Skip ke Konten

Bahaya Takabur Menurut Pandangan Ulama Sufi

Bahaya Takabur Menurut Pandangan Ulama Sufi


Takabur merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya dalam kehidupan seorang Muslim. Ia tidak selalu tampak dalam bentuk perkataan yang kasar atau sikap merendahkan orang lain. Kadang-kadang takabur justru bersembunyi di balik amal ibadah, ilmu, keturunan, jabatan, kekayaan, bahkan kesalehan seseorang.


Dalam pandangan para ulama tasawuf, takabur bukan sekadar persoalan perilaku lahiriah, tetapi penyakit batin yang membuat seseorang melihat dirinya lebih tinggi daripada orang lain dan sulit menerima kebenaran. Karena itu, membersihkan hati dari takabur menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.


Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa kesombongan dapat menjadi penghalang seseorang untuk melihat kebenaran dan mengenali petunjuk Allah. Pandangan ini menunjukkan bahwa bahaya takabur bukan hanya merusak hubungan antar manusia, tetapi juga dapat merusak hubungan seorang hamba dengan Allah.


Pengertian Takabur


Secara sederhana, takabur berarti merasa diri lebih tinggi, lebih mulia, lebih hebat, atau lebih berhak dibandingkan orang lain. Rasulullah SAW memberikan penjelasan yang sangat penting tentang hakikat kesombongan. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.


Dengan demikian, seseorang belum tentu takabur hanya karena memiliki harta, ilmu, pakaian yang bagus, kedudukan, atau keberhasilan. Yang menjadi persoalan adalah sikap hatinya: apakah semua itu membuatnya bersyukur kepada Allah atau justru membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang lain? Inilah yang perlu diwaspadai.


Takabur dalam Pandangan Ulama Sufi


Para ulama tasawuf banyak memberikan perhatian terhadap penyakit hati karena mereka memandang bahwa amal lahiriah harus disertai kebersihan batin.


Imam al-Ghazali membahas kesombongan sebagai salah satu penyakit hati yang dapat menghalangi manusia dari kebenaran. Seseorang yang merasa dirinya sudah baik dapat kehilangan kemampuan untuk menerima nasihat. Bahkan ilmu dan ibadah yang seharusnya mendekatkannya kepada Allah dapat berubah menjadi sebab munculnya kebanggaan terhadap diri sendiri.


Dalam tradisi tasawuf, lawan dari takabur adalah tawadhu', yaitu merendahkan hati karena Allah tanpa menghinakan diri. Tawadhu' bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki prestasi atau kelebihan. Tawadhu' berarti menyadari bahwa segala kelebihan tersebut pada hakikatnya adalah pemberian Allah.


Seorang yang berilmu berkata dalam hatinya, "Ilmu ini adalah karunia Allah."

Orang yang kaya berkata, "Harta ini adalah amanah Allah."

Orang yang memiliki kedudukan berkata, "Jabatan ini adalah tanggung jawab yang kelak akan dipertanggungjawabkan."


Kesadaran seperti inilah yang menjaga hati dari takabur.


Dalil Al-Qur'an tentang Larangan Takabur

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18).


Ayat ini menunjukkan bahwa kesombongan dapat terlihat dari hubungan sosial: memandang rendah manusia, memalingkan wajah karena merasa lebih tinggi, serta membanggakan diri. Allah tidak menyukai orang yang memiliki sifat tersebut.


Ancaman bagi orang yang sombong

Rasulullah Saw juga bersabda:


        “لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ"


"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji zarrah."


Ketika seorang sahabat bertanya tentang seseorang yang menyukai pakaian dan sandal yang bagus, Nabi Saw menjelaskan bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.


Hadis ini memberikan pelajaran penting: menyukai keindahan tidak sama dengan takabur. Takabur terletak pada sikap hati yang menolak kebenaran dan merendahkan sesama.


Mengapa Takabur Sangat Berbahaya?


1. Takabur menghalangi seseorang menerima kebenaran

Orang yang sombong biasanya merasa dirinya sudah benar. Karena itu, nasihat yang sebenarnya bermanfaat dapat dianggap sebagai penghinaan. Ia sulit berkata:

"Nasihatmu benar."

"Saya keliru."

"Saya perlu belajar lagi."

Padahal kemampuan mengakui kesalahan merupakan tanda kesehatan hati.


2. Takabur membuat seseorang merendahkan orang lain

Orang yang takabur membutuhkan pembanding agar dirinya merasa tinggi. Akibatnya, ia mudah menghina orang miskin, meremehkan orang yang kurang berpendidikan, mengecilkan orang yang berbeda pendapat, atau menganggap dirinya lebih saleh daripada orang lain. Padahal manusia tidak mengetahui kedudukan seseorang di sisi Allah.


3. Takabur dapat merusak amal

Bahaya takabur menjadi lebih besar ketika masuk ke dalam ibadah. Seseorang dapat merasa:

"Aku lebih rajin ibadah daripada dia."

"Aku lebih banyak ilmu agama."

"Aku lebih dekat kepada Allah."

"Aku lebih pantas dihormati."

Perasaan seperti itu dapat mengubah ibadah yang seharusnya melahirkan ketundukan menjadi sumber kebanggaan diri.


4. Takabur dapat menjauhkan manusia dari kasih sayang Allah

Al-Qur'an secara tegas menyatakan bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. Maka seorang salik atau pencari jalan menuju Allah harus selalu waspada terhadap penyakit hati ini.


5. Takabur merupakan jalan yang pernah ditempuh Iblis

Kisah Iblis menjadi pelajaran terbesar tentang bahaya kesombongan. Ketika diperintahkan untuk sujud kepada Adam, Iblis menolak. Ia merasa dirinya lebih baik karena diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah.

Masalah Iblis bukan tidak mengetahui Allah. Ia bahkan mengetahui adanya Allah. Namun kesombongan membuatnya menolak perintah Allah.


Ini merupakan peringatan bahwa seseorang bisa memiliki pengetahuan tetapi tetap tersesat apabila ilmu tersebut tidak melahirkan ketundukan.


Qarun dan Kesombongan karena Kekayaan


Al-Qur'an mengabadikan kisah Qarun sebagai salah satu contoh manusia yang tertipu oleh kekayaan. Qarun memperoleh harta yang sangat banyak. Namun ketika dinasihati agar tidak berlebihan dalam membanggakan diri, ia menjawab:


إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي

"Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku." (QS. Al-Qashash: 78)


Ia menghubungkan keberhasilannya dengan dirinya sendiri, bukan menyadari bahwa semuanya merupakan karunia Allah.

Akhir kisahnya sangat mengerikan. Allah berfirman:

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ

"Maka Kami benamkan dia bersama rumahnya ke dalam bumi." (QS. Al-Qashash: 81).


Kisah Qarun mengajarkan bahwa kekayaan yang tidak disertai syukur dapat berubah menjadi ujian yang menghancurkan.


Tawadhu' Rasulullah Saw

Lawan dari takabur adalah tawadhu'.


Rasulullah Saw merupakan manusia paling mulia, tetapi kemuliaan tersebut tidak membuat beliau hidup dengan kesombongan. Beliau tetap dekat dengan masyarakat, memperhatikan orang-orang lemah, dan tidak menjadikan kedudukan sebagai alasan untuk merendahkan manusia.


Ini memberikan pelajaran bagi seorang Muslim: semakin tinggi kedudukan seseorang, seharusnya semakin besar rasa tanggung jawab dan ketundukannya kepada Allah. Kemuliaan sejati bukan ketika manusia memandang kita tinggi, tetapi ketika hati kita semakin dekat kepada Allah.


Cara Menghilangkan Sifat Takabur


Menghilangkan takabur tidak cukup hanya dengan berkata, "Saya harus rendah hati." Penyakit hati harus dilawan melalui latihan jiwa secara terus-menerus.


1. Mengingat asal-usul manusia

Manusia berasal dari sesuatu yang lemah dan akan kembali menjadi tanah.

Ketika seseorang mengingat asal penciptaannya, ia akan sulit membanggakan diri.

Kita memiliki ilmu karena Allah mengajarkan.

Kita memiliki harta karena Allah memberi.

Kita memiliki kesehatan karena Allah mengizinkan.

Kita memiliki kedudukan karena Allah memberikan kesempatan.

Tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk menyombongkan sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya secara mutlak.


2. Mengingat bahwa semua kelebihan adalah amanah

Ketika memperoleh ilmu, katakan:

"Ini amanah."

Ketika memperoleh kekayaan:

"Ini amanah."

Ketika memperoleh jabatan:

"Ini amanah."

Dengan cara demikian, nikmat tidak berubah menjadi kesombongan.


3. Membiasakan diri menerima nasihat

Salah satu obat takabur adalah belajar mengatakan:

"Saya mungkin salah."

Jangan langsung menolak nasihat hanya karena datang dari orang yang lebih muda, lebih miskin, atau memiliki kedudukan lebih rendah.

Kebenaran tetaplah kebenaran meskipun disampaikan oleh orang yang tidak kita sukai.


4. Menghormati orang lain

Biasakan menghormati semua manusia.

Jangan hanya ramah kepada orang kaya dan pejabat, tetapi kasar kepada orang miskin dan orang kecil. Ukuran akhlak seseorang justru terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak dapat memberikan keuntungan kepadanya.


5. Memperbanyak muhasabah

Setiap malam tanyakan kepada diri sendiri:

• Apakah hari ini saya merendahkan seseorang?

• Apakah saya merasa lebih baik daripada orang lain?

• Apakah saya sulit menerima kritik?

• Apakah saya kecewa ketika tidak dipuji?

• Apakah saya beribadah agar dilihat sebagai orang saleh?

• Apakah saya senang ketika orang lain gagal?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu membuka penyakit hati yang tersembunyi.


6. Memperbanyak mengingat kematian

Kematian meruntuhkan kesombongan.

Apa arti jabatan ketika tubuh telah berada di dalam tanah?

Apa arti kekayaan ketika seseorang telah meninggalkan dunia?

Apa arti pujian manusia ketika seseorang berdiri sendirian di hadapan Allah?

Mengingat kematian membuat hati kembali kepada kenyataan bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah.


7. Bergaul dengan orang-orang yang tawadhu'

Lingkungan sangat memengaruhi hati. Berkumpul dengan orang-orang saleh dan rendah hati dapat membantu seseorang belajar bagaimana menghormati manusia dan mengendalikan ego.


8. Melatih diri melakukan kebaikan yang tidak diketahui manusia

Salah satu latihan yang baik adalah memperbanyak amal tersembunyi.

Bersedekah tanpa diketahui orang.

Mendoakan orang lain tanpa memberitahunya. Membantu seseorang tanpa mengharapkan pujian. Memperbanyak ibadah yang hanya diketahui oleh Allah. Hal ini membantu hati belajar bahwa tujuan amal bukanlah mendapatkan pengakuan manusia.


9. Banyak bersyukur

Takabur mengatakan:

"Saya hebat."

Syukur mengatakan:

"Allah yang memberi saya kemampuan."

Takabur mengatakan:

"Saya berhasil karena saya kuat."

Syukur mengatakan:

"Allah yang memberikan pertolongan."

Perubahan cara pandang ini sangat penting dalam pendidikan jiwa.


Latihan Tawadhu' dalam Kehidupan Sehari-hari


Agar usaha menghilangkan takabur lebih nyata, seseorang dapat membuat latihan sederhana:

Pertama, biasakan mengucapkan terima kasih kepada orang lain.

Kedua, jangan memotong pembicaraan orang.

Ketiga, dengarkan nasihat meskipun berasal dari orang yang lebih muda.

Keempat, hindari menceritakan kelebihan diri secara berlebihan.

Kelima, jangan menjadikan ibadah sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Keenam, ketika dipuji, kembalikan pujian kepada Allah dengan bersyukur.

Ketujuh, ketika melakukan kesalahan, segera akui dan minta maaf.

Kedelapan, doakan orang yang memiliki kelebihan agar Allah memberinya keberkahan.


Takabur adalah penyakit hati yang sangat halus. Ia dapat masuk melalui harta, ilmu, jabatan, keturunan, kecantikan, popularitas, bahkan melalui amal ibadah.


Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya memperbaiki penampilan lahiriah. Ia juga harus terus melakukan perjalanan ke dalam dirinya sendiri: memeriksa niat, membersihkan hati, memperbanyak muhasabah, mengingat kematian, menerima kebenaran, serta belajar menghormati sesama.


Rasulullah Saw telah menjelaskan bahwa inti kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Sedangkan Al-Qur'an mengingatkan agar manusia tidak memalingkan wajah dari orang lain karena kesombongan dan menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.


Maka obat terbesar bagi takabur adalah menyadari posisi kita sebagai hamba.

Kita bukan pemilik mutlak ilmu.

Kita bukan pemilik mutlak harta.

Kita bukan pemilik mutlak kesehatan.

Kita bukan pemilik mutlak kedudukan.

Semuanya adalah titipan Allah.


Imam Al-Ghazali dalam kitabnya yang terkenal, Ihya Ulumiddin menjelaskan beberapa tips untuk menghindarkan diri dari sifat sombong, yaitu:

1. Saat bertemu anak-anak, sebaiknya kita menganggap mereka lebih mulia dari kita. Hal ini disebabkan anak-anak tersebut belum banyak berbuat dosa.

2. Jika menemui orang yang lebih tua, anggaplah mereka lebih mulia dari kita. Hal ini karena mereka telah lebih lama beribadah kepada Allah SWT.

3. Jika bertemu orang alim, anggaplah ia lebih mulia dari kita. Sebab, lebih banyak ilmu yang telah ia pelajari dan ia lebih mengetahui sesuatu dibanding kita.

4. Saat bertemu orang bodoh, tetaplah menganggap ia lebih baik dari kita. Hal itu sebab mereka melakukan dosa dalam keadaan bodoh/jahil, sedangkan kita melakukan dosa dalam keadaan mengetahui.

5. Meski menemui orang yang jahat, tetaplah beranggapan kita tidak lebih mulia. Karena mungkin saja suatu hari ia akan bertobat atas kesalahannya.

6. Bahkan pada orang kafir, yakinilah dalam hati bahwa mereka memiliki kemungkinan untuk mendapat hidayah dari Allah umtuk memeluk islam. Sehingga, terampunilah seluruh dosa mereka sebelumnya.


Semoga Allah membersihkan hati kita dari ujub, riya, takabur, hasad, dan seluruh penyakit hati. Semoga Allah menghiasi hati kita dengan tawadhu', ikhlas, syukur, sabar, dan kasih sayang kepada sesama.


اللهم طهّر قلوبنا من الكبر والعجب والرياء، وزيّنها بالتواضع والإخلاص والتقوى.


"Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub, dan riya, serta hiasilah hati kami dengan tawadhu', keikhlasan, dan ketakwaan."


Penulis: Ustadz Samin Saepudin, S.Pd.I
di dalam Redaksi
Masuk untuk meninggalkan komentar