Dzikir, Instrumen Kesuksesan Hijrah dalam Kehidupan
Hijrah secara bahasa memiliki beberapa arti. Pertama, meninggalkan sesuatu kepada sesuatu yang lain (ترك الشيء إلى شيء آخر). Kedua, berpindah dari suatu kondisi ke kondisi yang lain (الانتقال من حالة إلى حالة أخرى). Ketiga, meninggalkan dan menjauhi sesuatu (الترك والابتعاد عن الشيء). Keempat, berpindah dari satu tempat ke tempat lain (الانتقال من أرض إلى أرض).
Secara istilah, hijrah terbagi menjadi dua. Pertama, hijrah hissiyyah, yaitu perpindahan dengan tubuh atau secara fisik dari tanah kelahiran, seperti hijrahnya Nabi dan para sahabat ke Madinah. Kedua, hijrah ma’nawiyyah, yaitu perpindahan secara batin atau maknawi, seperti menjauhi maksiat, dosa, dan segala hal yang dilarang Allah Swt. Termasuk juga berpaling menuju Allah dengan sungguh-sungguh mencari cinta-Nya dan mewujudkan penghambaan kepada-Nya.
Hijrah diawali dengan meninggalkan hal yang dilarang Allah Swt. Oleh karena itu, orang yang berhijrah perlu mengetahui apa saja larangan Allah, baik lahir maupun batin. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang yang hijrah ialah siapa yang meninggalkan apa yang dilarang Allah darinya.” (HR. Bukhari).
Hijrah secara lahir dan batin juga ditegaskan di dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad Saw:
وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗوَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
“Siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan. Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai tujuan), sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ [4]: 100).
وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ
“Dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji.” (QS. Al-Muddatstsir [74]: 5).
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin dicapainya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya akan bernilai sebagaimana yang ia niatkan.” (HR. Bukhari).
الْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذُّنُوبَ
“Seorang mukmin adalah orang yang aman dari keburukan (yang ditimbulkan) olehnya, baik dalam harta maupun jiwanya. Dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa.” (HR. Ibnu Majah).
لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ
“Tidak ada hijrah setelah Fathu (Makkah), melainkan jihad dan niat.” (HR. Bukhari).
Pangersa Abah Anom dalam Kuliah Subuh, 11 Muharram 1412 H, menerangkan bahwa hijrah berarti berpindah dari segala yang dilarang atau tidak disukai Allah menuju segala yang diperintahkan dan disukai-Nya: dari malas menjadi rajin, dari salah menjadi benar, dari akhlak buruk menjadi akhlak baik. Dzikir adalah metode yang sangat baik untuk menyukseskan hijrah, karena dengan dzikir segala kebaikan akan terbuka.
Dengan demikian, hijrah menurut Abah Anom tidak terbatas pada perpindahan fisik atau perubahan penampilan lahiriah, tetapi lebih hakiki, yakni meninggalkan yang buruk menuju yang baik, dan senantiasa evaluasi diri dari yang sudah baik menuju lebih baik. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Saw:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang ialah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Hijrah adalah di antara ciri baiknya keislaman seseorang, sebab hijrah mengandung dinamika dan progresivitas untuk selalu lebih baik dari hari ke hari. Nabi Saw bersabda:
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُونٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ
“Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia orang yang beruntung. Siapa yang hari ini sama dengan kemarin, maka dia orang yang merugi. Dan siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, maka dia orang yang celaka.” (HR. Hakim).
Salah satu hikmah dzikir, khususnya amaliyah dzikir TQN Pontren Suryalaya, adalah mengantarkan seseorang meraih kesuksesan dalam hijrah. Sebab kegagalan hijrah umumnya berakar dari ghaflah (lalai) kepada Allah. Abah Anom dalam Miftahus Shudur menegaskan:
المقصود من ذكر الله تعالى أن يجتنب المؤمن الغفلة عنه سبحانه، لأن الغفلة تجرئه على المعصية والذكر يعاونه على تركها
“Tujuan dzikrullah adalah agar mukmin dapat menjauhi lalai kepada Allah, karena lalai akan mendorongnya kepada maksiat, sedangkan dzikir membantu untuk meninggalkan maksiat.”
Macam - Macam Hijrah
Pertama, Hijrah Finansial
Hijrah finansial dilakukan misalnya dengan meninggalkan kebiasaan boros, gaya hidup konsumtif, dan jeratan hutang menuju hidup yang lebih berkah. Dari yang asalnya belanja impulsif, terjebak pinjol atau paylater, malas mencatat keuangan, dan jarang bersedekah, berubah menjadi lebih hemat, mengutamakan kebutuhan, disiplin membuat anggaran, menabung, berinvestasi halal, serta rutin bersedekah dan berwakaf.
Kedua, Hijrah Emosional
Hijrah emosional misalnya bertransformasi dari kondisi mudah marah, cemas berlebihan, mudah tersinggung, menyimpan dendam, hingga merasa murung dan kehilangan motivasi, menuju pribadi yang lebih tenang dan sehat jiwa. Hijrah ini diwujudkan dengan menata kembali niat, melatih kesabaran, mengelola emosi, bertawakal, dan memperbanyak rasa syukur, serta memilih memaafkan dan mendoakan kebaikan orang lain.
Ketiga, Hijrah Sosial
Hijrah sosial berarti meninggalkan sikap meremehkan pasangan, mendidik anak dengan bentakan, cuek pada tetangga, sibuk flexing, hanya fokus pada diri sendiri, dan pasif dalam urusan sosial, menuju pribadi yang lebih peduli dan bermanfaat. Hijrah dengan menghargai pasangan, mendidik anak secara dialogis, peduli tetangga meski dengan berbagi sederhana, membagikan hal yang bermanfaat, aktif bersilaturahim dan berkhidmah, serta hadir dalam kegiatan sosial dengan kepedulian dan berbagi.
Keempat, Hijrah Ekologis
Hijrah ekologis adanya perubahan dari konsumsi plastik berlebihan, buang sampah sembarangan, boros listrik dan air, gaya hidup cuek, menyisakan makanan, serta minim edukasi lingkungan, menuju perilaku hidup ramah lingkungan. Hijrah ini bisa dilakukan dengan meminimalisir plastik, pakai tumbler atau tas kain, memilah dan membuang sampah pada tempatnya, hemat listrik dan air, gunakan produk ramah lingkungan, pakai transportasi umum, hingga mengintegrasikan pendidikan lingkungan dalam kajian, ceramah, khutbah, maupun parenting.
Kelima, Hijrah Fisik
Hijrah fisik berarti beralih dari pola hidup tidak teratur seperti sering makan junk food, begadang, malas olahraga, abai terhadap tubuh, merokok menuju kebiasaan yang lebih sehat. Perubahan fisik bisa diwujudkan dengan mengonsumsi makanan bergizi, tidur cukup, rutin berolahraga, menjaga kebersihan dan kerapian, aktif dalam kegiatan fisik dan sosial, serta meninggalkan rokok dan zat adiktif demi tubuh yang lebih bugar dan berenergi.
Keenam, Hijrah Intelektual
Hijrah intelektual diimplementasikan dengan meninggalkan tontonan kosong, malas membaca, merasa cukup dengan ilmu, menyebar info tanpa kroscek, debat kusir di medsos, dan stagnasi pendidikan menuju budaya belajar yang lebih sehat. Hijrah intelektual dilakukan dengan rutin membaca, memperbanyak konsumsi konten edukatif, semangat ikut kelas dan kajian, berhati-hati sebelum membagikan informasi, berdiskusi dengan adab, serta terus meningkatkan jenjang pendidikan dan mengamalkan ilmu secara nyata.
Ketujuh, Hijrah Spiritual
Hijrah spiritual berarti beralih dari orientasi hidup yang tadinya duniawi menjadi ukhrawi, riya’ menjadi ikhlas, sekadar bekerja dan beraktivitas menjadi bekerja dengan berpegang pada prinsip syariah, shalat fardhu sendirian menjadi berjamaah, dzikir harian yang sering terlewat menjadi rutin dan disiplin, jarang ikut khataman dan manaqiban jadi rutin dan istiqamah, hanya membaca tanbih beralih mulai mengamalkannya, fokus saja pada ibadah ritual menjadi seimbang antara ibadah ritual dan sosial agar lebih berdampak.
Dengan berdzikir, berbagai bentuk hijrah dapat dijalankan dengan baik. Dzikir meneguhkan tekad untuk senantiasa dekat kepada Allah Swt serta berupaya melakukan segala hal yang disukai dan diridai-Nya. Selain itu, dzikir berfungsi membersihkan hambatan batin yang sering menghalangi seseorang untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Sebagaimana diajarkan oleh Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin qs, dzikir merupakan metode utama dalam menyukseskan hijrah sekaligus membuka pintu-pintu kebaikan, baik dalam aspek finansial, emosional, sosial, ekologis, fisik, intelektual, maupun spiritual.
Penulis : Saepuloh (Kabid Kajian dan Literasi Tasawuf LDTQN Jakarta)