
Sekitar thn 2003-2004, Mas Idhan diminta oleh seorang teman sesama alumni kampusnya utk mengantarkannya ke Pontren Suryalaya. Mas Idhan secara spontan berkata: “insya Allah nanti kita berangkat hari Sabtu..” Padahal ketika itu Mas Idhan sedang tdk memiliki uang utk perjalanan ke luar kota.
Pada hari Sabtu Mas Idhan mengikuti weekly meeting seluruh tim marketing di kantornya bersama big boss (orang Korea berdomisili di Australia). Setelah selesai meeting, semua sdh keluar ruangan, Mas Idhan dipanggil oleh big boss. Saat itu big boss mengucapkan terima kasih atas prestasi Mas Idhan sambil memberikan amplop uang sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah.
“Alhamdulillaah..” Kata hati Mas Idhan, “Jadi juga nih berangkat ke Suryalaya..”
Maka pd malam harinya Mas Idhan bersama kawannya berangkat ke Pontren Suryalaya. Mereka tiba pd waktu dini hari menjelang shubuh. Pada malam hari itu kawan Mas Idhan bermimpi jari telunjuknya berdarah lalu jarinya dihisap oleh Pangersa Abah utk menghentikan perdarahannya.
Ketika mushafahah pagi ba’da waktu Isyraq dgn Pangersa Abah Anom qs. Setelah mencium tangan Pangersa Abah, Mas Idhan tdk langsung keluar dari madrasah. Tapi mundur ke belakang duduk bersila sambil memandang Pangersa Abah. Tiba-tiba pandangan Mas Idhan tertuju pd ibu jari kaki Pangersa Abah yg bergerak tanpa henti seperti ketukan dzikir khafi. Gerakan ibu jari kaki Pangersa Abah yg terus menerus itu langsung tembus ke qalbu Mas Idhan. Membuat dirinya jadi bermuhasabah sambil berdzikir khafi. Qalbunya melakukan interospeksi atas segala kesalahan dan kekhilafannya. Subhaanallaah!
Setelah mushafahah dgn Pangersa Abah, lalu Mas Idhan mengantarkan temannya mengikuti prosesi talqin dzikir di Masjid Nurul Asror. Demikian perjalanan Mas Idhan mengantarkan temannya utk mendapatkan talqin dzikir TQN Suryalaya. Walau pun saat ini temannya lebih intens mengamalkan dzikir thariqah lain. Apakah hal itu itu adalah makna mimpi temannya saat datang ke Pontren Suryalaya? Entahlah. Tapi pengalaman “diongkosi” dgn karamah Pangersa Abah, serta gerakan ibu jari Pangersa Abah, menjadi kesan yg tak terlupakan bagi Mas Idhan. Alhamdulillaah.. Wallaahu a’lam..
Penulis: Ust. H. Andhika Darmawan, ST