpecahan tidak dapat dihindari.


Karena itu, larangan tafarruq merupakan konsekuensi langsung dari perintah i'tiṣām.


8. Tafsir Para Ulama tentang Larangan Tafarruq

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini berarti:


ولا تخ تلفوا في د ين لله


"Jangan berselisih dalam agama Allah."


Beliau mengingatkan bagaimana Islam mempersaudarakan Aus dan Khazraj setelah puluhan tahun bermusuhan.


Imam al-Baghawi menegaskan bahwa larangan ini adalah larangan menempuh jalan-jalan yang menyebabkan perpecahan serta ajakan untuk selalu mengingat nikmat ukhuwah yang telah Allah anugerahkan.


Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa tafarruq mencakup perpecahan akidah,

permusuhan, kebencian, dan semua bentuk sikap yang memutus ukhuwah.


Fakhruddin ar-Razi memberikan analisis yang sangat menarik. Menurut beliau, Allah mendahulukan perintah ا ت عص مو ا sebelum laranga اn ولا تفرق و , karena jika semua orang memegang satu tali yang sama, mereka akan berkumpul dengan sendirinya. Perpecahan bukan disebabkan oleh banyaknya manusia, tetapi oleh banyaknya "tali" yang dipegang manusia.


Syekh Asy-Sya'rawi memberikan ilustrasi yang indah. Seratus orang yang memegang satu tali akan bergerak bersama. Tetapi jika masing-masing memegang tali yang berbeda, mereka akan saling menarik dan merasa dirinya paling benar.


9. Perspektif Tasawuf: Perpecahan Berawal dari Hati

Syekh Abdul Qadir al-Jilani memberikan dimensi batin yang sangat mendalam.


Beliau menjelaskan bahwa larangan tafarruq bukan hanya larangan berpisah secara lahiriah, tetapi juga larangan mengikuti hawa nafsu, membiarkan ego menguasai hati, merasa lebih mulia daripada saudara sendiri, serta memutus ikatan mahabbah karena kepentingan dunia.


Dalam bahasa tasawuf, asal mula perpecahan adalah tafarruq al-qulūb (bercerainya hati), sebelum berubah menjadi tafarruq al-abdān (berpisahnya badan).


Inilah sebabnya mengapa banyak perpecahan organisasi sebenarnya hanyalah akibat. Sebab utamanya adalah hati yang telah lebih dahulu berpisah dari mahabbah, tawadhu', dan keikhlasan.


10. Relevansi bagi Ikhwan TQN

Dalam tradisi TQN Suryalaya, apabila benar bahwa wasiat terakhir Pangersa Abah adalah firman Allah:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ

maka wasiat tersebut bukan sekadar ajakan organisatoris, melainkan panggilan spiritual.


Beliau tidak mewasiatkan kepentingan kelompok, ataupun kepentingan pribadi. Beliau mewasiatkan firman Allah sebagai pusat orientasi seluruh ikhwan.


Karena itu, ketika muncul perbedaan pendapat, kekecewaan, atau gesekan antarpersonal, sikap yang paling sesuai dengan ruh ayat ini adalah kembali kepada tali Allah, memperbaiki hati, bermusyawarah, melakukan ishlah, dan menjaga adab.


Mufāraqah tidak pernah dimulai dari langkah kaki. Ia selalu dimulai dari hati yang perlahan melepaskan tali Allah, lalu menggantinya dengan tali ego, hawa nafsu, atau fanatisme.


Kesimpulan

Merenungkan rangkaian ayat ini, sangat mungkin kita dapat menangkap hikmah mengapa Pangersa Abah Anom memilih firman Allah وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ sebagai salah satu wasiat terakhir beliau. Kita tentu tidak dapat memastikan maksud yang tersimpan di dalam hati beliau. Namun, melihat perjalanan sejarah, terasa bahwa ujian terbesar yang sering dihadapi sebuah jamaah setelah wafatnya seorang guru adalah ujian menjaga persatuan. Sangat mungkin beliau telah melihat bahwa sepeninggal beliau akan muncul berbagai ujian, perbedaan pandangan, bahkan godaan untuk berpisah dari jamaah. Karena itu, beliau tidak mewasiatkan pendapat pribadi, melainkan mengembalikan seluruh ikhwan kepada firman Allah yang bersifat abadi. Seakan-akan beliau sedang berpesan, "Wahai muridmuridku, apa pun yang terjadi setelah aku tiada, tetaplah berpegang teguh kepada tali Allah, tetaplah bersama jamaah, dan janganlah kalian terjatuh ke dalam mufāraqah."


Apabila pemahaman ini benar, maka wasiat tersebut menjadi kompas yang harus selalu kita bawa dalam setiap persoalan. Perbedaan pendapat, argumentasi ilmiah, bahkan pendapat yang disampaikan oleh siapa pun, semestinya selalu kita timbang dengan pertanyaan sederhana namun mendasar: apakah langkah ini semakin menguatkan i'tiṣām dan persatuan, atau justru mengantarkan kepada tafarruq dan mufāraqah? Jika suatu sikap pada akhirnya mendorong kita menjauh dari persatuan yang dibangun di atas tali Allah, maka sudah sepantasnya kita berhenti sejenak, bermuhasabah, dan menimbang kembali langkah tersebut dengan penuh kehati-hatian. Jangan sampai semangat membela sesuatu yang  kita yakini benar justru membuat kita mengabaikan wasiat yang telah ditinggalkan oleh guru yang kita cintai.


Karena itu, marilah kita meluruskan kembali arah perjalanan kita. Mari kita perkuat kembali genggaman kita terhadap tali Allah. Jangan biarkan pegangan itu mengendur, sebab ketika genggaman mulai longgar, saat itulah hawa nafsu, bisikan syaitan, dan berbagai kepentingan dunia mencari celah untuk memisahkan hati-hati yang dahulu dipersatukan oleh Allah. Semoga Allah Swt. senantiasa menjaga kita dalam naungan hidayah-Nya, melindungi kita dari segala bentuk tafarruq dan mufāraqah, meneguhkan langkah kita untuk tetap istiqamah bersama jamaah di atas Al-Qur'an, Sunnah, dan jalan yang telah diwariskan oleh para guru kita. Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.

di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar