Abah Anom: Best Practice Ekosufisme dan Sufi Transformatif
Abdul Latif
Ket LDTQN Pontren Suryalaya
KORWIL DKI Jakarta
Dalam sejarah spiritualitas Nusantara, KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin atau Pangersa Abah Anom bukan hanya dikenang sebagai mursyid Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Suryalaya, tetapi juga sebagai best practice ekosufisme. Beliau memandang bumi bukan sekadar tempat tinggal, melainkan amanah Ilahi yang harus dijaga. Dzikir baginya bukan hanya lafaz, melainkan tindakan yang menyuburkan tanah, mengalirkan air, dan menyejukkan udara.
Alam sebagai Ayat-Ayat Allah
Al-Qur’an menegaskan bahwa bumi adalah ruang ayat-ayat-Nya. Allah Swt berfirman dalam QS. Fussilat/41:53:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
Quraish Shihab dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata syahîd dalam ayat ini dapat dipahami dalam dua makna. Pertama, Allah sebagai fa’il atau pelaku yang berarti Maha Menyaksikan seluruh gerak semesta. Kedua, sebagai maf’ul atau objek yang berarti Allah sebagai Maha Disaksikan, sebab ke mana pun pandangan diarahkan, di sana akan tampak ayat-ayat Allah: pada langit, air, pohon, dan diri manusia sendiri. Dengan demikian, menjaga alam berarti juga menjaga cermin tempat Nama-Nya terpantul.
Inilah yang ditangkap pangersa Abah Anom. Beliau melihat sungai sebagai ayat, hutan sebagai ayat, pohon-pohon sebagai ayat. Maka merusak alam berarti mengkhianati ayat Allah, sementara merawatnya adalah dzikir yang hidup.
TANBIH yang Menjelma Kehidupan
Bagi Abah Anom, TANBIH bukanlah sekadar teks peninggalan Abah Sepuh, tetapi napas yang menghidupi setiap langkahnya. Salah satu butirnya berbunyi:
“Buktikanlah kebajikan yang timbul dari kesucian.”
Butir ini beliau wujudkan dalam karya nyata:
• Menghijaukan hulu Sungai Citanduy untuk mencegah erosi.
• Membangun Bendungan Nur Muhammad (1960) yang mengairi 100 hektar sawah dan menghasilkan energi listrik dari kincir air.
• Mengajak ikhwan menanam bambu, pohon keras, dan cengkeh, lalu menggantinya dengan 2000 pohon jati sebagai resapan air.
• Menjadikan lingkungan hijau sebagai benteng sosial-ekologis masyarakat Suryalaya, dan berbagai bukti-bukti lainnya dalam berbagai aspek.
Tindakan-tindakan ini adalah bukti kebajikan dari kesucian hati, sebagaimana TANBIH serukan.
Sufi Transformatif dan Antisipasi Banjir
Abah Anom adalah sufi transformatif. Beliau tidak membiarkan sufisme berhenti pada tasbih dan sajadah, tetapi menyalurkannya menjadi kebijakan ekologis yang konkret. Dengan bendungan, penghijauan, dan pengairan, beliau telah mengantisipasi banjir di masanya. Hutan terjaga, air tertata, sawah subur, masyarakat tenang.
Namun, kini kenyataan berubah. Daya dukung lingkungan melemah, dan banjir kerap melanda kawasan Suryalaya. Apa yang dahulu diantisipasi Abah Anom kini kembali menghantui.
Di sinilah ujian bagi murid-murid beliau. Tugas mereka bukan sekadar mengenang jasa Abah Anom, tetapi melanjutkan misi ekosufisme yang telah dirintis. Menanam kembali pohon, merawat hulu sungai, menghidupkan bendungan, membangun pendeteksi dini banjir, dan ikhtiyar-iktiyar lainnya serta meneguhkan kesadaran ekologis adalah dzikir zaman ini.
Warisan dan Harapan
Atas jasanya, Abah Anom menerima penghargaan Kalpataru (5 Juni 1980) dari Presiden Soeharto. Namun penghargaan tertinggi sesungguhnya adalah kelestarian bumi yang beliau tinggalkan.
Sufisme dalam diri Abah Anom tidak tercerabut dari realitas, tetapi menyatu dengan alam dan masyarakat. Beliau membuktikan bahwa dzikir dapat menyalakan lampu, tasbih dapat mengalirkan air, dan wirid dapat menghijaukan lereng gunung.
Kini, warisan itu menanti penjaga baru. Murid-murid beliau harus menyadari bahwa “bukti kebajikan dari kesucian”tidak cukup berhenti pada doa dan zikir. Ia harus menjelma dalam pohon yang ditanam, sungai yang dijaga, dan banjir yang dicegah.
Seperti ungkapan para sufi:
“Man lam yakun lahu atsarun, lam yakun lahu ḥaḍarun.”
“Barang siapa tidak meninggalkan jejak, maka ia tak akan meninggalkan kehadiran.”
Abah Anom telah meninggalkan jejak yang dalam. Kini murid-muridnya diharapkan menjadikan beliau sebagai pijakan, agar Suryalaya tetap hijau, lestari, dan menjadi pusat rahmat bagi semesta.