Skip ke Konten

Tarikan Pangersa Abah Anom QS Sebagai Jawaban Atas Ucapan...

Tarikan Pangersa Abah Anom QS Sebagai Jawaban Atas Ucapan Salam & Rabithah Muridnya

Pd thn 2007 utk pertama kalinya Haji Agus Syarif Hidayat berkunjung ke Pontren Suryalaya. Dlm rangka mengikuti majelis manaqib bersama rombongan ikhwan Jakarta yg dipimpin oleh Ustadz Haji Handri.

Selesai acara manaqib yg penuh kesan mendalam, Haji Agus bersama ikhwan Jakarta ikut antrian mushafahah kpd Pangersa Abah Anom qs. Ketika itu antrian mushafahah cukup panjang sehingga Haji Agus menjalaninya sambil merekam suasananya menggunakan kamera handycam.

Katika menyorot ke arah madrasah, spontan Haji Agus berkata: “Assalaamu ‘alaikum yaa Wali Allaah.. Abaaah.. Al-Faatihah..!” Sambil di dalam hatinya ia membathin: “Abah, saya Agus dari Bekasi.. Mohon izin.. Saya baru pertama kali ke Suryalaya.. Mohon ridhonya agar bisa bertemu Abah..”

Tiba-tiba seperti ada yg menarik Haji Agus yg masih menyorot kameranya utk melangkah ke depan. Sehingga Haji Agus meninggalkan rombongannya yg masih berada di dalam barisan antrian mushafahah. Haji Agus seperti orang yg terhipnotis berjalan masuk ke dalam dapur madrasah. Padahal Haji Agus belum pernah tahu sama sekali tempat yg didatanginya tsb.

Kepada para ibu yg ada di dapur madrasah, Haji Agus berkata: “Assalaamu ‘alaikum, Bu.. Bu.. Bade ka Abah.. Bade ka Abah.. (Mau ke Abah.. Mau ke Abah..)”

“Wa’alaikum salaam.. Manggaa.. (Silakan..)” Jawab para ibu mempersilakan.

Haji Agus terus melangkah mengikuti tarikan yg membawa dirinya ke ruang makan madrasah. Di ruang makan ini Haji Agus melihat beberapa wakil talqin sedang bercengkerama. Di sini Haji Agus pun dipersilakan oleh Kiai Ali Hanafiah untuk memasuki ruang tengah madrasah. Setelah masuk ruang tengah madrasah lalu diarahkan oleh Pangersa Ummi Hj Yoyoh Sofiyah ke ruang aula madrasah tempat mushafahah Pangersa Abah.

Kemudian Haji Agus langsung duduk bersimpuh di samping kiri Pangersa Abah yg didampingi oleh Pangersa Haji Dudun. Sambil duduk bersimpuh Haji Agus menyampaikan ucapan syukur: “Nuhun Abaaah.. Nuhun Abaaah..”

Kehadiran Haji Agus di samping Pangersa Abah dibiarkan saja oleh para ajudan. Sementara antrian mushafahah masih terus berlangsung, Haji Agus hanya duduk bersimpuh di samping Pangersa Abah. Tiba-tiba Haji Agus merasakan tangannya terangkat naik tapi ia jatuhkan kembali ke pahanya. Lalu tangan kanannya terasa akan bergerak naik lagi tapi segera ditahan & dijatuhkan lagi. Pada kejadian ketiga kalinya ketika tangannya terangkat naik, sebelum ia hentikan tiba-tiba Haji Agus seperti mendengar suara: “Lepaskan saja…”

Sehingga tangan kanan Haji Agus terus bergerak sendiri ke arah jantungnya. Tepat ketika tangan itu memegang dada kirinya maka pecahlah tangisan Haji Agus. Ia menangis sesengukan selama hampir 15 menit tanpa terganggu & diganggu oleh siapa pun. Setelah tangisnya mereda Haji Agus teringat dgn rombongan kawan-kawannya yg masih ada di luar madrasah. Sambil menatap Pangersa Abah, Haji Agus kembali membathin dalam hatinya: “Abah, saya tidak sendirian.. Ada 10 orang kawan saya di luar.. Jika Abah izinkan akan saya ajak ke sini..”

Pangersa Abah terlihat oleh Haji Agus seperti menganggukkan kepalanya. Maka Haji Agus lalu menuju pintu depan madrasah utk menelepon Ustadz Handri. Ketika mengetahui posisi & ajakan Haji Agus, maka Ustadz Handri berkata: “Koq bisa ke situ? Nanti kita gak su’ul adab nih..?”

“Nanti deh saya ceritain.. Insya Allah tadi udah izin kpd Abah..” Jawab Haji Agus singkat.

Kemudian dgn mengikuti jalur masuk Haji Agus, 10 orang kawan-kawannya bisa ikut masuk ke ruang mushafahah Pangersa Abah. Singkat cerita, setelah semua kawan-kawannya sdh bermushafahah, maka giliran Haji Agus tiba utk mencium tangan Pangersa Abah yg mulia. Kesan pengalaman pertama ini tak pernah terlupakan oleh Haji Agus. Bahwa ucapan salamnya & lintasan hatinya dijawab langsung dlm bentuk tarikan ruhani Pangersa Abah. Alhamdulillaah.. Wallaahu a’lam..

Penulis: Ust. H. Andhika Darmawan, ST

di dalam Manqabah
Masuk untuk meninggalkan komentar