Kedahsyatan Kitab Miftahus Shudur Karya Gemilang
Pangersa Abah Anom

Suatu ketika Pak Guru Dato’ Haji Zuki asy-Syuja’ bertemu dgn Prof Dr Utsman Muhammadi seorang guru besar universitas ternama di Malaysia. Ketika itu Pak Profesor menyampaikan sebuah kritik tentang kitab Miftahus Shudur.
Ia menyatakan bahwa kitab tipis yg ditulis oleh Pangersa Abah Anom qs itu terasa kurang berbobot. Lalu ia menyarankan agar langsung saja merujuk pada kitab Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq karya Tuan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani qs.
Mendengar ucapan Pak Profesor itu lalu Pak Guru balik bertanya: “Kurang berbobot dari segi apanya?” “Ya dari segi materinya, di sini banyak nukilan dari kitab-kitab tasawuf lainnya, kenapa tidak langsung saja mempelajari kitabnya Syaikh Abdul Qadir?” Jawab Pak Profesor.
Sebenarnya Pak Guru merasa marah ada orang yg meragukan kualitas kitab Miftahus Shudur. Tapi sambil berusaha sabar menahan marah, Pak Guru berkata: “Ya mungkin ini kitab ditujukan bagi orang yg baru belajar seperti saya yg baru tingkat mubtadi.”
Namun Pak Profesor ternyata semakin serius menyampaikan kritiknya: “Dan dilihat dari dalil-dalilnya, di sini dalilnya banyak diambil dari hadits yg tidak shahih.”
Pak Guru sdh tidak tahan lagi krn kitab karya Pangersa Abah, guru mursyid yg dicintainya, terus dikritik oleh Pak Profesor. Maka Pak Guru berkata dgn tegas: “Jangan dilihat dari tipisnya! Lihat manfaatnya & siapa yg menulisnya? Abah Anom seorang wali mursyid yg kamil mukammil! Jangankan Abah Anom, ini kitab kalau tidak manfaat utk umat tentu sdh hancur dari dulu.
Dan kalau bukan seorang waliyullah yg ikhlas menulisnya maka kitab ini bisa hangus terbakar!”
Lalu Pak Guru mengambil korek api dan mulai membakar ujung kitab Miftahus Shudur. Pak Guru sampai lima kali membolak-balik kitab Miftahus Shudur pd jilatan api yg menyala dlm waktu yg cukup lama.
Subhaanallaah! Ternyata tidak ada selembar pun kitab Miftahus Shudur yg hangus terbakar. Kemudian agar bisa terus membuktikan kualitas kitab Miftahus Shudur maka Pak Guru berkata: “Apa perlu kitab ini kita rendam di laut? Sebelum direndam ke laut, bawakan ke sini air satu ember!
Saya yakin kitab ini tidak akan basah sedikit pun, ini kitab yg nulis wali mursyid, bukan sembarangan!”
Menyaksikan kejadian itu Pak Profesor merasa takjub & segera menyadari kekhilafannya.
Maka Pak Profesor segera memohon maaf kepada Pak Guru krn telah meragukan kualitas kitab Miftahus Shudur. Demikianlah kedahsyatan kitab Miftahus Shudur karya gemilang Pangersa Abah Anom qs. Alhamdulillaah..
Wallaahu a’lam.. (Disunting oleh Alfaqir dari tulisan Ustadz Muhammad Qodar Syahidin yg mendengar langsung dari Pak Guru Dato’ Haji Zuki asy-Syuja’)
Penulis: Ust. H. Andhika Darmawan, ST