Skip ke Konten

Bulan Maulid, Momentum Meneladani Akhlak Rasulullah Saw

Bulan Maulid, Momentum Meneladani Akhlak Rasulullah Saw


Kita saat ini berada di bulan Rabi’ul Awal yang sangat istimewa, bertepatan dengan haul Pangersa Abah Anom dan milad Pontren Suryalaya ke-120. Bulan Rabi’ul Awal disebut juga bulan Maulidur Rasulul Saw atau bulan maulid. Di bulan inilah lahir manusia termulia, Nabi Muhammad Saw, sang pembawa cahaya, penuntun jalan kebenaran, dan rahmat bagi semesta alam. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21:


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ


Sungguh, pada diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.


Ayat ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kelahiran Nabi Muhammad Saw bukan sekadar sejarah, tetapi sebuah cahaya kehidupan yang harus kita ikuti dan kita teladani. Dalam sejarah tertulis, Rasulullah adalah manusia yang paling mulia, berakhlak agung serta mulia. Allah sendiri memuji beliau yang tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Qalam ayat 4:


وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ


Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.


Dalam keseharian, beliau dikenal sebagai orang yang jujur, penyayang, sabar, dan rendah hati. Bahkan sebelum diangkat menjadi rasul, masyarakat Mekkah sudah menjulukinya dengan sebutan Al-Amīn yang artinya orang yang terpercaya.


Dalam hal ibadah, Rasulullah Saw sangat taat. Shalat malam beliau lakukan hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya oleh Aisyah ra., mengapa beliau begitu bersungguh-sungguh dalam ibadah, padahal dosanya sudah diampuni dan imannya dipelihara oleh Allah Swt, beliau menjawab:


أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا


“Tidakkah aku ingin menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur” (HR. Bukhari dan Muslim).


Maka dari itu, ketika kita ingin meneladani Nabi Muhammad Saw, berarti kita harus meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah Swt serta mencintainya dan mengikuti sunah-sunahnya. Meneladani kehidupannya merupakan jalan untuk bersama beliau di surga. Nabi bersabda:


مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ


Siapa yang menghidupkan sunahku, maka sungguh ia mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga. (HR. Tirmidzi)


Semoga kita semua dimampukan oleh Allah Swt untuk dapat meneladani akhlak Baginda Nabi Muhammad Saw dan akhlak para ulama penerus nabi, sehingga kita bisa berakhlak dengan akhlak Allah Swt. Aamiin.


~ H. Ferry Junaedi, S.E ~

di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar