Berpegang Teguh pada Ajaran Guru Mursyid
Berpegang teguh pada ajaran Guru Mursyid, yaitu guru yang membimbing kita menuju Allah dengan ilmu, keteladanan, dan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW.
مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًاࣖ ١٧
Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, karena kecenderungan hatinya untuk mendapat petunjuk maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan-Nya, karena kecenderungan hatinya mengingkari ayat-ayat Allah maka engkau tidak akan mendapatkan seorang Waliyyan Mursyidan (penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya dan membimbingnya kepada jalan yang benar.) Tafsir Wajiz
Landasan Al-Qur’an
a. Wajibnya taat kepada ulil amri (termasuk para ulama & guru mursyid)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَ أُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ...
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa: 59)
Para mufassir menyebut ulil amri mencakup ulama, pemimpin ilmu, dan guru yang membimbing umat.
Wahai orang-orang yang telah mengimani, taatilah oleh kalian Allah dan taatilah oleh kalian itu Rasul dan Uli al-Amri dari kalian. uli artinya yang memiliki/menguasai, al-amr artinya urusan/persoalan/kekuasaan/kewenangan
b. Perintah mengikuti orang-orang yang mendapat petunjuk
وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
“Ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (QS. Luqman: 15)
Guru mursyid adalah orang yang hidupnya penuh rujukan kepada Allah—maka mengikuti bimbingannya adalah jalan keselamatan.
c. Adab terhadap guru
واخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَۚ
“Dan merendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu dari golongan orang-orang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara: 215)
Ayat ini menunjukkan pentingnya adab, tawadhu’, dan menerima bimbingan.
Adab Sebagai Murid Kepada Ulama/Guru dalam Bidayatul Hidayah
Lebih dahulu mengucap salam bila berjumpa, tidak banyak bicara di hadapannya, tidak bicara bila tidak di tanya, bila bertanya izin terlebih dahulu, tidak membandingkan dengan pendapat orang lain karena ketidaksamaan pandangan, tidak memberi petunjuk karena anggapan pendapat si murid adalah lebih benar dari gurunya, tidak bermusyawarah dengan teman duduknya saat dalam majelis, tidak berpaling, duduk dengan tenang dan menunduk, sopan seperti saat sholat, tidak banyak bertanya saat diam, ketika guru berdiri murid ikut berdiri, bila telah berdiri jangan berbicara untuk bertanya, tidak bertanya saat di jalan, tunggu sampai di rumah, tidak berprasangka buruk dengan perbuatan yang tampaknya mungkar karena sebagai guru lebih tahu akan rahasia –rahasianya.
Ingat sabda Nabi Musa AS, untuk Nabi Khidzir AS ‘’Kau rusak perahu apakah akan menghancurkan penumpangnya, Engkau telah berbuat kesalahan besar’’ tetapi Nabi Musa salah duga ketika melihat Nabi Khidzir berbuat mungkar hanya karena Nabi Musa berpegang pada lahirnya saja.
Dalil dari Sunnah Nabi SAW
a. Ulama adalah pewaris para nabi
Rasulullah SAW bersabda:
إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi". (HR. Tirmidzi)
Maka guru mursyid—yang ilmunya sahih dan amalnya bersih—menjadi penerus cahaya kenabian.
b. Siapa yang menunjukkan kebaikan
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, ia mendapatkan pahala seperti pelakunya.”
(HR. Muslim)
Guru mursyid menunjukkan jalan kepada muridnya, maka mengikuti bimbingannya berarti menempuh jalan kebaikan.
Penulis : Hasanuddin