Belajar dari Surah Al Ashr dan Filosofi Waktu
Surah Al Ashr menurut Jumhur Mufassirin merupakan surah Makkiyah. Surah ini turun setelah surah Al Insyirah sebelum surah Al 'Adiyat. Surah yang berarti waktu ini disepakati berjumlah tiga ayat. Surah ini merupakan surah yang ketiga belas dari segi tartib nuzuli (urutan turunnya surah).
Menurut Imam Syafii, jika saja al Quran tidak turun kecuali hanya surah ini, maka hal itu dinilai mencukupi bagi manusia.
لو تدبر الناس هذه السورة لوسعتهم
Imam Syafii berkata: "seandainya manusia merenungkan/mentadabburi surah ini sungguh niscaya (petunjuk-petunjuknya) dapat mencukupi mereka".
Surah ini juga dibaca olah para sahabat Nabi di akhir pertemuan atau sebelum perpisahan. Diriwayatkan dari Abu Hudzaifah, bahwa ada dua orang sahabat Nabi Saw yang jika bertemu keduanya tidak berpisah hingga salah satunya membaca surah Al Ashr baru kemudian mengucapkan salam salah satunya sebelum berpisah.
Dalam Tafsir Al Washit, surah ini mencakup di dalamnya penjelasan siapa yang termasuk kaum yang merugi (Ahlul Khusran) dan siapa kaum yang beruntung (Ahlus Sa'adah). Adapun tema utama surah menurut Tafsir Al Mishbah ialah pentingnya memanfaatkan waktu dan mengisinya dengan aktivitas yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain sebab, jika tidak, kerugian dan kecelakaanlah yang menanti mereka.
Dalam surah tersebut ditegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian yang besar, kecuali melaksanakan empat hal utama yakni beriman, beramal shalih, saling berwasiat tentang kebenaran, dan berwasiat tentang kesabaran.
Nabi Muhammad Saw telah memperingatkan umatnya agar disiplin dalam menggunakan waktu. Waktu adalah modal hidup yang Allah anugerahkan kepada manusia. Cara kita mengelola dan menggunakan waktu akan menentukan apakah kita termasuk hamba Allah yang bersyukur nikmat-Nya tersebut atau tidak.
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ؛ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra, bahwa Nabi Saw bersabda: dua kenikmatan yang banyak orang lalai terhadapnya, sehat dan senggang. (HR. Bukhari)
Dalam Fathul Bari’ dijelaskan, bahwa hadis ini memiliki makna bahwa agar orang yang memiliki kedua nikmat (sehat dan waktu luang) itu bersungguh-sungguh tidak meninggalkan syukur kepada Allah. Bersyukur kepada Allah Swt artinya melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka siapa yang melalaikan dan menyalahgunakan nikmat itu ia termasuk orang yang maghbun (rugi dan tertipu).
Abai terhadap waktu sama dengan mempertaruhkan dunia dan akhirat untuk hal yang sia-sia. Untuk itu Nabi Muhammad Saw sebagai teladan para sufi, mengajarkan agar umatnya mampu memanajemeni waktu dengan baik agar beruntung dan bahagia dunia akhirat.
اغتنم خمسًا قبل خمس، شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل شغلك، وحياتك قبل موتك
Manfaatkan yang lima sebelum yang lima, masa mudamu sebelum (datang) masa tuamu, masa sehatmu sebelum (datang) masa sakitmu, masa kayamu sebelum (datang) masa fakirmu, masa senggangmu sebelum (datang) masa sibukmu, masa hidupmu sebelum (datang) kematianmu. (HR. Hakim)
Untuk memahami bahwa waktu itu adalah hidup kita. Kita bisa belajar filosofi waktu atau the philosopy of time yang dijelaskan Prof. Dr. M. Syafi’i Antonio. Pertama waktu tidak bisa ditahan alias unstoppable. Waktu terus berjalan, walaupun kita sedang tidur. Segala hal masih bisa di stop, tapi tidak untuk waktu. Ia tak pernah berhenti berjalan, waktu tidak bisa dihentikan walau hanya sedetik. Karena itu waktu harus digunakan dengan sebaik-baiknya.
Kedua, waktu tidak bisa diulang atau irreversible. Waktu yang sudah lewat tidak akan pernah bisa kembali. Tidak ada yang bisa menjadi lebih muda, karena umur tidak bisa ditarik kembali walau hanya sehari. Film bisa diulang, tapi waktu tidak bisa. Oleh karenanya, bagaimana kita bisa memanfaatkan yang sekarang, dan bagaimana kita merencanakan ke depan.
Ketiga, waktu tidak bisa diganti atau irreplaceable. Barang yang rusak mungkin abisa diganti, tapi satu-satunya yang tidak bisa diganti adalah waktu. Kalau waktu sudah hilang, ia tak tergantikan.
Keempat, waktu tidak bisa dijual atau untradable. Sekaya apapun orang tidak bisa membeli waktu, semiskin apapun orang tidak bisa menjual waktu. Waktu adalah salah satu bentuk keadilan Allah Swt yang diberikan kepada manusia apapun kondisinya, mulai dari bayi sampai yang tua. Karena tidak bisa dijual atau digadaikan, waktu harus digunakan secara optimal.
Kelima, waktu tidak bisa dipinjamkan atau unborrowable. Karena itu jatah waktu yang diberikan harus benar benar diperhitungkan, dan di sini pentingnya melakukan evaluasi diri terhadap waktu. Apakah waktu yang ada sudah dioptimalkan penggunaannya, apakah sudah tepat, bagaimana agar waktu bisa dimanfaatkan secara efektif dan efisien dan lain sebagainya
Penulis : Ust. Saepuloh