"Jika sedang belajar amaliyah muncul riya, ujub, atau takabur tidak apa-apa. Seperti anak remaja yang ingin memamerkan baju barunya. Yang penting usahakan amaliyahnya istiqamah. Nanti juga akan berubah menjadi ikhlas dan tekun," demikian wejangan Pangersa Abah Anom pada bulan Rabi'ul Awal 1414 H sebagaimana dirilis LDTQN Pontren Suryalaya.
Dalam wejangan ini, apa yang diungkap oleh Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin qs menjadi pelajaran penting, bahwa dalam bertarekat ada proses yang dilakukan secara bertahap. Ini sejalan dengan karakteristik ajaran Islam yang menerapkan prinsip 'adamul haraj (meniadakan kesukaran) dan at tadrij fit tasyri' (tahapan dalam penentuan hukum syariat).
Kendati riya, ujub, takabbur adalah sifat-sifat yang tercela dan haram untuk dilakukan, namun Pangersa Abah Anom memberikan toleransi bagi murid-muridnya. Beliau tidak lantas melarang sifat buruk tersebut sejak awal sebagai bentuk kebijaksanaan seorang pendidik jiwa. Ini juga menunjukkan kearifan dan kepakaran beliau sebagai Dokter Ruhani yang memahami seluk beluk qalbu dan aneka penyakitnya serta pengobatannya.
Ayat, hadis dan atsar banyak yang mengupas mengenai buruknya sifat-sifat tersebut.
فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ - ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ - ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ
Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,
yang berbuat riya’, [Surat Al-Ma'un: 4-6]
فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا
Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [Surat Al-Kahfi: 110]
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ؟ ". قَالَ : قُلْنَا : بَلَى. فَقَالَ : " الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ ؛ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
Maukah aku sampaikan kepadamu tentang apa yang aku takuti daripada fitnah dajjal?" Sahabat menjawab, "Ya." Lalu Nabi Muhammad Saw bersabda, "Syirik yang tersembunyi, di mana seorang laki-laki menunaikan shalat, lantas ia membaguskan shalatnya ketika dia dilihat oleh orang lain." (HR. Ibnu Majah)
Riya' atau syirik tersembunyi, menurut Imam Ghazali ialah berasal dari motivasi untuk mencari kedudukan, penghormatan di qalbu manusia dengan memperlihatkan amal kebaikannya. Singkatnya, melakukan ketaatan kepada Allah yakni dengan melakukan ibadah dengan memperlihatkan tubuh, bentuk/penampilan, baju/pakaian, ucapan, hingga perbuatan yang ditujukan untuk memperoleh kemuliaan serta kedudukan di qalbu manusia.
Misalnya menampilkan tubuh yang kurus untuk menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh ibadah, sedikit makan, dan sering terjaga di malam hari untuk banyak beribadah, atau memperlihatkan kondisi lesu atau bibir kering agar terkesan banyak berpuasa. Berpakaian layaknya ahli ibadah atau ahli ilmu untuk mencari perhatian publik, atau memberi nasihat keagamaan, banyak mengutip dalil keagamaan dalam percakapan sehari-hari agar terkesan di mata orang lain bahwa ilmunya berlimpah.
Bentuk riya' lainnya, misalnya banyak menggerakkan bibir dengan dzikir di hadapan banyak orang atau memegang tasbih kemana mana, menampakkan kemarahan terhadap kemungkaran, atau menunjukkan wajah sedih dan menyesal terhadap kemaksiatan orang lain. Demikian juga dengan memperlama bacaan, sujud, dan rukuk dan menampakkan ketenangan dan khusyuk saat shalat ketika dilihat orang, namun kembali tergesa-gesa saat tak dilihat, ia bermaksud agar dianggap orang shalih dan ahli ibadah. Aktivitas dan amalnya ditujukan untuk mencari perhatian dan kedudukan di hadapan makhluk.
Selain riya', sifat ujub pun, tak kurang tercelanya dalam agama, kita bisa menemukan banyak ayat maupun hadis terkait sifat tersebut.
ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا
(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. [Surat Al-Kahfi: 104]
ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ، وثَلاثٌ مُنْجِياتٌ، وثَلاثٌ كَفَّارَاتٌ، وثَلاثٌ دَرَجَاتٌ، فَأَمَّا المُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وهَوًى مُتَّبَعٌ، وإِعْجَابُ المَرْءِ بِنفسِهِ
Adapun tiga hal yang membinasakan adalah: kebakhilan yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, dan seseorang membanggakan dirinya sendiri. (HR. Thabrani).
Jika ujub menjangkiti seseorang, maka sifat itu akan banyak membawa petaka, di antaranya jadi lupa terhadap dosa bahkan meremehkannya, dia mengira bahwa dosanya pasti diampuni, sehingga perbuatan dosa dianggap kecil. Dia lupa bahwa amalan yang diperbuatnya merupakan kenikmatan dari Allah berdasar taufiq-Nya, sehingga amalannya sia-sia karena dilakukan bukan dengan keikhlasan.
Orang yang ujub merasa aman dari azab Allah, mengira bahwa dia merupakan hamba Allah yang berhak atas aneka kenikmatan, sehingga memuji dirinya sendiri. Enggan mencari ilmu (istifadah), malas bermusyawarah dan enggan bertanya pada yang lebih berilmu darinya, tidak senang menerima nasihat, bahkan cenderung menganggap orang lain itu bodoh. Dan ujub ini akan melahirkan sifat kibr/takabbur, yang juga banyak dicela dalam al Quran, hadis serta banyak membawa mudarat, seperti berikut ini:
كَذَٰلِكَ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٖ جَبَّارٖ
Demikianlah Allah mengunci hati setiap orang yang sombong dan berlaku sewenang-wenang. [Surat Ghafir: 35]
سَأَصۡرِفُ عَنۡ ءَايَٰتِيَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ
Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. [Surat Al-A'raf: 146]
إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡتَكۡبِرِينَ
Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong. [Surat An-Nahl: 23]
وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ
Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan. (HR. Muslim)
Menurut Abah Anom, sifat riya, ujub, takabur yang berpotensi muncul saat menjalankan amaliyah, baik itu dzikir harian, dzikir khataman, maupun manaqiban dan perilaku pengamalan tanbih, diibaratkan anak remaja yang ingin memamerkan baju barunya. Anak remaja dinilai wajar suka pamer karena sedang tahap perkembangan dalam pembentukan identitas diri, penerimaan sosial, dan perkembangan harga diri. Demikian juga ketika dia masih belajar mengamalkan amaliyahnya, maka posisi nya seperti anak remaja yang belum matang dan dewasa, karena itu wajar jika masih banyak ditolerir.
Karena yang penting bagi anak remaja itu ialah terus berupaya istiqamah dalam amaliyahnya. Sehingga, kata Pangersa Abah Anom, nanti juga akan berubah menjadi ikhlas dan tekun. Optimisme Abah terhadap murid-muridnya, bukan tanpa alasan. Ketika istiqamah dilakukan, amaliyah TQN Pontren Suryalaya memang sudah teruji dan terbukti bisa menghilangkan sifat-sifat tercela tersebut. Ini ditegaskan beliau dalam Kitab Miftahus Shudur Pasal Pertama.
وهذه الكلمة الطيبة كما تطهر الذاكر عن الشرك الجلي تطهره أيضا عن الشرك الخفي وتجعله خالصا مخلصا
Dzikir kalimat thayyibah (Laa ilaha illa Allah) bisa menyucikan orang yang berdzikir dari syirik khafiy (samar) sebagaimana kalimat dzikir itu juga membersihkan syirik jaliy (nyata), serta menjadikan pengamal dzikir itu tulus dan ikhlas.
Toleransi atas munculnya riya, ujub, dan takabur, pertama karena tabiat manusia bisa jadi sulit untuk menghindari munculnya sifat-sifat tercela tersebut karena kelalaiannya dari dzikrullah. Kedua, sifat buruk itu tentu memiliki tingkatan-tingkatan, dan toleransi dari Pangersa Abah Anom itu bukan ditujukan bagi mereka yang telah menyandang sifat tersebut pada tingkatan tertinggi. Karena itu larangan yang disebutkan Al Quran bukanlah jangan lalai sama sekali, karena lalai dalam berdzikir dan mengingat-Nya sesuatu yang sulit dihindari terlebih bagi mereka yang belum terlatih dawam hudhur al qalbi bi dzikrillah (istiqamah berdzikir). Allah Swt berfirman,
وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. [Surat Al-A'raf: 205]
Dalam Tafsir Al Misbah disebutkan bahwa seseorang yang masuk ke kelompok tertentu menunjukkan bahwa sifat, keahlian, dan keterlibatannya dalam kegiatan yang ditekuni kelompok tersebut amat mantap. Karena, biasanya seseorang tidak dimasukkan dalam satu kelompok kecuali setelah memenuhi kriteria tertentu dan setelah melalui seleksi. Jika seseorang termasuk kelompok orang-orang yang lalai, itu berarti kelalaiannya telah mencapai tahap yang sangat jauh. Ini berbeda dengan seseorang yang baru dinilai lalai.
Penggunaan redaksi "janganlah engkau termasuk kelompok orang-orang yang lalai” memberi toleransi kepada setiap orang bila mana dalam perjalanan hidupnya terdapat kelalaian selama kelalaiannya itu tidak berlarut.
Dengan kalimat lain, jika tidak tersemat padanya sebagai orang yang riya, ujub, dan sombong karena sifatnya yang telah melekat kuat dan terus menerus, maka ia dapat ditoleransi. Karena, selama ia terus istiqamah mengamalkan amaliyah, pada gilirannya ia jadi ikhlas dan tekun, sebagaimana dipaparkan sebelumnya. Dan ketiga, amaliyah yang diamalkan itu pada hakikatnya adalah bagian dari proses pengobatan aneka penyakit qalbu. Jika Pangersa Abah adalah dokternya, maka yang mengamalkan amaliyah bisa dikatakan adalah pasiennya. Pasien tidaklah dilarang untuk sakit, yang dilarang ialah enggan berobat dan menjalani pengobatan karena bisa terjangkit sakit selamanya. Wallahu A’lam.
-Ust. Saepuloh-